
Kasus Dita sudah terpecahkan. Baik Dita maupun Akbar tak dapat menyembunyikan rasa bahagia dan terima kasih mereka pada Nandang yang sudah sangat baik mengatur acara mereka yang dadakan dan serba dadakan tersebut. Nandang mendadak bisa di angkat jadi WO sebuah pernikahan walu secara siri. Sebab setelah ijab qobul di ikrarkan. Para tetangga sudah menyiapkan kudapan dan makanan sederhana sebagai perwujudan syukur telah terjadi pernikahan tersebut. Semua sudah Nandang aturkan dan bekerja sama dengan baik juga tertutup dengan warga sekitar mereka tinggal.
Mahasiswa lain tentu sudah menghirup suasana di kota dan rumahnya masing masing. Tanpa mereka sadari, mereka seolah di ungsikan agar tak menjadi saksi pernikahan antara dosen pembimbing mereka dengan teman satu kelompok mereka.
Jangantanya betapa ngenesnya nasib Nandang yang tidur di luar kamar sendirian. Dapat di bayangkan bukan bagaimana serunya malam yang Dita dan Akbar lalui di kamar yang sebelumnya di isi 5 orang mahasiswi, kini bahkan berubah menjadi kamar pengantin. Walau mungkin mereka tidak dapat bercinta karena kondisi Dita yang tengah hamil muda. Tapi setidaknya ada rindu yang terlepas tanpa batas dalam kamar tersebut yang telah berstatus halal di antara keduanya.
Akbar sebenarnya malu, saat harus menghabiskan dua malam di kamar mahasiswanya. Di desa pula. Tetapi apa yang bisa ia lakukan, selain bersabar dengan keadaan jika Dita memang masih harus bedress total. Ia tak berani mengajak Dita ke hotel atau pulang ke Bandung. Akbar dan semua keluarganya sudah sangat menginginkan anak yang tengah Dita kandung. Maka, mengalah memeluk Dita hingga pagi di kamar ala anak kost itu adalah pilihan terbaik yang bisa Akbar lakukan sekarang.
Rombongan orang tua Akbar sudah segera pulang setelah acara selesai. Dan Akbar bertahan hingga hari minggu tiba. Saat mahasiswa lainnya akan kembali ke desa, tanpa tau telah terjadi kejadian luar biasa di penginapan mereka anatar dospem dan mahasiswinya.
“Nandang… bapak titip istri bapak ya. Tolong jaga juga calon buah hati kami, selama bapak tidak bisa terus di dekat mereka.” Pinta Akbar sebelum benar akan meninggalkan desa itu lagi.
“Siap pak Akbar. Pasti Nandang bantu jaga, asal bapak jangan cemburu ya.” Kelakar Nandang sedikit bercanda pada dosen yang sudah tidak lagi ia segani sebagai orang yang paling berpengaruh dengan nilai akhir masa KKNnya nanti. Melainkan sudah seperti teman, sejak mereka saling sharing untuk urusan akan memberi kejutan untuk Dita.
“Ha… ha… saya tidak yakin jika seleramu adalah seorang wanita hamil, Nandang.” Tawa Akbar berderai dengan tangan yang masih melingkar memeluk pinggang Dita.
“Ayah bulang dulu ya baby. Jangan rewel, sehat sehat di sana.” Usapnya mesra pada perut Dita yang masih rata.
“Kapan ke sini lagi?” tanya Dita dengan kulit wajah yang memerah agak malu jika sisi manjanya di lihat Nandang.
“Minggu depan mungkin 3 hari ya. Pastikan semua teman kalian ada semua ya Nan. Kita evaluasi kegiatan kalian sebab terhitung 4 minggu kalian di sini.” Jawab Akbar pada Dita sekaligus Nandang.
__ADS_1
“Hah…? Minggu depan evaluasi?” Jawab Nandang. Bukannya ia sudah janji akan pulang pada Naila yang juga ia rindukan? Nandang hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Iya… sekarang kan ga bisa evaluasi. Mahasiswa bimbingannya Cuma 2 orang.” Jawab Akbar cepat.
“Artinya saya ga dapat jatah libur lagi dong, pa?” dengus Nandang tabah.
“Ya… ga papa kan. Resiko jadi ketua kelompok lah. Jadwal liburmu kan sama dengan Dita.”
“Beda dong pa. Kan Dita walau ga pulang, tapi masih bisa ketemuan sama yang di rindukan.”
“Oh… kamu juga punya orang yang menantikan kepulanganmu?” pancing Akbar.
“Hah…?”
“Kangen rumah atau ada orang yang di rindukan di rumah Nandang?” Akbar suka menggoda Nandang.
“Ya… ada emak dan adik Nandang lah pak. Yang selalu Nandang pikirkan.”
“Masa hanya ibu dan adikmu…?” Wajah Nandang memerah agak malu mendapat tembakan suka suka dari dosen permbimbingnya tersebut.
Kemudian, keadaan penginapan sunyi kembali. Keadaan tempat tinggal mereka pun sudah tampak seperti tidak ada bekas perhelatan. Kamar yang kemarin sempat rapi dan bersih karena semua barang teman lainnya di amankan di tempat lain pun, kini sudah kembali ke tempat semula. Nandang canggung, saat hanya berduaan dengan Dita. Maka, nongkrong di tempat yang penuh signal adalah satu satunya tempat pilihan Nandang untuk melepas sedikit rindunya pada Naila.
__ADS_1
Matahari perlahan turun, membawa warna keemasan bersamanya bersama jingga. Menandakan senja akan tiba. Satu persatu teman sekelompok mereka pun berdatangan, di antar oleha orang tua dan kerabat lainnya. Untuk kembali melanjutkan kegiatan sesuai jadwal.
Nandang senang, teman temannya kembali datang. Saat sudah menyelesaikan kasus kehamilan Dita sudah terselesaikan bahkan berakhir dengan Indah. Kedua orang tua Akbar pun tampak langsung menyukai dan menyayangi Dita, walau mungkin hanya karena Dita sudah mengandung calon cucu mereka. Tapi bagi Nandang Dita layak berbahagia.
Nandang sedikit bête, sebab chatnya tidak di balas oleh Naila, teleponnya pun tidak di angkat. Tentu saja membuat Nandang jadi uring uringan di buatnya. Nandang tau, ia tak pantas marah. Sebab antara mereka memang tak ada komitmen untuk sdaling menghubungi satu sama lain. Mana mungkin Nandang boleh berharap hubungan seotomatis itu pada Naila. Bukankah Naila bukan cenayang, yang bisa meramal akan maksud hati seseoramg tanpa kode.
Gadis, Gadis adalah teman pertama yang datang lebuih awal dan langsung menyambanginya ke tempat yang penuh signal. Dengan membawa kresek penuh makanan enak dan aneka cemilan. Gadis ingin berbagi dengan Nandang.
“Nandang… aku bawa banyak makanan nih buat kita. Mamahku juga sempat membuat kering tempe, tahu bacem dan abon ikan. Lumayan untuk sarapan kita kalau terburu buru akan pergi kegiatan.” Gadis selalu bersemangat saat bersama Nandang.
“Banyak?”
“Lumayan…”
“Cukup untuk kita semua?”
“Hmm… maunya sih buat kita berdua saja.”
“Kamu tidak adil kalau begitu. Guna kita seolah di asingkan di sini dengan tujuan agar kita bisa terbiasa saling berbagi, belajar lebuh dewasa menyingkapi segala masalah yang seperti di dunia nyata.”
“Iya pak ketua, asisten dosen. Tadi Cuma bercanda kok. Ya iyalah aku bawanya banyak. Mama lebih semngat lagi saat aku bilang, yang makan itu bukan orang biasa. Tapi calon menantunya yaitu ketua kelompok ku.” Gadis mana tau filter, mana tau juga dengan hal yang membuatnya malu. Ia sudah terlanjur terkenal perhatian dan naksir Nandang. Baginya merehasiakan perasaannya hanya merugikannya. Dengan lebih terbuka menyatakan dirinya suka Nandang, menurutnya akan membantu proses ia bisa lekas jadian dengan Nandang.
__ADS_1
Bersambung…