
Sejak kejadian di senggol kuli angkut. Nandang tidak mau melepas tangan Naila lagi. Mereka persis pengantin baru atau padangan berpacaran yang baru jadian.
Jangan tanya bagaimana senangnya Nandang. Bukankan ini adalah impian terpendamnya. Ia juga harus rela kehilangan kesempatan untuk bebersih 4 rumah di komplek mami Onel, demi mengantar Naila ke kampus juga menemani gadis itu impiannya berbelanja.
"Kak... Kita sudah dekat parkiran. Tangan Nai boleh di lepas?" tanya Naila membuat Nandang tersipu.
"Eh... maaf ke enakan Nai." Jawab Nandang melepas tangan empuk itu.
Keduanyapun menikmati hangat matahari yang berangsur memanas. Vitaminnya sudah berangsur hilang, berganti terik panas yang kejam. Tapi tidak dengan suasana hati kedua insan yang di landa kasmaran tanpa pengakuan juga tanpa kesepakatan itu.
Tangan Naila sudah sejak awal jalan di tarik Nandang melingkari perut sixpacknya. Ada yang bergetar di relung hati keduanya, dan mereka sangat menikmati akan hal itu.
Berkhianatkah Naila kini? Berhasilkah Nandang merebut hati gadis yang sejak awal memang ia impikan menjadi miliknya. Nandang hanya berani berandai dan membawa nama Naila selalu dalam doanya.
Mereka sampai di rumah, dan Andini sudah tak ada di rumah. Ada Entin yang menemani emak, ada Euis yang berkutat dengan pakaian laundrynya.
"Nai... kak Nam pamit ke komplek ya. Selamat memasak. Yang banyak ya, karena pulang kerja nanti kak Nan pasti lapar dan banyak makan." Pamit Nandang sudah kaya sama istri saja.
"Kakak lama?"
"Hm... tergantung banyak atau ga yang di bersihkan. Mungkin 2 jam."
"Nai tunggu kak Nan aja ya makannya, biar ada temennya. Ga seru makan sendiri."
"Yakin... ga laper?"
"Tahan lah."
"Kak Nan usahain cepet deh. Tapi kalo sampe jam 1 kak Nan belum datang, Nai makan aja. Bareng Euis, Entin sama emak. Nanti kena sakit maag. Kak Nan ga berani tanggung jawab pas pak Bagus datang putrinya sakit."
"Ya... ga segitu juga kali kak." Nandang pun mendusel pucuk kepala Naila lalu beranjak pergi dan sebelumnya ke kamar emak untuk pamit. Mencium kening wanita yang telah melahirkannya tersebut penuh hormat.
"Tumben siang Ndang...? Ada kuliah?" tanya mami Onel pada Nandang yang sudah tinggi hari datang ke komplek.
"Iya mi... ada kegiatan sedikit di kampus." Jawab Nandang patuh.
"Oh.. iya Ndang. Bulan depan bebersih rumah di stop dulu boleh?"
__ADS_1
"Kenapa mi?"
"Itu keponakan bang Karman kasihan perlu pekerjaan. Dan mami tawarkan saja bebersih rumah seperti kamu. Ga papa?"
"Alhamdulilah. Tadinya Nan bingung mau ijin bagaimana. Soalnya dua bulan ke depan Nan KKN di desa. Bakalan ga bisa ke sini. Antar jemput pakaian juga terpaksa Ndin." jelas Nandang lega.
"Ya cocok kalo gitu. Ga papa kan pemasukanmu berkurang. Yang penting laundry lancar."
"Siip lah. Ndang kerja dulu ya mi." ujar Nandang berjalan meninggalkan mami Onel yang memang hanya terlihat garang di awal tapi kesininya selalu berusaha melindungi Nandang.
Tak pernah sekalipun Onel membiarkan Nandang di goda oleh para pekerja komersil di sana. Termasuk Noni. Berbagai bentuk larargan dan ancaman yang di layangkannya untuk Noni. Agar tidak merusak masa depan anak asuh kesayangannya itu.
Mami Onel tidak berharap banyak dari Nandang. Hanya meminta, agar Nandang setia padanya hingga ia tutup usia. Agar kelak Nandang memperlakukan jenazahnya dengan baik baik. Ia tak memiliki suami, apalagi anak. Keluarga pun sudah tak ingin mengenalnya setelah tau pekerjaannya sebagai mucikari.
Bagi mereka itu perkerjaan hina dan haram. Merekapun tak sudi lagi menerima bentuk bantuan dalam bentuk apapun yang di berikan oleh mami Onel.
Maka Nandang dan keluarganya lah bagi Onel yang bisa ia anggap seperti keluarganya sendiri. Sebab Puspa berhati bersih, tak pernah menghakimi pekerjaannya. Dan menurun sikap itu menurun pada anak anaknya, yang selalu hormat dan sopan padanya.
Belum pukul 1 Nandang sudah berada di rumah. kedatangannya bersamaan dengan Andini dari kampus. Meja makan sudah siap tersaji berbagai menu makanan.
Ayam teriyaki ala Naila lengkap ada taburan wijen juga rebusan brokoli hijau dan wortelnya. Sangat menggugah selera.
"Belum... nunggu kalian saja. Biar seru makannya sama sama." Jawab Naila menyiapkan piring untuk mereka bertiga.
Nandang baru keluar dari kamar emak. Rupanya emak sudah tertidur. Dan Entin sudah pulang setelah emak terlelap. Sama seperti Euis, mungkin lelah, setelah mencuci tadi, ia segera makan lalu pergi tidur untuk menyiapkan tenaganya menyetrika sore nanti.
Piring mereka sudah terbuka di depan masing masing. Nandang mendapat kesempatan untuk memgambil nasi dan lauknya, seperti kepala keluarga.
Tiba giliran Naila yang mengambil nasi, namun saat centongan yang kedua. Buru buru Nandang menahannya.
"Nasinya satu sendok dulu. Banyakin lauk dan sayurnya. Kalo belum kenyang tambah lauknya lagi sampai kenyang." Ujar Nandang lembut. Naila tidak marah, hanya menyampir senyum pada lelaki yang baginya perhatian itu.
Andini menatap aneh pemandangan itu, merasa ada sesuatu yang tertinggal ia ketahui dari kakak dan sahabatnya itu.
Belum selesai Andini terkesima dengan perhatian kakaknya, ia kembali terperangah saat Nandang kembali memperhatikan sahabatnya.
"Sebelum makan biasakan minum dulu, supaya perutnya penuh duluan." Nandang langsung menyodorkan segelas air putih ke dekat Naila.
__ADS_1
"Oke... oke. Makasih Kak." Jawab Naila langsung meyeruput segelas air itu hingga tandas.
Mereka pun menikmati makanan dengan lahap. Sesekali Nandang menambahkan lauk ke piring Andini juga Naila agar tidak terjadi kecemburuan dan curiga berkepanjangan. Sehingga Andini memang tak sempat protes. Walau agak mengganjal.
"Masakan mu enak Nai." Puji Nandang kaku.
"Sudah Nai bilang, Nai hobby makan jadi harus bisa masak kan." Kekehnya.
"An... nanti sore kamu kemana?"
"Kemana lagi kalau bukan ke meja setrika bersama Euis." Jawab Andini datar.
"Heeem..."
"Kenapa Nai?"
"Ada buku yang tertinggal di rumah. Apa aku boleh meminjam motormu untuk pulang mengambilnya."
"Apa kamu berani melanggar aturan orang tuamu yang tidak mengijinkanmu pake motor kemana mana sendiri?" Andini balik bertanya pada Naila.
"Ga sih." Jawabnya.
"Ya sudah nanti kak Nan aja yang antar. Kakak sudah ke komplek hari ini?" tanya Andini memastikan.
"Sudah. Dan mulai bulan depan kakak tidak lagi kerja itu di sana."
"Kenapa?"
"Ada keponakan bang Karman yang mau bekerja di sana."
"Kakak ga papa?" tanya Andini.
"Malah Alhamdulilah Ndin. Kan bulan depan kakak KKN. Bakalan terbengkalai kerjaan di sana kalau hanya kakak yang kerja di sana." Jawab Nandang.
"Hm... paling nanti pulang KKN kakak bakalan di panggil lagi sama mami Onel buat bebersih."
"Ga tau... kalo ga. Berarti rejeki kakak tidak di situ lagi."
__ADS_1
"Iya juga. Tapi, nanti sore antarkan Naila ya kak."
Bersambung...