
Sudah tiga pekan berlalu Nandang lewati di desa itu. Teman lainnya sudah ada yang ijin pulang, Mendapat libur 3 hari atas kesepakantan mereka asal bergantian. Namun, karena Nandang ketua kelompok membuatnya belum mendapat giliran libur seperti yang lain. Apa lagi sekarang ia punya tugas tambahan menjaga Dita yang sedang hamil.
"Kak Nan apa kabar?" isi chat Naila tiba tiba masuk, saat Nandang berada di area signal baik. Untuk memastikan kapan Akbar akan datang.
"Baik sedikit." balas Nandang.
Naila tersenyum sendiri, ia senang chatnya di balas dengan segera oleh lelaki yang diam diam ia rindukan itu.
"Kenapa tidak baik banyak, kak?" tanya nya iseng.
"Karena rindu Nai." Balas Nandang membuat hidungnya kembang kempis sendiri.
Naila kaget dan hampir tidak dapat mengetik balasan lagi. Nandang merasa tanggung dengan chat yang tak kunjung dapat balasan tersebut. Maka ia pun menekan icon gagang telepon untuk melakukan panggilan.
"Kenapa ga di bales lagi chatnya?" Semprot Nandang tiba tiba.
"Kakak ngaco sih. Mabok KKN ya?"
"Siapa yang mabok. Beneran kangen kamu Nai. Kangen di peluk dari belakang oleh mu." kekehnya agak berani menggoda Naila.
"Iih... kak Nan." Naila keki dong. Untung itu hanya panggilan biasa. Coba saja kalau itu VC. Tentu Nandang sudah tidak dapat menyembunyikan paras malunya mendengar ucapan Nandang tadi.
"Minggu depan kak Nan pulang. Kita kencan ya Nai." Lanjut Nandang makin berani.
"Kencan?" tanya Naila berlaga tuli.
"Iya kencan. Kenapa? sudah punya pengganti Heru?" tebaknya asal.
"Hah... Kak Nan aneh aneh deh. Apa KKN semeyeramkan itu kak? sehingga merusak tatanan sel sel otak, yang biasa membantu kakak berpikir normal?" canda Naila renyah.
__ADS_1
"Kegiatan KKN ini biasa saja, tapi kak Nan yang sudah meninggalkan sesuatu yang luar biasa tanpa komitmen di Bandung." Jelas Nandang membuat Naila agak limbung, mendadak panik dan merasa melayang. Tak mengerti dengan yang Nandang bicarakan. Tapi kok manis?
"Gimana?" tanyanya pura pura tak mengerti.
"Nanti saja kakak jelaskan pas ketemu Nai." jawab Nandang sengaja membuat Naila penasaran.
"Kak..." panggilnya lembut.
"Apa...?" Nandang tak kalah manja menjawab panggilan Naila tadi.
"Nai punya kejutan buat kakak."
"Apa?"
"Kejutan mana ada di bilang duluan?"
"Iya juga. Apa ya ...?"
"Bukan betah, tapi belum dapat giliran libur saja. Teman lain sudah semua. Giliran kakak dan satu orang lagi yang belum dapat giliran. Gantian jaga posko, Nai." jelas Nandang.
"Kakak jadi satpam ya di sana?" goda Naila pada Nandang, yang baginya ngobrol dengan kakak sahabatnya itu selalu menyenangkan.
"Ya... bisa di bilang begitu." Jawab Nandang. Dan obrolan ngarol ngidul tanpa tema itu pun berakhir sampai rombongan Akbar dan keluarganya datang.
Nandang tidak tutup mata dan lepas tangan akan masalah yang Dita hadapi. Akbar dosen pembimbing mereka, ia juga ketua kelompok. Bukan hanya masalah kegiatan KKN mereka yang ia konsultasikan pada Akbar. Tapi Nandang juga sudah berhasil menyampaikan keadaan Dita pun menggugah hati Akbar untuk segera bertanggung jawab terhadap kehamilan Dita.
Pernikahan pertama Akbar sungguh tak bisa di selamatkan. Bukan hanya pernah hamil di masa lalunya. Bahkan belakangan ini, Akbar sudah menemukan bukti. Jika istrinya mengkonsumsi obat penunda kehamilan. Terakhir waktu ia mengakui jika sungguh tak ingin memiliki anak bersama Akbar. Ia ingin kembali dengan pria pertama yang mendapatkan kesuciannya.
Selama menikah dengan Akbar ia tersiksa batin, karena paksaan orang tuanya yang sangat ingin berbesan dengan sahabat sejak kecil ibunya.
__ADS_1
Akbar awalnya juga tidak mencintai wanita pilihan ibunya itu, ia hanya berusaha semaksimal mungkin untuk bisa jatuh cinta pada istrinya. Walau sudah jelas second hand. Tapi semua itu ia rahasiakan sendiri. Sebab ia malas membuang waktu untuk mencari orang lain untuk teman menghabiskan hidup bersama.
Tetapi, hatinya berubah setelah bertemu Dita. Bahkan saat ia dapat merasakan the virginnya Dita.
Akbar bukan lelaki brrengsekk, tapi tak pandai berjanji manis. Maka hubugannya dengan Dita memang salah, karena selalu berakhir di ranjang tanpa ikatan. Ia seolah tak pernah ingin membawa hubungan itu ke arah lebih serius. Padahal diam diam ia sedang mencari cara agar bisa bercerai dengan istrinya dan menikahi Dita.
Akhirnya, ia memilih jujur pada istrinya. Dengan alasan kekasihnya itu sudah hamil anaknya. Akbar juga berlutut di hadapan orang tua juga mertuanya. Memilih menyerahkan istrinya untuk di kembalikan pada orang tuanya. Dan menyatakan tak bisa melanjutkan biduk rumah tangga mereka lagi. Maka kalimat talak pun bergema dengan resmi Akbar berubah status secara agama menjadi duda.
Respon orang tua Akbar justru tak di sangka. Mereka sangat antusias mendengar Akbar telah memiliki kekasih bahkan sedang hamil. Maka di jum'at sore itu, mereka sudah datang dengan beberapa perlengkapan lamaran. Mereka akan meminang Dita langsung melaksanakan pernikahan siri untuk Akbar dan Dita.
Semua sudah di konsultasikan Nandang dengan ketua RT, kepala desa juga pihak pemuka agama terkait di desa itu.
Karena hal tersebut lah, hanya Nandang yang tidak pulang. Karena mereka mau melaksanakan ijab qobul Dita dan Akbar di desa itu. Tanpa di ketahui mahasiswa lainnya. Meminimalkan kabar pernikahan yang belum resmi tersebut, mengingat surat cerai Akbar juga belum di tangan.
Dita terperanjat, saat melihat Nandang datang bersama rombongan penghulu juga Akbar. Nandang terlebih dahulu masuk rumah, dan menyerahkan satu kotak pada Dita.
"Dit... ganti baju. Kamu akan menikah." Ujar Nandang menyerahkan kotak itu pada Dita yang masih terlihat bingung.
"Menikah?" beonya.
"Bukankah pak Akbar adalah ayahnya? ia harus bertanggung jawab." Ucap Nandang.
Dita menangis, bergetar hatinya tak percaya akan kejutan yang Nandang persembahkan untuknya.
Mana Dita sangka jika kini ia akan di nikahi pria idamannya. Bahkan dirinya selalu dengan rela ia serahkan walau tanpa ikatan. Beberapa hari terakhir ia hanya meruntuki kebodohannya,. berhubungan hingga hamil. Ia bahkan tidak bisa menghubungi Akbar untuk menyampaikan jika di rahimnya kini tumbuh janin, hasil perbuatan mereka. Dita hanya berpikir akan menjadi ibu tunggal dalam hal mengurus anaknya kelak. Sebab Akbar memang tak pernah mengajaknya menikah, dan tak pernah ada tanda tanda akan bercerai dengan istrinya yang berasal dari keluarga berada itu.
"Permisi... boleh saya masuk." Suara Akbar sopan terdengar dari luar kamar, di mana Dita dan Nandang di dalamnya.
"Oh... maaf. Saya pak yang harusnya tidak di dalam. Silahkan masuk." Jawab Nandang tergopoh keluar kamar yang di tiduri oleh Dita dan 4 mahasiswa lainnya.
__ADS_1
"Maaf... kita nikah siri dulu ya Dit. Nanti setelah surat cerai sudah ku dapat. Kita gelar acara resmi dan resepsinya." Ujar Akbar membuat Dita lemes. Limbung terduduk di tepian temlat tidurnya.
Bersambung...