
Nandang enggan pulang. Merasa hatinya pecah seribu. Baru saja ia bangkit bahkan memberanikan diri untuk melamar Naila, dengan modal dengkul. Namun hasilnya nihil.
Huh, benar bukan? Cinta aja tuh ga cukup buat melamar anak gadis seorang Pak Kadis.
Kali ini, Nandang memang tidak pulang. Tapi, tidak lagi mampir ke rumah Mami Onel. Seperti malam lalu.
Magrib hampir tiba, melipir ke sebuah Masjid baginya adalah pilihan terbaik untuk beribadah. Melepas semua uneg-uneg yang bergelayut dalam pikirannya.
"Nandang ... Kamu Nandang kan?" Suara lelaki menyapa indra dengar Nandang saat akan ke parkiran motor. Hendak melanjutkan perjalanan entah kemana.
"Pa Sosongko. Apa kabar pak?" Nandang menyalami tangan bapak penambal ban itu dengan hormat.
"Alhamdulilah, baik Nandang. Rumahmu di sekitar sini?" tanyanya agak heran. Sebab baru kali ini melihat Nandang beribadah di area tempat tinggalnya.
"Tidak pak. Tadi sengaja muter-muter saja. Bapak ...?" Nandang balik bertanya.
"Kebetulan di daerah sini, bapak di titipkan jaga rumah. Ayo kalo mau mampir." Tawarnya santun.
"Wah boleh lah Pak." Nandang tak memikir panjang. Akan siapapun yang mungkin mencarinya. Lagi, rasa enggan pulang pasca di tolak itu bikin hatinya remek aja.
"Assalamualaikum. Bu .... Tolong buatkan kopi. Ini ada tamu." Belum bOkong Nandang menyentuh kursi di teras rumah mewah itu, Pak Sosongko sudah meminta istrinya membuatkan minuman untuk mereka berdua.
"Lho ... Ada istri bapak juga di sini?" polos Nandang.
"Yang namanya istri itu, Nan. Biar kita tinggal di bawah kolong jembatan ya harus tetap ikut toooh." Jawabnya dengan senyum.
Nandang hanya mengangguk-angguk.
"Makanya ... Segeralah punya istri. Biar semangat berjuang untuk hidup dan menghidupi orang lain."
"Boro-boro punya istri Pak. Ini saja lamaran Nandang baru saja di tolak." Lirih Nandang sendu. Merasa tepat lagi, untuk curhat pada Pak Sosongko.
"Hah ... Lamaran kamu di tolak?"
"Iya Pak. Makanya nih lagi galau. Malas pulang, malu. Aaaah. Macem-macem deh Pak rasanya."
__ADS_1
"Alasannya?"
"Ga. Tau Pak. Nan juga ga ngerti." Lalu Nandang menceritakan dialognya dengan Pak Bagus tadi pada Pak Sosongko.
"Ha ... Ha ... Ha." Pak Sosongko tergelak, bukannya kasihan pada nasib Nandang ia justru menertawai pemuda polos di hadapannya.
"Kenapa Pak?"
"Ya ... Ialah. Kamu itu tidak bisa mencermati kalimat calon mertua kamu. Itu bukan di tolak. Hanya minta di revisi." Ujarnya menghapus air mata yang keluar, karena tertawa tadi.
"Gimana ...?" Nandang tidak paham.
"Kalo melamar anak orang. Yang kamu utamakan itu adalah rasa cinta yang kuat dalam hatimu, perihal kesetiaan, kejujuran dan kepastian anak orang akan kamu bahagiakan. Bukannya karena kamu tidak mau kalah bersaing dari orang lain. Itu artinya kamu sendiri, sedang tidak percaya diri. Lalu, bagaimana bapaknya bisa percayakan anaknya sama kamu thooo...?"Pak Sosongko menegaskan untuk Nandang.
Nandang melongo, mencermati yang di sampaikan oleh Pak Sososngko.
“Jadi mestinya Nan bilang apa dong ?” Bo dohnya Nandang ga ketulungan.
“Sebentar … Kemarin kamu bilang sudah lulus Sarjana ?”
“Terus tes CPNS juga gagal terus …?”
“Iya … “
“Kamu tau sebabnya …?”
“Tidak Pak.”
“Ya kamu memang kurang cerdas. Kamu tidak peka dengan sekitarmu. Hidupmu terlalu banyak teori. Kurang piknik kamunya. Mau Bapak ajak minum bir …?” Konyol juga ajakan pria paruh baya ini. Bukankah mereka baru keluar dari mesjid.
“Astagafirullahalazim. Istigfar Pak. Itu minuman setan.” Jawab Nandang spontan.
“Ha … ha …, hidup mu terlalu lurus. Sesekali mestinya kamu perlu mencicipi sesuatu yang bisa membuat jalanmu oleng.” Kekeh Pak Sosongko membuat Nandang makin bingung. Bukan kah Pak Sosongko yang kemarin mengingatkannya dekat pada Tuhan. Lalu mengapa kini justru ia menyarankan Nandang minum minuman beralkohol.
“Tadi kamu melamar kekasihmu lewat ayahnya dan kalian sedang main catur. Kamu tau Nandang. Yang kalian hadapi adalah sebuah permaianan. Tidakkah kamu sadar, cara bermainmu di ketahui oleh ayah kekasihmu …? Dan situ ia dapat membaca, seberapa jauh visi dan misi mu untuk menyingkapi kehidupan. Untuk menyelesaikan permaian. Untuk menangkis munculnya langkah lawan.” Pa Sosongko kembali ke mode serius.
__ADS_1
Nandang masih diam, mencermati saja semua yang Pak Sosongko sampaikan padanya.
“Apa kamu sering bermain catur dengan ayah kekasihmu …?”
“Sering.”
“Kamu pernah menang melawannya …?”
“Tidak.”
“Mengapa …? Memang tak pernah menang atau sengaja tida pernah mau jadi pemenang?”
“Nan sungkan melawannya, Pak.”
“Hah. Sudah ku duga. Kamu terlalu santun dalam menyingkapi hidup ini. Ambisimu terlalu kamu simpan baik-baik. Sampai orang lain bisa dengan mudah menjajahmu. Kamu suka bermain aman, tak pernah berani keluar dari zona nyaman. Padahal belum tentu di luar sana membahayakan. Kadang malah lebih menakjubkan.” Rinci Pa Sosongko dengan tegas dan runtut.
“Kekasih mu berapa bersaudara …?”
“Dia anak tunggal, Pak.”
“Oh … jelas. Sangat jelas tergambar di buku gambar. Tidak ada satu orang ayah pun, rela dan ikhlas melepas anak gadisnya begitu saja pada lelaki yang lemah. Mental pengecut bahkan pecundang.” Pak Sosongko menyesap kopi yang sudah istrinya antarkan.
“Menurut kamu. Ini ibaratkan, andai kata. Kamu sekarang punya apa ya …?” Pak Sosongko tampak berpikir sebentar.
“Oh iya. Kamu punya motor nih. Motor ini sangat berharga, tapi sudah mulai tua. Dan sudah waktunya berpindah kepemilikkan. Dengan kata lain mau kamu kasih orang, karena kamu sudah mempunyai mobil mewah. Ini missal lho yaa.” Nandang memperhatikan dengan seksama.
“Kepada siapakah kamu akan memberikan morotmu? Satu, kepada orang kaya yang memiliki showroom dan kamu di iming-imingi dengan janji. Bahwa motormu akan ia rawat sebagai koleksi berharga dalam showroomnya. Sebab motormu termasuk keluaran langka dan antik. Atau yang kedua, yaitu kepada seorang biasa, yang katanya akan menggunakann motormu untuk menjalankan usaha ojek onlinenya. Kamu pilih yang mana?” tanya Pak Sosongko pada Nandang.
“Ya jelas saya akan berikan untuk yang kedua dong Pak.” Jawab Nandang memberi pilihan.
“Tapi nanti motormu lecet lho, bisa rusak. Kan di pake buat usaha ojek online yang tentu beresiko akan terkena musibah dan bahaya.” Ulas Pak Sosongko.
“Iya Pak, benar. Tapi motor saya akan lebih berguna dan bermanfaat ditangan orang biasa tadi. Ketimbang orang kaya. Jangan-jangan motor saya malah mati busi, mati aki juga. Karena hanya di pajang, jatuhnya ga guna gitu. Hanya terkurung, tidak produktif.” Beber Nandang menyampaikan alasannya.
“Nah, demikianlah perasaan seorang ayah saat melepas anak gadis apalagi satuy-satunya. Ia harus menimbang, kepada siapa ia akan menyerahkan putrinya. Apakah kepada orang yang hidupnya sudah nyaman, agar anaknya tidak mengalamki kesusahan. Atau justru kebalikannya, ia relakan kepada orang yang mau berjuang bersama untuk melanjutkan hidup. Sampai di sini paham …?”
__ADS_1
Bersambung ….