
Tak dapat di lukiskan bertapa bahagianya hati Nandang saat melihat dua barang penunjang kesehatan sang emak sudah berhasil di masukkan ke dalam mobil pak Bagus dan akan di antarkan ke rumahnya langsung oleh mantan camat mereka itu.
Sesampai dirumah Nandang hampir berteriak memanggil nama Andini, adiknya.
"Ndiin... Andini." Panggilnya senang.
"Apa sih kak? jangan berisik emak baru saja bisa tidur, sejak tadi dia hanya menangis. Tidak jelas." Jawab Andini dengan suara pelan.
"Oh maaf. Kakak ke senangan. Kamu tau ga, tadi waktu kakak akan membeli kursi roda untuk emak, ada ayahnya Naila. Dan dia belikan kursi roda yang sangat canggih Ndin. Ada pispotnya, jadi nanti kita bisa irit, ga perlu beli popok lagi. Asal mau ngalah nyuci." Nandang masih sangat antusias.
"Alhamdulilah." jawab Andini singkat.
"Tapi, kenapa pa Bagus tau ya kakak mau beli itu buat emak?" Nandang baru sadar kenapa Bagus tau keperluannya.
"Ya ... kan Naila yang tanya ke Ndin. Perlu apa, Ndin curhat saja, tapu ga minta sih. Cuma bilang kalo kak Nan, tadi lagi cari kursi roda di kota." Polos Andini menceritakannya pada Nandang.
“Pantesan tadi kamu tanya kakak di toko apa…? Ternyata kamu oknumnya. Kamu tidak tau karena kamu, pa Bagus harus merogoh kocek hampir 5 juta.” Nandanng agak kesal pada Andini.
“Hah…!! Masa harganya semahal itu kak?” Heran Andini.
“Ya beliau belinya yang mahal dan canggih. Tadi kakak maunya beli yang ga sampe 2 juta gitu kursi rodanya. Yang biasa saja. Tetapi, ayah Naila malah beli yang harga tiga jutaan.” Terang Nandang pada Andini.
“Oh gitu… ya Alhamdulilah dong kak.”
“Iya itu pasti. Tapi kan tidak enak pada mereka.”
“Ndin tanya…. Tadi kak Nan bukan yang minta di belikan yang mahal itu?”
“Ya tidak lah, beliau yang memilih sendiri. Kakak juga tidak tau kalau orang yang beli kursi roda tadi adalah pak Bagus.” Jawab Nandang.
__ADS_1
“Ya sudah, ga usah pake ga enak dong kak. Orang kita ga minta ini. Bersyukur saja, uang kita ga ke pake kan, jadi bisa buat di simpan dan untuk biaya pengobatan selanjutnya.” Andini lebih cuek dari pada Nandang yang serba memiliki perasaan tidak nyaman dan sungkan itu.
Nandang hanya sempat mendengus kesal, sementara di depan rumah mereka mobil pak Bagus sudah terparkir, rupanya ia tadi menyempatkan kerumah untuk menjemput anak dan istrinya untuk ikut mengantar hadiah itu keluarga Nandang.
“Andiiiin.” Panggil Naila ceria pada Andini. Dan berlari mendekati Andini.
“Wah, kamu ikut juga Nai.” Jawab Andini tak kalah senang.
“Waaaw… bagus sekali kursi rodanya, pak terima kasih banyak ya. Ya ampun… ini keren sekali. Semoga emak bisa lekas sembuh setelah menggunakan ini.” Doa Andini.
“Ini salah kamu An… karena tidak dari awal bilang tentang kecelakaan emak. Coba dari awal, kami aka nada membantu kalian.” Ujar Naila yang memang baru tau dari ayahnya jika emak Puspa mengalami kecelakaan cukup fatal. Karena mereka saat itu memang fokus menghadapi ujian kenaikan kelas. Sehingga agak repot dalam hal persiapan.
“Boleh ibu jenguk emakmu…?” Tanya bu Tatik yang penasaran dengan keadaan Puspa.
“Oh… iya sini bu.” Andini sudah menarik tangan bu Tatik untuk masuk ke dalam kamarnya, di mana emak Puspa berbaring masih dalam keadaan tidur tadi.
“Emak masih tidak mengenal kalian Andin?” Tanya Tatik sedih.
“Oh… mungkin dalam memorynya hanya tentang saat ia bersama ayah kalian dulu saja. Saat kalian belum ada di dunia.” Simpul Tatik setelah melihat sendiri bagaimana tenangnya Puspa dalam tidurnya.
“Bisa jadi, karena itu Andin yang sekarang lebih sering menhantar dan menjemput pakaian ke tempat pelanggan. Karena Emak suka cari kak Nan. Tadi, saat di tinggal kak Nan cari kursi roda juga, cukup lama Ndin mendiamkan emak dari tangisnya. Kang Dehen mana… jangan pergi… jangan tinggalkan aku sendiri. Begitu tangisnya.” Papar Andini pada mereka.
Sedangkan Nandang dan Bagus sudah tampak selesa menurunkan dan memasang kursi roda tadi agar siap di gunakan.
“Sebentar ya bu… Ndin buatkan minum dulu untuk kita.” Pamit Andini yang segera menuju dapur mereka untuk membuatkan minuman untuk tamunya. Dan Naila pun mengikuti Andini, namun arahnya tidak ke dapur, melainkan ke arah ruang cuci pakaian mereka.
“Astagafirullahalazim. Banyak sekali cucian mu An.” Ucap Naila yang tertegun melihat jemuran yang penuh dengan pakaian kering, juga masih ada 6 keranjang yang berada di bawah mesin cuci mereka yang kini jumlahnya sudah 6 itu.
“Bukan astagafirullahalazim Nai, tapi Alhamdulilah dong.” Kekeh Andin sambil tangan yang masih dengan cekatan membuat minuman tadi.
__ADS_1
“Kenapa Alhamdulilah… banyak gitu?”
“Kamu litany itu adalah pakaian kotor kan? Aku sih liatnya itu uang. He… he…he. Kalau itu kosong maka miskinlah aku.” Jawab Andini tanpa rasa malu.
“Oh iya… ya. Kamu kan ngelaundry.Makin banyak yang di cuci, jadi makan banyak dong dapat uangnya. Kamu ga capek An...?”
“Capek lah, emang aku robot yang ga bisa capek. Tapi lebih capek lagi kalau ga punya uang Nai…” timpalnya.
“Ayo ketengah, minumannya sudah jadi nih.” Ajak Andini pada Naila.
“Bu Tatik… ini coba cicip. Ndin tadi belajar bikin roti kaya yang biasa di buat emak. Ga tau, sama ga rasanya.” Pinta Andini pada ibu Naila.
“Mana-mana… sini ibu yang tes rasa dan teksturnya dulu.” Ucap Tatik antusias.
Entah kapan Andin membuat adonan itu, padahal ia sempat bilang kalau tadi emak sempat menangis dan sulit untuk di tidurkan. Tapi sempat saja dia belajar menaklikkan resep kue ala emak, bahkan di sela pakaian kotornya yang bejibun tadi.
“Gimana bu…?” tanya Andini harap harap cemas melihat ekspresi wajah bu Tatik.
“Nggg… mau jawaban jujur atau bohong nih?” canda bu Tatik pada Andini.
Sementara Bagus dan Nandang tanpa di silahkan sudah ikut menyambar kue yang sudah ada di atas meja tamu tersebut.
“Yang jujur sajalah bu…” Senyum Andini malu-malu.
“Okeeh… kuenya terlalu tawar. Untuk tekstur sudah benar mirip dengan jualan orang di bakery terkenal. Kalau setawar ini lebih baiuk kamu isi dengan abon, sosis, coklat atau keju saja Ndin.” Saran bu Tatik terlihat sunguh sungguh.
“Iiih itu sih jawaban bohong, bukan jujur. Yak an bu…?” Andini sesungguhnya senang dengan jawaban bu Tatik.
“Lho.. itu tadi jawaban jujur lho. Kalo yang bohong adalah…. Apa ya. Ga bisa bohong An. Ini sungguh enak.” Jawab bu Tatik memuji kue buatan Andini.
__ADS_1
Bersambung…