
Nandang memberanikan diri menjadi orang yang ingin tau urusan orang lain. Bukan tanpa sebab. Hanya memastikan apakah perasaan sukanya boleh terus ia kembangkan menjadi cinta. Dan apakah cintanya bertepuk sebelah tangan, terhadap Naila. Gadis yang ia kenal dari kecil hingga beranjak dewasa seperti yang ia hadapi sekarang
“Dia siapa?” Ulang Nandang karena Naila hanya seolah terkejut karena Nandang melihatnya sore tadi.
“Heru.” Jawabnya singkat.
“Teman?” Naila menggeleng.
“Kekasih hati?” Naila mengangguk.
“Calon suami?” Tanya Nandang lagi.
“Ih… kaK Nan apaan sih. Baru pacaran ini, sudah bilang calon suami aja.” Protes Naila agak tersipu.
“Ya… ngapain pacaran kalo ga yakin dia bakalan jadi teman hidup nantinya.” Nandang berusaha berekspresi biasa saja.
Padahal gemuruh di dadanya membuncah, agak perih di hatinya. Akhirnya tau dengan sendirinya jika Naila, gadisnya sungguh telah punya gebetan. Mau marah sama siapa? Jelaslah pada dirinya sendiri, bukankah ia tak pernah memberikan tanda tanda jika ia suka pada Naila. Nandang terlalu lama bersembunyi di dalam cangkangnya. Terlalu malu untuk mengakui perasaan mulia itu. Karena sadar akan dirinya, hanya seorang anak janda yang harus kuat berusaha untuk bertahan hidup.
“Bukan ga yakin kak. Hanya rasanya terlalu cepat saja jika memikirkan ke hal itu.” Jawab Naila pelan.
“Sepertinya dia bukan anak kuliahan seperti kita.” Nandang tetap mengorek informasi.
“Iya kak, dia sudah dua tahun lulus kuliah. Dan bekerja di salah satu perusahaan swasta sekarang.”
“Woow… masa depan cerah tuh. Kenapa ga tunangan saja, biar hubungan kalian ada ikatan gitu.”
“Harus gitu ya kak?”
“Ga tau juga sih. Emang sudah berapa lama kalian pacaran?”
“Sudah lebih dari tiga tahun. Sejak dia masih kuliah di kampus yang sama, tapi beda jurusan gitu.”
“Lama juga. Pak Bagus tau kan hubungan kalian?”
“Ya tau lah kak. Emangnya Naila anak SMA harus pacaran sembunyi sembunyi.”
“Ya kali… eh, tapi tadi kakak nguping lho obrolanmu dengan Ndin. Iya ya kamu tadi pulangnya pake taxi online. Bukannya tadi sore kamu sama dia, kenapa ga minta antar pulang saja dengannya. Kan bisa sekalian kenalan sama kak Nan.”
“Dia ga pernah mau boncengan sama Nai kak. Kemarin sore dia ga bawa mobil. Jadi Nai pulang sendiri dan dia juga.”
“Kok gitu?”
“Ya emang gitu sejak awal pacaran kami ga pernah kencan pake motor.”
“Alasannya?”
“Ga mau Nai terlalu kena angina. Sama kaya kak Nan.”
“Ya beda lah Nai. Ini sudah hampir pukul 12 malam. Udaranya dingin banget. Maknay kakak kasih selimut tadi. Kalo jalan jalan pake motor kan ga hanya malam, masa takut masuk angina juga. Ada alasan lain kali.”
__ADS_1
“Hmm… malu kali kak. Karena Nai gendut.”
“Apa dia yang sekarang maksa kamu harus menurunkan berat badan?” tanya Nandang makin menjurus, ingin tau bagaimana sesungguhnya hubungan mereka.
“Tidak juga sih, Nai hanya mengira saja. Mungkin Heru malu jalan atau boncengan denganku. Karena bentuk tubuhnya tidak seindah wanita pada umumnya.”
“Nai… bentuk tubuh itu nomor sekian. Yang penting memiliki hati yang baik itu yang utama.”
“Kak… hati itu tidak bisa di lihat hanya dengan mata. Butuh waktu yang lama untuk bisa mengetahui isi hati seseorang. Dan manusia jarang mau meluangkan waktu untuk melihat hal itu, maunya sih yang cepet aja, perasaannya datang ya dari mata kan bukan ke hati. Tapi belum tentu sebaliknya, dari hati lalu ke mata.”
“Waaw… sudah jadi pengamat soal hati niih?” Kekeh Nandang.
“Udah cinta banget ya Nai?” Berani juga Nandang bicara sedalam itu.
“Ga tau juga kak. Mungkin karena sudah lama terbiasa dekat saja.” Jawabnya seolah tak yakin.
“Berarti ga kuat ya, bisa goyah tuh.”
“Hmm… ikuti air ngalir aja sih kak. Yang penting selama dekat tidak begitu pakai hati yang gimana-gimana. Besok ga tau terjadi apa kan?”
“Maksudnya…?”
“Ya… ga yakin sih sebenarnya ayah suka atau tidak sama Heru.”
“Apa hubungannya sama ayah. Kan Nai yang jalani nanti. Kenapa harus tergantung ayah?”
“Ya ga bisa gitu dong kak. Nai anak tunggal. Apa apa semua terpenuhi oleh ayah dan ibu. Masan anti Nai harus menikah dengan orang yang ayah dan ibu tak suka.”
“Ya semoga saja. Kalau kak Nan…? Benar sudah punya calon istri?”
“Boro boro Nai. Pacaran aja ga pernah.” Aku Nandang tanpa ragu.
“Masa…??”
“Beneran… ga berani kecewain anak orang. Kak Nan sibuk cari uang, dan ngurus emak juga jaga Andini aja sudah kurang saja 24 jamnya.” Gantian Nandang yang cuthat.
“Andini ga usah di jaga juga udah pintar jaga diri kok. Ada tuh pengusaha yang naksir Andini, tapi di gantungin saja nasibnya.” Bocor Naila pada Nandang.
“Ya gitu deh kalo naksir sama tukang laundry, Nai…”
“Kenapa?”
“Cowok di samain cucian, di gantung mulu biar cepat kering…” Canda Nandang pada Naila.
“Ha… ha… ha.. kak Nan bisa saja. Kak Nan belum pernah pacaran. Tapi masa iya ga pernah jatuh cinta juga?” Naila pintar merangkai pertanyaannya untuk mengetahui isi hati Nandang.
“Oh kalo jatuh cinta sih, kayaknya pernah.”
“Kok kayaknya… ga yakin?” tanya Naila lagi.
__ADS_1
“Ga tau itu cinta apa bukan.” Jawab Nandang datar.
“Kok gitu…?”
“Emang ciri ciri jatuh cinta apaan?” pancing Nandang.
“Maunya deket dan memandang dia terus.”
“Iya…”
“Selalu kangen kak?”
“Iya… selalu.
“Ada yang berdebar di dalam hati kalo tau kabar tentang dia.”
“Iya juga Nai.”
“Resah kalo ga tau dia lagi apa dimana?”
Iya lagi Nai”
“Iiih… fix kakak cinta dia. Ya buruan ungkapin, udah jadian belum sih?”
“Ga berani bilang Nai. Takut di tolak.”
“Di coba dulu kali kak. Udah mau wisuda kan. Masa foto sana emak dan Andini saja. Punya pacar donk.”
“Maunya sama kamu Nai.” Tentu saja itu hanya di dalam hati Nandang kan.
“Anu… Nai.”
“Anu apa?”
“Itu cewek udah ada yang punya.”
“Hah… ceweknya sudah punya suami?” Naila melotot kea rah Nandang.
Nandang memberanikan diri memencet hidung Naila gemas.
“E.. eeh. Sakit kak. Kak ga sopan deh.”
“Ya maaf, gemes Nai. Habis Nai main tuduh aja, emang kak Nan calon pebinor?”
“Ya kali… kan kakak deketnya sama tante tante.”
“Siapa?”
“Tuh yang punya mobil, cewek yang buat kakak jatuh cinta kan?”
__ADS_1
“Eh sembarangan. Itu hanya teman dekat Nai.” Kenapa kini giliran Nandang yang seolah meyakinkan Naila jika ia dan tante Noni taka da hubugan special.
Bersambung…