
Nandang menyimak dengan seksama ilustrasi yang Pak Sosongko perhadapkan untuknya. Sedikit mulai mengerticara berpikir pria dewasa, terutama versi Pak Sosongko yang sepertinya sudah syarat akan pengalaman hidup.
Di sini Nandang yakin, bahwa Allah tidak pernah salah menunjukkan jalan mana yang ia tempuh. Kejadian demi kejadian dalam hidupnya semua bertujuan untuk bekalnya menapak kehidupan yang penuh misteri baginya.
“Pak … jika Bapak menjadi ayah Naila. Apakah bapak juga menolak saya sebagai calon menantu …?” Nandang masih minta pandangan.
“Oh jelas. Mana saya mau mengijinkan anak saya menikah dengan laki-laki yang walaupun kekasihnya. Melamar hanya karfena takut tersaingi laki-laki lain. Jadi laki-laki itu harus berani menghadapi apapun. Kalu perlu seisi dunia ku berikan untuk anak bapak, jika ia akan menajdi istriku. Akan ku jadikan dia ratu, dan satu-satunya wanita yang akan ku bahagiakan selain ibu yang telah melahirkanku. Begitu donk yang namanya meyakinkan hati seseorang.” Terdengar lebay penuturan Pak Sosongko kala itu.
“Aah. Mana berani Nan bicara begitu. Takut ga bisa melaksanakannya.” Celetuk Nandang merasa itu terlalu ketinggian.
“Ah Nan. Melamar itu beda dikit dengan promosi. Kamu tidak akan di lirik jika tidak menarik. Jualanmu tidak akan laku keras jika tidak di sertai janji dan info terbaik dari produk yang akan kamu jual.” Nandang mengangguk paham.
“Nan, sungguh tidak berani bicara begitu Pak. Masih ga punya modal.”
“Modal apa …? Uang? Kan ada laundry yang bisa hasillan uang.”
“Bukan soal uang juga. Tapi … apa ya?” Nandnag bingung sendiri.
“Iman Nan. Iman. Keyakinanmu yang belum kokoh untuk menjadi seorang imam.” Simpul Pa Sosongko.
“Jadi … saya harus lamar ulang nih Pak ?” Nandang memang tiba-tiba be go, setelah di tolak lamarannya.
“Kalo lamar ulang tanpa strategi, hasilnya nihil lagi, Nan. Itulah yang mebuat kamu selalu gaga les CPNS. Kamu hanya mengulang-ulang jawaban pada pertanyaan yang selalu kamu jawab salah. Nilaimu di situ-situ saja. Berlatih lebih sering, lalu yang paling akhir adalah mainkan ilmu ikhlas.”
“Apa lagi itu Pak …”
“Saat usahamu dengan seluruh ragamu sudah kamu gunakan untuk meraih. Maka gunakan sujudmu untuk mendapatkan. Namun, jangan pernah paksa Allah mengabulkan semua kehendakmu. Ikhlaskan seturut dengan jalan yang sudah Allah tetapkan untukmu. Jangan pernah memaksa harus punya NIP. Jangan pernah
__ADS_1
kecewa jika kekasihmu tak menerima lamaranmu. Sebab Allah sudah sediakan rencana yang lebih baik untukmu di luar nalarmu.”
Nandang termangu. Tak sampai pikirannya selama ini untuk hanya bersyukur menerima ketetapan Allah. Sejak ia kecil sudah tak memiliki ayah, isi doanya hanya meminta ia harus bisa hidup dengan baik untuk menjaga ibu dan adiknya. Selama ini ia meminta Allah menjaga kestabilan ekonominya agar bisa mengobati emak. Ia selalu meminta, agar di cukupkan untuk biaya kuliah Andini. Ia juga meminta agar Naila putus dengan Heru agar ia bisa menggantikan posisi Heru. Selama ini, Tuhan hanya ia perintahkan untuk melindunginya, membuka jalan rizkinya, menjadi satu-satunya Tuhan yang hanya terus di tuntut untuk mengabulkan semua pintanya.
Nandang lupa, ia adalah hasil ciptaan Tuhan. Lalu siapakah dia, yang berani mengatur Allah untuk bertindak adil padanya yang anak piatu itu? Ia bahkan tak pernah mengijinkan Allah menjalankan rencana yang sudah di rancangkan untuknya bahkan sejak ruh nya di tiupkan untuknya. Nandang congkak pada Allah, terlalu ingin di manja dan di anak emaskan olehg Allah. Seolah ia saja yang menderita di dunia ini.
“Pa Sosongko. Boleh saya anggap Bapak seperti ayah saya …?” Mata Nandang berkaca, ia terharu dengan pria paruh baya yang baginya adalah jelmaaan Tuhan yang selalu dengan tegas dan lugas mengingatkannya.
“Dengan senang hati.” Jawab Pa Sosongko menepuk bahu Nandang dengan bangga.
“Pulanglah. Dan ikuti jalan Allah.” Pesan Pak Sosongko dengan penuh keyakinan.
Enam purnama berlalu, Nandang tak lagi sibuk galau akan lamarannya yang di tolak. Hubungannya dengan Naila tidak putus, namun juga tidak sedekat dulu. Nandang sudah mulai sibuk dengan aktivitas barunya sebagai mahasiswa calon Magister Hukum.
Sesekali memenuhi undangan Pak Bagus untuk bermain catur pun, Nandang usahakan layani. Tapi sudah tidak mau mengalah lagi. Pak Bagus merasakan perubahan sikap Nandang. Namun, tak berkomentar.
“Nai … kamu dan Nandang masih berstatus pacaran?” tanya Pak Bagus suatu hari.
“Oh. Memang tidak ada tanda-tanda kalian akan melanjutkan ke jenjang selanjutnya?”
“Tidak pernah kami bahas. Kak Nan sudah sibuk dengan kuliahnya.” Jawab Naila santai.
“Kamu tidak merasa rugi waktu dalam hal menunggunya untuk membawamu ke pelaminan?”
“Ha … ha. Ayah ngebet mau punya mantu ya?”
“Bukan … kamu itu cewek. Kelamaan di ajak nikah, nanti susah punya anak loo.”
__ADS_1
“Iih .. ayah. Emang nikah jadi pabrik anak.” Naila menanggapi usul ayahnya dengan santai. Entahlah, Naila merasa tidak terburu-buru dalam hal meresmikan hubungannya dengan Nandang. Usianya menginjak 24 tahun. Baginya itu bukan usia yang berbahaya dengan kenyataan ia belum menikah. Sementara hubungan berpacarannya masih sehat-sehat saja.
Mereka masih menjaga komunikasi dengan baik, menjaga hati dan pandangan yang wajar untuk saling setia. Bagi Naila sejauh ini ia bahagia saja.
Bukan tanpa alasan sebenarnya Pak Bagus merisaukan hal tersebut. Sebab, kini. Andini yang udah di lamar dan menentukan tanggal pernikahan. Yaitu 6 bulan kemudian.
Kekasih Andini sudah secara terang-terangan meminta pada emak juga Nandang untuk segera menikahi Andini. Pun Nandang, tak pernah punya niat dalam hal menghalangi jodoh Andini yang sepertinya lebih cepat tiba darinya, walau ia sebagai kakak Andini.
Setelah, Raka berbicara empat mata sebagai laki-laki dengan Nandang. Maka, ijinpun di kantongi oleh Raka. Pak Bagus sudah menganggap Andini Maharati seperti putrinya sendiri. Sehingga, ia memohon pada Andini agar dia saja yang akan menjadi wali hakim saat Andini menikah dengan Raka.
Hari bahagia Andini dan Raka tiba. Pesta sederhana di gelar di sebuah ballroom hotel. Sebab Raka adalah seorang manager di sebuah perusahaan tambang batu bara di Kalimantan Selatan. Kemungkinan besar, Andini akan di bawa kembali ke tanah Kalimantan. Kembali pada tanah asal ayah mereka.
“Nai … mau nyusul Ndin. Cepet atau lambat?” bisik Nandang saat ijab qobul sudah menyeruak dalam masjid tempat akad berlangsung.
“Tergantung yang ajak sih, yang.” Jawab Naila tersipu.
“Besok gimana …?” tanya Nandang asal.
“Emang besok udah dapat NIP …?” Kekeh Naila yang semacam trauma dengan tiga hurup itu.
“Jangan nyindir.” Kekeh Nandang menggoda Naila.
“Atau masih nunggu gelar M.H dulu kali.” Lagi Naila menyindir kekasihnya.
“Waaah … ngelunjak. Beneran mau di halalin besok nih?” Tantang Nandang antara serius dan bercanda.
“Ga kak. Naila belum siap jadi istri pemilik laundry.” Lagi, Naila menyindir Naila.
__ADS_1
“Oh … bentar. Kita duduk sama-sama di depan penghulu sekarang aja kalo gitu, biar sama-sama sah hari ini, seperti Ndin.” Nandang bahkan menantang agar mereka langsung ijab Kabul setelah Andini dan Raka resmi menjadi suami istri.
Berambung ….