PEJUANG NIP

PEJUANG NIP
BAB 54 : HAMIL


__ADS_3

Walau agak keberatan Gadis tetap membangunkan Arman untuk menemaninya menuju Polindes. Karena hanya Arman yang di pinjamkan kendaraan roda dua, oleh sodara jauhnya yang kebetulan tinggal di desa sebelah tempat mereka bermukim sekarang.


Sebelum mereka bersiap ke sekolah tempat mereka melakukan praktek ***, perawat desa pun sudah datang untuk memeriksa keadaan Dita. Nandang meminta agar Gadis yang mewakilinya berbicara pada kepala sekolah dan pihak dewan guru untuk mulai melakukan praktek. Sebab ia ingin memastikan keadaan Dita terlebih dahulu.


Lyra masih sarapan pagi, saat perawat tersebut masuk ke dalam kamar untuk memeriksakan keadaan Dita.


"Sudah lama demamnya?" tanya perawat itu lada Dita.


"Sejak tadi malam."


"Sudah sarapan?"


"Belum."


"Kenapa?"


"Tidak selera... dan kepalaku pusing sekali."


"Sepertinya bahkan sejak kemarin perutmu kosong. Ada riwayat maag?"


Dita mengangguk. Dan Nandang dengan sopan mengetuk pintu kamar membawa sepiring bubur untuk Dita.


"Kapan terakhir haid?" tanya perawat itu kembali setelah memeriksa dada dan denyut nadi Dita.


Dita mengerlingkan manik matanya ke arah Nandang yang sepertinya kaget dengan pertanyaan perawat itu.


"Hah...?" ranggahnya.


"Kamu demam, lemas juga. Dan dari denyutan nadimu, sepertinya kamu berbadan dua. Tes urine saja sekarang. Kebetulan aku bawa tespack." Perawat itu dengan biasa saja menyampaikan dugaan hasil pemeriksaannya.


Nandang tak bisa banyak bicara, tak mengerti dengan kemungkinan yang terjadi pada teman satu kelompok yang baru ia kenal itu.


"Bisa jalan Ta... aku bantu." Ujar Nandang pada Dita yang susah payah akan duduk dan turun dari atas tempat tidurnya.

__ADS_1


"Tolong ya Nan." Pinta Dita lirih. Dan perawat itupun menyerahkan tes pack juga sloki kecil untuk Dita gunakan di dalam kamar mandi nanti.


Lyra sedikit bingung melihat Nandang yang membopong Dita bahkan sampai masuk ke dalam kamar mandi, walau setelahnya keluar dan menutup pintu itu dari luar.


Lyra menggantikan posisi Nandang, berdiri di depan kamar mandi. Kemudian mengambil sloki kecil tadi dari Dita, dan Nandang pun mendekat agar Dita di bopongnya ke kamar kembali.


Sloki tadi di serahkan Lyra pada perawat, dengan posisi taespack masih terendam di sana.


"Nah... kan garis dua. Kamu hamil." ucap Perawat itu dengan tegas.


Lyra dan Nandang saling berpandangan, tak menyangka jika teman satu kelompok mereka itu tengah mengandung.


Sementara raut wajah Dita sama sekali tidak menunjukkan kesukacitaan. Maka baik Lyra maupun Nandang hanya mampu berdiam diri.


"Kondisi badanmu lemah sekali. Dan malas makankan?Jadi saya infus saja agar imun tubuhmu cepat naik dan kandungan mu sehat." Terang perawat tersebut langsung menyiapkan peralatan yang di perlukan.


"Tapi walau sudah di infus usahakan tetap makan. Tuh ada bubur, lumayan untuk membantu obat yang di konsumsi supaya lekas sehat." Dita masih tak bergeming. Seolah segala yang perawat ucapkan itu hanya angin belaka. Tatapannya kosong, tapi tidak berusaha melawan dengan semua yang di sampaikan serta di lakukan padanya.


Lyra berusaha menyuap bubur yang sudah di masak oleh Nandang tadi pada Dita, walau pelan tapi dia pun akhirnya mau mengkonsumsi makanan tersebut.


"Apakah dia hanya kelelahan karena kehamilannya saja?" tanya Nandang pelan.


"Jika di lihat dari raut wajahnya, sepertinya ia menyimpan sedikit beban dan masalah. Berita kehamilannya justru membuatnya linglung. Apakah itu kekasihmu? Atau kamu adalah ayah bayi di kandungnya?" tebak perawat itu asal.


"Astagafirullahalazim. Bukan, saya bahkan baru kenal dia saat di kegiatan KKN ini." Jawab Nandang cepat.


"Oh maaf. Sebaiknya cepat beritahu suaminya, kapan perlu dia tak usah melanjutkan kegiatan ini. Sebab terlihat sangat lemah. ia butuh banyak waktu untuk istirahat." Tambah perawat itu kembali.


"Siap... baiklah. Nanti akan saya bicarakan padanya. Terima kasih bantuannya ya."


"Iya... sama sama. Nanti sore saya akan datang lagi melihat keadaannya."


"Baik... baik. Kami tunggu."Jawab Nandang kemudian masuk ke dalam rumah dan menuju kamar.

__ADS_1


"Makannya habis?" tanya Nandang pada Lyra.


"Iya..."


"Syukurlah. Dita... kamu tiduran saja ya. Nanti, aku perbaiki jadwal ***, supaya giliranmu di akhir kegiatan saja. Utamakan kesehatanmu saja terlebih dahulu. Nanti aku konsultasikan pada pa Akbar selaku dosen pembimbing kita." Ujar Nandang sangat penuh perhatian.


Hiks ... hiks hiks....


Tangis Dita pecah, separuh tubuhnya bergetar, menahan perih di dadanya. Tak kuasa lagi ia bendung air mata yabg sejak tadi ia tahan. Lyra melepas piring bekas makannya tadi, lalu memeluk tubuh Dita, menepuk punggung Dita pelan.


"Cerita saja, kalau merasa percaya pada kami berdua. Apapun yang akan kamu sampaikan, asalkan itu bisa mengurangi sakitmu, lebih baik kau bagikan pada kami." Ujar Nandang duduk di tepi ranjang dekat ujung kaki Dita.


"Aku malu." Lirihnya hampir tak terdengar.


"Jangan memaksakan diri, jika bercerita pada kami hanya menambah bebanmu." Lanjut Nandang, seolah tak ingin tau masalah yang Dita alami.


"Aku... aku hamil. Ta... tapi. Hiks... hiks... hiks." Lyra maupun Nandang hanya diam, tak ingin memaksa Dita melanjutkan kata apapun.


Beberapa menit tertelan waktu begitu saja, tanpa ada suara dari ketiganya. Hanya suara sisa isakan tangis Dita yamg kian mereda, yang meraka dengar.


"Aku hamil di luar nikah. Aku melakukan ini tanpa ada ikatan dengan kekasihku." Tiba tiba Dita melanjutkan kalimat yang lama terputus tadi.


Nandang dan Lyra lagi lagi saling pandang, Tak tau harus berkata apa. Bukankah mereka hanya mahasiswa semester delapan yang sedang menjalani rangkaian bagian dari tugas akhir, tetapi mengapa harus di perhadapkan dengan bunga bunga kehidupan yang tak semestinya mereka petik.


Tetapi dari tangisan pilu yang Dita keluarkan, sepertinya ia sungguh tak mampu menyandang sendiri masalahnya.


"Kehamilan tentu melewati proses yang tidak mudah, juga pasti di lakukan bersama pasangan. Untuk masalah di antara kalian ada ikatan resmi atau tidak itu urusan kemudian. Yang terpenting pemberi benih itu tentunya harus tau agara kedepan bisa bertanggung jawab dengan buah cinta kalian berdua ini." Nandang memberikan komentarnya. Tak bermaksud apa apa, hanya merasa perlu calon ayah dari bayinya Dita dapat mengevakuasinya, agar nanti tidak menambah bebannya selaku ketua kelompok. Seperti hari ini, ia sudah mangkir dari jadwal yang sudah di agendakan. Bukan tak ikhlas, tapi baginya ini sudah di luar ranahnya. Tetapi ucapan Nandang bukan memberi solusi bagi Dita. Ia bahkan kembali menangis sesungukkan.


"Kekasihku sudah beristri..." ujarnya di sela tangisnya. Nandang dan Lyra sama sama menatap intens ke arah Dita.


"Su... suami orang Dit?" gagu Lyra agak shock.


"Kalian bisa jaga rahasia ga?"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2