PEJUANG NIP

PEJUANG NIP
BAB 83 : KEJUTAN


__ADS_3

Naila mendelik ke arah Nandang. Yang bemar saja, Nandang kekasihnya ngajak ijab qobul kaya mau ke pasar malam saja.


"Huh ... Ngajak nikah kok dadakan." Tolak Naila mendorong wajah Nandang, agar tak dekat dekat telinganya.


"Ya kali ... Pengen samaan sama Ndin." Canda Nandang.


"Kak Nan kali, yang ga mau kalah oleh Ndin." Naila balas meledek kekasihnya tersebut.


Sejak penolakan lamaran tahun lalu, Pak Bagus tidak pernah lagi mendesak atau hanya sekedar bertanya soal kelanjutan hubungan Naila dan Nandang.


Baginya ia cukup malu jika senantiasa bertanya kapan anaknya akan di halalkan oleh Nandang. Jaga gengsi lah, seolah hanya Nandang yang paling ia inginkan menjadi menantunya.


Sementara Nandang, tetap berusaha menjaga hubungannya selalu baik dengan Naila. Mereka sudah mulai membicarakan ke hal masa depan.


Nandang memang belum mendapat pekerjaan sesuai keinginannya. Tapi bukan berarti tidak berpenghasilan bukan.


Ia dan Naila hanya belum meresmikan hubungan mereka, tetapi isinya sudah lebih mengarah ke rumah tangga.


Sebelum menikah Andini sudah minta izin pada Nandang, jika nanti ia pasti akan menetap di kota mana Raka bekerja.


Nandang tidak memiliki hak untuk menahan, sebab itu pilihan dan konsekuensi anak perempuan yang memutuskan untuk menikah .


Hal itu membuat Nandang pun memutar otak bagaimana gambaran kehidupan selanjutnya bersama emak dan dengan segudang kesibukannya.


"Nai ... Apa sudah waktunya kita menikah saja?" ajak Nandang suatu hari, tepat tiga bulan setelah di tinggal Andini menikah.


"Kenapa ...?"


"Aku ga nyaman dengan tetangga. Memang aku jarang di rumah. Dan mungkin tidak menimbulkan fitnah karena tiap aku tak di rumah, kamu lebih sering di rumah menani ibu." Jelas Nandang.


"Jadi ... Kita menikah karena takut di fitnah?" Tegas Naila memastikan.


"Bukan. Aku salah selama ini hanya mengulur waktu selama ini. Padahal nyata-nyata kamu yang menjadi sumber semangatku. Dan untuk mu-lah aku bermimpi sukses di sepanjang hari. Jangan buat aku merana, dengan menolak pinangan ini. Jadilah pembawa cahaya kebaikan di rumah kita nanti. Maukah jadi istriku?"

__ADS_1


"Mengapa ini seperti kata-kata lamaran?" Naila terperangah. Mana ia tau tujuan Nandang mengajak makan malam di sebuah cafe yang baru ia sadari suasananya di buat apik, menarik dan ... Oh. Ada tulisan 'Do You Merry Me, Naila ...?


"Apakah ini terlihat seperti lelucon, Nai ... ?" Nandang menjulurkan kotak merah ke arah Naila.


"Hah ...?" Naila sungguh makin terkejut dengan apa yang Nandang lakukan padanya malam itu.


"Kalo terima, di buka ya. Nanti aku yang pasang." Nandang tak peduli dengan wajah tegang yang terpancar dari wajah Naila kekasihnya.


"Kak Nan, ga kasih spill." Naila salah tingkah. Tidak menyangka Semanis itu Nandang melamarnya.


"Kalo di spill dulu, ga kejutan dong yank. Buruan, buka. Pegel nih." Nandang sudah mulai cemas dengan jawaban kekasihnya.


"Maunya di terima ya ...?" Naila sengaja mencari sorot kesungguhan di mata kekasihnya itu.


"Ya iyalaah ... " Paksa Nandang.


Naila tidak membuka kotak itu, melainkan menjulurkan tangan kirinya, agar Nandang langsung memasangkan apa yang ingin Nandang pasang untuknya.


Nandang tak membuang banyak waktu lagi, ia sendiri yang membuka kotak merah kecil di tangannya. Membuka kemudian mengambil sebuah cincin sederhana, lalu memasangkan pada jari manis Naila.


"Halalin dulu." Jawab Naila dengan senyum terkembang.


Prok prok prok.


Tiba-tiba tepukan beberapa pasang tangan terdengar dari arah kursi belakang, tepat di mana percakapan Nandang dan Naila tadi berlangsung.


Hah, bukan hanya ada Pak Bagus dan istrinya di sana. Bahkan ada Emak, Andini dan Raka juga ada di tempat itu.


Rupanya Nandang juga, sudah merancang acara ini bersama bahkan bersama Pak Bagus calon mertuanya.


Nandang sudah berhasil meyakinkan Pak Bagus dengan caranya, sehingga kesepakatan mereka terjadi. Untuk menciptakan malam indah nan romantis untuk Naila.


Flashback On.

__ADS_1


Sepekan sebelum malam menakjubkan itu. Saat Naila justru sedang berada di rumah Nandang menemani Emak. Sebab, Nandang beralasan sedang sibuk dengan Tesisnya.


"Malam Pak, bisa bicara sebentar?" pinta Nandang saat Pak Bagus yang membuka pintu rumahnya.


"Naila tidak ada di rumah Nan ... " Jawabnya seadanya.


"Nan, perlunya dengan bapak."


"Oh ... Masuk." Ujarnya ramah mempersilahkan Nandang ke ruang tamu rumahnya.


"Mohon ijin pak. Jika Allah mengizinkan, Nan ingin menjadikan putri bapak, Naila. Sebagai istri saya, menemani setiap langkah perjuangan saya, menjadi penyejuk hati saya dikala gundah dan menjadi penasihat saat saya melakukan kesalahan, dari awal saya kenal Nai, Nan. Merasa seperti telah menemukan orang yang tepat, sekiranya bapak menyetujui, saya ingin melamar putri bapak dan melanjutkan hubungan kami berdua kejenjang pernikahan." Dengan degupan jantung yang berloncatan tak karuan, Nandang berhasil menyampaikan niat tulusnya pada ayah Naila.


"Ini serius ...?" Pak Bagus menyimpan rasa bahagia dalam hatinya, bukankah ini adalah momen yang paling ia tunggu selama ini.


"Insya Allah, Nan serius Pak. Nan berjanji akan membahagiakan dan memenuhi kebutuhan lahir dan batinnya. Besar harapan Nan, agar bapak menerima lamaran ini." Lanjut Nandang masih dengan tatapan tulus, dan sungguh.


"Sudah yakin ...?" Pak Bagus memastikan.


"Nan, percaya takdir Tuhan itu nyata dan adil, jika Naila memang jodohnya Nan, maka izinkan Nan membahagiakan Nai dengan menjadikannya istri sah saya." Nandang lebih lantang dan percaya diri.


"Yang akan menjalaninya adalah Nai, bukan Bapak. Silahkan kamu yakinkan putri saya. Pesan bapak untuk mu hanya. Dengannya dan bersamanya lah kamu beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta’alaa, di dalam suka, di dalam duka. Gaulilah ia secara baik. Terimalah ia sepenuh hati, kelebihan dan kekurangannya." Pak Bagus sudah lebih dahulu jatuh cinta pada Nandang. Tenty saja ia menerima lamaran Nandang kali ini.


Di samping itu, ia tidak melihat tanda-tanda kemunduran pada hubungan anaknya dan Nandang. Kecemasan terjadinya zinah dan fitnah tentu kadang datang bergelayut dalam benaknya.


Setelah itu, terjadilah konspirasi antara dua lelaki penyayang Naila itu terjadi.


Flashback off


"Ayah ... " Hanya kata itu yang mampu Naila ucap saat melihat deretan orang orang terkasihnya, hadir lengkap di malam bersejarahnya.


Pak Bagus maju, lalu memeluk Naila yang tiba-tiba sudah berurai airmata bahagia.


"Ketahuilah anakku, di dunia ini jangan pernah engkau mencari kesempurnaan, karena sampai kapanpun dan kemanapun kamu mencarinya tidak akan pernah engkau temukan itu di dunia ini, maka sekali lagi papa ingatkan, terimalah ia apapun adanya" Usap Pak Bagus pada punggung Naila yang sudah dalam pelukannya.

__ADS_1


"Naila putriku sayang, sebentar lagi surgamu akan berpindah ke lelaki pilihanmu, maka nanti, jadilah istri yang taat, bertanggung jawab dan menggapai ridhaNya sebagai jalan menuju ke Surga." Lanjut Pak Bagus menasehati putri tunggalnya.


Bersambung.


__ADS_2