PEJUANG NIP

PEJUANG NIP
BAB 76 : VULKANISIR BAN


__ADS_3

Kendaraan memang berlalu lalang, mendahului Nandang. tetapi tak ada satupun yang singgah untuk sekedar menanyakan apa masalahnya. Semua tampak acuh saja, sibuk dengan kepentingannya sendiri-sendiri. Nandang putus asa, sambil terus menyusuri tepian jalan yang sepi. Tentu saja sepi, waktu itu sudah dini hari. Mana ada bengkel atau tempat orang menambal ban yang buka di tengah malam buta seperti waktu itu.


Cuaca dingin, bahkan menusuk ke tulang. Nandang berangkat selepas magrib. Bahkan melewatkan sembahyang Isyanya hari itu. Pergi pamit ke rumah Naila, namun malah melenceng ke mami Onel. Bahkanmasih belum berniat pulang ke rumah. Mungkin itu hukuman dari Tuhan untuknya. Yang mulai memiliki pemikiran sempit, terlalu menganggap dirinya benar.


Nandang memicingkan matanya setelah hampir 45 menit berjalan, mengiring sepeda motornya. Dengan langkah yang sudah mulai terseok-seok, kelelahan. Ada bangunan kecil agak menjulur ke arah depan jalan. Seperti warung, dan tampak terang di sana. Walau hanya pijaran kecil, namun terlihat di duduki beberapa orang di tempat itu.


Nandang mempercepat langkahnya, menarik motor di sebelah kanannya. Berharap, orang yang berada di sana dapat membantunya. Setidaknya, ia bisa sekedar duduk berbicara untuk sementara melepas lelah penatnya sebentar. Untuk kemudian melanjutkan perjalannnya untuk pulang atau mencari bengkel terdekat.


Mata Nandang hampir keluar saat membaca tulisan 'VULKANISIR BAN' pada sebuah ban bekas yang sengaja di letakkan di bagian paling depan bangunan itu. Nandang mengucek matanya, untuk memastikan jika itu nyata. Nandang manrik nafas dalam, mengucap kata Alhamdulilah, dalam hatinya. Setelah melihat sungguh kaki beberapa orang di sana menyentuh tanah. Ia semakin yakin jika itu bukan lah segerombolan hantu yang hanya ada dalam imajinasinya sendiri.


"Assalamualikum." Sapa Nandang tidak peduli jika orang di sana menganut agama dan kepercayaan yang sama atau tidak dengannya.


“Walaikumsallam.” Jawab seorang pria yang kebetulam akan berdiri dari posisi duduknya.


“Wah… rejeki datang lagi nih, bang.” Ujarnya menunjuk ban sepeda motor Nandang yang sudah tertempel dengan pelang, saking taka da udara di dalamnya.


“Alhamdulilah…” Jawab lelaki yang baru saja menerima selembar uang merah Soekarno Hatta dari orang yang berdiri tadi.


“Ini kembaliannya pak.”Ujar lelaki yang sepertinya pemilik bengkel tambalban itu.


“Tidak usah pak, ambil saja kembaliannya.Tertolong di jam segini bagi saya sudah seperti bertemu mailaikat.” Ungkap pria tadi siap akan meninggalkan tempat tambal ban itu.


“Wah… terima kasih ya pak. Semoga rejekinya lancar.” Doa sang penambal ban pada pengguna jasanya itu dengan tulus.


“Mari dek, saya duluan.” Pamit lelaki itu lagi pada Nandang.


“Iya.. mari.” Jawab Nandang spontan.


“Waah robek. Jauh dek?” tanya bapak penambal ban tadi pada Nandang.


“Lumayan pak, hampir 1 jam baru ketemu ini.” Jawab Nandang menghapus keringat dengan tangan bajunya.

__ADS_1


“Astagafirukah. Buk… ibuk. Buatkan teh manis untuk adek ini. Dia sudah kejauhan jalan.” Rupanya di balik ruangan itu ada istrinya, yang menemani.


“Oh… jangan repot-repot pak. Ketemu tempat ini di waktu begini saja sungguh luar biasa.” Tolak Nandang.


“Heei, tidak boleh menolak rejeki dek. Nanti Gusti Allah tidak akan memberikan rejeki yang lebih besar lagi untukmu. Walau bapak Cuma bisa kasih minuman the manis, harus tetap di terima dan di syukuri. Bapak ikhlas kok.” Sergah tukang bengkel itu dengan ramah.


“Oh.. iya. Maaf ya pak. Siap, terima kasih suguhannya.” Ujar Nandang yang sudah menerima secangkir teh dari wanita yang baru keluar dari dalam ruangan di belakang tukang tambalban tersebut.


“Dek.. ini tidak bisa di tambal ya. Harus di ganti, bahkan luar dan dalam. Ga papa?” tanyanya setelah memperhatikan kondisi ban sepeda motor Nandang yang tidak bisa di selamatkan.


“Ga papa pak. Yang penting bisa baik.” Jawab Nandang menyeruput teh yang masih hangat itu.


“Baiklah, siap akan bapak kerjakan.” Ujarnya kemudian masuk ke dalam ruangan di dalam bangunan itu. Rupanya ia sedang memilih ban yang cocok untuk mengganti ban motor itu dengan yang baru.


Nandang memperhatikan dengan seksama, ketelitian tukang tambal ban tersebut dalam hal memilih ban


penggantinya.


“Ya… jika merasa fit, Insya Allah bapak selalu buka. Dan Alhamdulilah, bapak jarang sakit. Sehingga bisa buka


tiap malam.” Jawabnya sambil sibuk mengerjakan pekerjaannya.


“Kalau bapak buka dini hari, bapak tutupnya kapan?” tanya Nandang penasaran.


“Setelah adzan subuh berkumandang. Baru bapak menutup separuh bengkel ini.? Jawabnya sambil tersenyum.


“Kenapa di tutup separuh?” tanya Nandang lagi.


“Karena bapak tinggal ke langgar sebentar untuk sholat. Lalu sementara istri bapak yang cantik di dalam tadi membuatkan sarapan. Bapak masih menunggu, jika ada orang datang membutuhkan bantuan bapak. Sampai pukul 6 pagi. Baru bapak benar-benar tutup.”Jawabnya pelan.


“Kenapa bapak baru tutup jam 6 pagi. Apakah selanjutnya bapak akan tidur?” cecar Nandang semakin penasaran.

__ADS_1


“Kok tidur sih, kalo sudah sholat subuh ya bangun terus lah ngapain tidur lagi.” Kekehnya meraa lucu dengan pertanyaan Nandang.


“Lalu…?”


“Bapak bersiap akan pergi ke kantor.” Jawabnya lagi.


“Bapak bekerja di kantor juga?” tanya Nandang agak terperanjat.


“Alhamdulilah, Allah juga memberikan rejeki pada kami” jawabnya merendahkan diri.


“Bapak bekerja di kantor mana?”


“Bapak Cuma pegawai golongan 2, tukang ketik surat masuk dan keluar saj di kantor Kecamatan.” Jelasnya sambil memandang wajah Nandang sekilas.


“Wah… berarti bapak ASN ya.” Timpal Nandang lagi.


“Alhamdulilah iya. Istri bapak yang di dalam tadi juga, seorang guru Sekolah Dasar.” Ujarnya menjelaskan.


“Waah…  bapak dan ibu semua punya NIP. Tapi masih bekerja begini. Ups… maaf ya pak.” Nandang menyadari ceplosannya mungkin di artikan lain oleh orang yang menanggapinya.


“Memang kami ini Pegawai Negeri Sipil. Tapi kami juga manusia yang tak lepas dari keinginan dunia yang kadang tidak sesuai dengan kemampuan bahkan pendapatan kami sebagai PNS.” Jawabnya jujur.


“Maksudnya…?”


“Menjadi PNS adalah cita-cita terakhir sebagian orang yang sudah pernah menempuh pendidikan tertentu. Selain mendapat jaminan masa tua bahkan sampai akhir hayat, tentu bisa mempunyai SK yang bisa di manfaatkan untuk anggunan berhutang. Yak an?” ujarnya.


“Tapi hidup bukan hanya soal mendapatkan NIP, mendapatkan uang, dan segala seuatu yang di ukur dari materi saja. Tetapi lebih ke pada rasa bahagia dan nyaman yang ada dalam hati sendiri.” Lanjut tukang bengkel itu pada Nandang.


 “Jika di tanya apa gaji sebagai PNS  kurang? Jawabannya iya, bagi orang yang tak pandai bersyukur. Padahal jika menggunakannya dengan cermat itu cukup saja.”


“Lalu mengapa bapak tetap membuka usaha seperti ini, jika gaji PNS itu cukup?” tanya Nandang pada tukang bengkel itu sungguh-sungguh.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2