
Heru tanpa pamit sudah turun dan mencari pintu keluar untuk segera pulang. Mendapati Nandang yang ternyata sedang ngobrol di telepon, tepat di depan garasi.
"Pulang...?" sapa Nandang menyela obrolannya di telepon.
"Iya, permisi." Jawab Heru yang kemudian melajukan kendaraan roda empatnya.
Naila dongkol, kesal, malu juga pasti. Ini pertengkaran mereka yang kesekian kali. Bertema gendut, tapi tidak dengan tentang mengapa hubungan mereka tak maju maju. Ia tak masalah dengan hinaan berberat badan tak ideal. Tapi hatinya justru pedih, mengapa harus di rumah Nandang ia bertengkar.
Andini menyusul Naila yang tampak masih betah di atas, merapikan sisa pertemuan tadi. Andini tau, ia dan Heru pasti bertengkar lagi. Andini sudah biasa dengan curhatan Naila tentang Heru yang kasar.
"Kenapa? dia marah lagi?" tanya Andini agak jengkel. Naila hanya diam.
"Aneh ya, kamu yang di hina. Tapi dia yang marah, mestinyakan kamu donk Nai yang sekali kali marah sama dia."
"Tadi aku yang usir dia." Jawab Naila singkat.
"Whaattt... yang benar Horeeee... akhirnya. Gitu dong Nai. Jadi cewek jangan lemah, sesuka hatinya saja menghina kamu, apa dia tau bagaimana usahamu selama ini pengen kurus demi dia. Ga bisa makan ini, itu, ga boleh banyak ini, itu. Belum lagi dia ngatur kamu harus bangun jam berapa, untuk olah raga. Dia kira gampang apa." Cerca Andini dengan tangan cepat membersikan hingga benar bersih bekas mereka tadi, dan meletakkannya di sebuah ember besar untuk selanjutnya di rendam sebelum di cuci.
"Tadi dia bilang, kalo hubungan kami ga maju ke tahap serius itu, karena aku masih gendut An."
"Udah putusin aja. Laki laki yang serius ga cuma dia kali. Dari awal kalian jadian, sungguh aku ga ngerti tujuan kalian pacaran itu apa? Hubungan kalian itu aneh tau ga…!” Andini ternyata menyimpan kesal yang banyak terhadap hubungan sahabatnya itu.
“An, tadi Heru sudah ngomel sama aku. Harus ya sekarang aku denger kamu marah marah lagi untuk menghakimi hubunganku dengan Heru. Otakku lelah An.” Ujarnya pelan.
“Maaf.” Jawab Singkat Andini lalu turun ke bawah dengan seember piring kotor sisa makan mereka tadi.
“Naila mana?” tanya Nandang pada Andini yang sudah sibuk mencuci piring.
“Masih di atas.” Jawab Andini tanpa menoleh ke arah kakaknya.
Nandang segera naik ke atas dengan modus akan melipat meja dan kursi yang mereka sempat bentangkan tadi.
Naila terlihat diam dan menggulirkan ponselnya, entah melihat apa. Dan Nandang sudah merapikan lantai loteng itu, menyapu dan tetap membiarkan Naila dalam diamnya. Tidak ingin mengganggunya terlebih dahulu, sampai pekerjaannya selesai. Bunyi cucian piring di bawahpun sudah tidak terdengar, artinya pekerjaan Andini sudah selesai.
“Masih mau di sini, atau masuk?” tanya Nandang pada Naila lembut.
__ADS_1
Naila belum menjawab, ia masih terlihat galau.
“Atau mau keluar? Jalan jalan?”
“Kemana?” tanya Naila terdengar antusias.
“Kemana saja… tapi.”
“Tapi apa?” tanyanya lagi penasaran.
“Pake motor.”Jawabnya
“Mau … mau kak.” Jawab Naila terburu buru turun untuk mengambil jaketnya.
“Kemana?” tanya Andini saat melihat sahabatnya itu memasang jaket, akan pergi.
“Cari damai.” Jawabnya singkat.
“Ini sudah malam Nai…” Andini mengejar langkah Naila sampai depan pintu. Dan terdiam sendiri saat melihat kakaknya sudah duduk di atas motornya dengan memegang satu helm di tangannya.
“Euis… kamu kok tertidur di sini? Sudah kembali saja ke kamarmu, nanti aku di sini.” Ujar Andini pelan agar emak tidak terbangun.
“Kok sepi kak…? Tamunya sudah pulang?”
“Iya sudah. Terus kak Nan sama Nai juga keluar. Ga tau kemana?”
“Oh… biasa aja kali kak. Mereka kan memang hampir tiap malam selalu jalan-jalan. Kadang pake mobil, kadang pake motor, kadang juga bisa sampai tengah malam ngobrol di atas.” Terang Euis. Iiih… Euis suka ngintip ternyata.
“Masa… kok aku ga tau sih?”
“Kakak tidurnya nyenyak sekali biasanya. Euis sering liat kok, kalo ga percaya tanya aja. Malah Euis kira mereka pacaran. Tapi yang tadi, ternyata pacarnya kak Naila ya. Berarti Euis salah.” Papar Euis yang lebih layak sebagai pengamat di rumah itu.
“Hus… kamu masih kecil tau apa urusan pacar pacaran. Tidur sana, jangan kepo.” Hardik Andini lagi.
Sepeninggalan Euis, Andini menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Benar-benar heran, ada apa dengan Naila dan Nandang. Apa benar yang di sampaikan Euis, jika mereka sedekat itu.
__ADS_1
“Tidak bisa di biarkan. Ini harus di luruskan. Ada apa dengan mereka berdua.” Umpat Andini agak kesal. Jika ia telah tertinggal berita sehangat ini. Bahkan Euis anak kemarin sore, yang berbau kencur itu saja tau. Mengapa dia yang menjadi biang Naila bisa berada di rumah itu justru tak tau apa apa dan seperti di lupakan dalam hal ini.
Sementara di luar sana, lagi lagi Naila menikmati dinginnya angina malam dengan memeluk Nandang hingga menghangat dari tubuh sampai hati mereka. Naila meletakan kepalanya di punggung belakang Nandnag, bersandar manja di sana. Mengikuti nalurinya, hatinya yang berkata bahwa memeluk Nandang adalah tempat ternyaman yang bisa ia lakukan sekarang untuk menumpahkan rasa kesal, sedih dan marahnya pada Heru.
Nandang menghentikan motornya di sebuah café yang biasa buka 24 jam, Sepertinya Nandang memang hapal dengan tempat tempat seperti itu. Bahkan lumayan banyak yang ia kenal nongkrong di situ.
“Wah… Nan. Sudah berubah selera nih. Ga suka sama yang tua lagi? Atau baru sadar, yang muda memang lebih segar, demplon lagi.” Kekeh dan ejekan itu terdengar nyata di tangkap telinga Nandang dan Naila.
“Hahaaa… bisa saja kalian. Yang tua berpengalaman, yang muda perlu bimbingan bro.” Canda Nandang tak mau kalah membalas ledekan teman nongkrongnya lagi.
“Akuuur deh bro. Lanjuut deh.” Sambungnya kembali.
“Oke… okeh.” Jawab Nandang ramah, menarik tangan Naila untuk mencari pojokan untuk mereka pilih untuk duduk, bahkan lebih tepatnya seolah sedang bersembunyi.
Naila tidak duduk di hadapannya, tapi memilih di sampingnya.
“Kenapa? Masih mau pinjam bahu kak Nan untuk nangis?” tanya Nandang pelan menoleh kea rah Naila.
Naila mengangguk dan langsung menyenderkan kepalanya di bahu kanan Nandang.
“Kak…”
“Hmm…”
“Apa sebaiknya Nai putus aja ya sama Heru.”
“Yang pacaran siapa? Yang di mintai keputusan siapa?”
“Ya kan Nai minta pandangan kakak.”
“Nai… kakak ga bisa mandang. Karena Nai di samping kakak.” Canda Nandang agar suasana hati Naila segera membaik.
“Ya udah Nai pindah ke depan kakak. Biar bisa di pandang.” Naila berdiri akan pindah tempat duduk.
“Bercanda Nai. Gitu aja mosi mosih nih anak gadis.”
__ADS_1
Bersambung...