
Tak terasa 6 pekan sudah Nandang berada di desa tempat mereka melakukan kegiatan KKN dan hanya dia dan Dita yang belum sama sekali mengambil jatah untuk libur pulang ke tempat asal mereka masing-masing. Maka pada Minggu ke enam itu, akhirnya Nandang meninggalkan desa tersebut untuk pulang kembali ke rumahnya.
Dita seolah-olah pulang untuk mengambil jatah liburnya. Padahal dia hanya diculik oleh Pak Akbar untuk menginap di desa sebelah, pada sebuah penginapan.
Libur tiga hari, tentu saja cukup bagi mereka untuk merengguk kebahagiaan selayaknya suami istri seperti yang seharusnya. Juga, kini kandungan Dita sudah memasuki usia 3 bulan. Tentu saja usia tersebut sudah mulai kuat, sebab telah melewati masa trimester pertama. Anggap saja mereka sedang berbulan madu, walau hanya di sebuah penginapan kelas melati.
Untuk mengelabui teman-teman di penampungan, Nandang dan Dita meminta tumpangan pada pak Akbar. Nandang dan Dita ikut dalam mobil pak Akbar yang saar itu akan bertolak pulang setelah mengawas dan membimbing mereka dengan alasan akan mencari taksi ke terminal, karena tidak memiliki transportasi yang bisa menunjang mereka untuk pulang ke Bandung, tidak seperti lainnya yang memiliki teman dan juga saudara yang mau mengantar dan menjemput mereka keluar dari desa itu.
Nandang sengaja tidak memberikan kabar bahwa dia akan pulang kepada Andini. Tiba-tiba saja dia bagai hantu, sudah muncul di depan pintu. Tentu saja Andini berteriak karena Nandang pulang nggak bilang-bilang.
"Kak Nan... sudah selesai KKN-nya?" tanya Andini masih takjub.
"Belum, ini baru 6 minggu Ndin, kan kami 2 bulan KKN-nya." Jawab Nandang menurunkan tas dan bawaan lainnya. Segera ke dapur untuk mencuci tangannya.
"Oh... terus kenapa kakak pulang?" Andini terus mengekor di belakang Nandang. Penasaran dengan keseruan kisah sang kakak selama di desa
"Memang selalu ada jatah libur untuk kami, hanya kakak terlalu sibuk di sana. Juga kebetulan dipercaya menjadi ketua kelompok. Jadi kakak harus memastikan keadaan aman dan tidak bisa meninggalkan begitu saja tugas tanggung jawab yang di bebankan pada kakak." Jelas Nandang membuka tudung saji di meja makan mereka.
"Kak sekarang emak sudah makin sehat, ia makin sering membuat roti seperti biasanya dan juga bicaranya juga sudah mulai sangat nyambung, sepertinya kita sudah tidak perlu mempekerjakan Entin lagi. Emak juga sudah mulai rajin ke dapur memasak dan juga kursi rodanya sudah hampir tak pernah dipakai lagi karena sudah mulai kuat beraktivitas. Hanya mencuci pakaian yang tidak ia lakukan. Karena tempatnya di atas. Emak ga berani naik." Papar Andini semangat.
"Allhamdulillah ya Allah, artinya perjuangan pengobatan kita selama ini tidak sia-sia ya, Ndin." Ungkap Nandang sungguh sungguh.
"Iya. Sepertinya begitu." Jawab Andini senang.
"Sekarang emak kemana? kakak tengok di kamar ga ada." Ujar Nandang lagi, sebelum mulai berdoa untuk memulai makannya.
"Jalan jalan, di ajak ayah Naila." jawab Andini kepada Nandang yang sudah mulai menikmati makanan yang ada di meja makan itu.
Nandang sok cuek mengunyah makanan yang tengah dimakannya tersebut, tetapi sedikit terusik dengan makanan yang sedang dikunyah nya tersebut. Sebab terasa berbeda dari masakan yang biasa ia makan di rumahnya.
"Ini masakan siapa Ndin?" tanya Nandang pada adiknya itu.
__ADS_1
"Ayo tebak masakan siapa?" Andini berteka-teki dengan kakaknya.
"Sepertinya bukan masakan kamu, tapi juga bukan masakan emak." Jawab Nandang menganalisa makanan yang sedang di berada dalam rongga mulutnya itu.
"Tebak dong kak..."
"Tak tahulah, tapi masa Euis yang masak?" Nandang sedikit bingung tak dapat menebak masakan siapa yang sedang di lahapnya tersebut.
"Itu masakan calon istri kak Nan." goda Andini pada Nandang.
"Calon istri Kakak?" Beo Nandang agak bingung dan salah tingkah.
"Siapa...?" Nandang sedikit mendelik ke arah Nandi merasa bingung sendiri.
"Siapa lagi kalau bukan Nai, temennya Andini sekaligus idolanya kak Nan." Mulut Andini tanpa filter, sekehendak jidatnya menyebut Naila adalah calon istri kakaknya. Membuat hidung Nandang kembang kempis, detak jantung Nandang pun berhenti beberapa detik, agak terkejut ia mendengar nama itu diucapkan oleh Andini.
"Kalau ngomong jangan asal ya..." Nandang berusaha bersikap sedatar mungkin seolah tak ada badai yang bergemuruh meronta-ronta di dalam dadanya karena merasa kesenangan. "Sudahlah kak, tidak usah malu. Ndin tahu kok kalau di antara kak Nan dan Nai, ada sesuatu. Ya kan Kak?" pancing Andini ke arah Nandang. "Sesuatu bagaimana?" tanya Nandang pada Andini.
"Kamu... kecil-kecil udah pintar ngeledek kakak ya?"
"Siapa yang ngeledek, benarkan kakak suka sama Nayla?"
"Kata siapa ?"
"Ya kataku sendiri... ayo, kakak ngaku. Kakak sering kan ajak Nai jalan-jalan malam saat Nai menginap di rumah kita?" akhirnya Nayla pun punya kesempatan untuk menginterogasi Kakaknya sendiri.
"Iya benar. Kakak memang sering jalan malam dan berdua-duaan dengan Nayla selama dia ditinggal umroh kedua orang tuanya.
"Nah tuh kan, kakak ngaku kalau Kakak suka dia."
"Eh Ndin, pertanyaannya kok digituin? ngajak jalan sama suka itu beda loh..."
__ADS_1
"Iya sama kali kak..., kalau kakak nggak suka kenapa selalu diulang-ulang jalan-jalannya. Tapi Ndin rasa cinta kakak sih enggak bertepuk sebelah tangan. Buktinya Nai juga terlihat suka sama Kakak."
"Masa....?"
"Coba aja Kakak pikir, ngapain dia suka ke sini kalau nggak suka sama kakak."
"Iya kan dia temanmu."
"Tapi buktinya saat kak Nan nggak ada. Dia tetal suka main ke rumah."
"Ya kan dia temanmu."
"Tapi selama Kakak nggak ada, dia tetap tidur di kamar Kakak."
"Ya iyalah, masa tidurnya sama Emak san kamu. Sesak dong. Kalau tidurnya harus bertiga."
" Ya nggak gitu kak, agak beda." Andini tiba-tiba saja berkeras mengatakan jika Naila juga menyimpan rasa pada kakaknya tersebut.
"Kak Nai kan udah putus tuh sama Heru, jadi saran Ndin mending Kakak buruan deh nembak si Nai. Kalau nggak sekarang, Kakak bakalan nyesel soalnya Nayla sekarang..." Andini tidak menyelesaikan kata katanya. "Kenapa?"
"nggak jadi deh Kak, nanti aja mungkin Ndin salah kalau bilang duluan ke Kakak."
"Ada apa sih Ndin?"
"Ga... ga pokoknya nanti aja. Tunggu dia aja."
"Apa sih?"
"Ga pokoknya nanti aja. Pesen Ndin ya..., kalau Kakak suka dia Kakak buruan bilang deh sama dia dan yang pasti Andini yakin kalau Nayla juga menyimpan rasa yang sama alias nggak jauh beda sama perasaan yang kakak miliki, mau taruhan Kak? tantang Andini pada kakaknya tersebut.
Bersambung...
__ADS_1