
"Kalian bisa jaga rahasia ga?" Manik mata Dita berganti ganti melihat Nandang dan Lyra. Mencari kesungguhan di bola mata teman yang bahkan baru seminggu ia kenal.
"Pak Akbar. Dosen pembimbing kita adalah ayah dari bayi ini." Tanpa menunggu jawaban dari keduanya Dita sudah melanjutkan ucapannya, menjelaskan sebuah kebenaran. Sebuah kenyataan jika ia telah melakukan hubungan terlarang dengan dosen yang terlihat baik baik itu.
"Pak Akbar?" beo Lyra tak menyangka.
"Dia sudah tau kalau kamu hamil?" tanya Nandang.
"Aku bahkan baru tau kalau aku hamil. Dan baru sadar jika bulan lalu sudah tak mendapatkan haid." Ujarnya mengingat ingat.
"Apa yang bisa aku bantu Dit. Apa sekarang aku harus ke area yang signalnya penuh, untuk menyampaikan berita ini pada pak Akbar?" lanjut Nandang.
"Aku ga tau harus apa? Aku bahkan tidak tau apakah dia mau bertanggung jawab atas ke hamilanku." Ada beban berat yang masih terasa mengental dalam hubungan mahabsiswi dan dosen itu.
"Hubungan kalian sudah lama?"tanya Lyra.
"Sudah lebih setahun. Istrinya tak bisa memberinya keturunan mereka sudah 6 tahun menikah."
"Dan dia mau kamu memberi anak untuknya?" cecar Lyra lagi.
"Tidak juga, sebab tiap kali kami berhubungan selalu menggunakan pengaman. Kecuali malam itu, saat dia datang ke kost ku saat hari hampir pagi. Ia datang tanpa membawa itu dan di kost pun aku kehabisan stok. Ia sedang tidak baik baik saja waktu itu. Ia habis bertengkar dengan istrinya. Karena istrinya pun baru saja di tuduh mandul oleh orang tua pak Akbar. Istrinya tidak terima di tuduh demikian, dan malam itu terbongkar sebuah rahasia jika istrinya pernah hamil di masa sekolah. Tetapi keguguran."
__ADS_1
"Keguguran atau di gugurkan?" tanya Lyra. Dita hanya menggendikkan bahunya.
"Aku ga tau. Sehingga dengan alasan ia di tuduh mandul membuatku jadi sasarannya malam itu. Kami berhubungan tanpa pengaman. Dan rupanya, mungkin aku dalam masa subur. Sehingga sekarang aku hamil. Menurut kalian aku harus bagaimana?"
"Kenapa bertanya? Tentu saja kabar kehamilanmu harus segera ia ketahui. Sebab, menurutku walau emosi. Ini ada unsur kesengajaan. Saat ia melakukannya denganmu." Ujar Nandang menurut pandangannya sebagai laki laki.
"Iya Dit, sebaiknya kalian harus segera menikah saja. Agar anak yang kamu kandung itu memiliki ayah. Lagian kamu sih, pacaran kok sampai berhubungan badan segala, suami orang lagi. Kamu kemana saja, saat orang orang ramai mencibir pelakor?" Lyra lupa lawan bicaranya bahkan kini masih berselang infus di tangannya. Lyra tak peduli dengan hati Dita, sebab baginya apapun alasannya berhubungan dengan lawan jenis berstatus double itu adalah kesalahan.
Dita tertunduk malu sekaligus sadar, yang di katakan Lyra adalah benar.
"Aku sering meminta di nikahi secara siri oleh pak Akbar. Tapi... ia selalu beralasan agar aku bersabar untuk ia nikahi secara resmi saat ia menjadi duda nanti." Jawab Dita menjelaskan.
"Tapi proses menjadi duda itu tidak sebentar bukan? Buktinya sampai sekarang kamu hamil pun ia tak jadi duda. Sebenarnya dia cinta kamu atau tidak?" Lyra ternyata kejam, ia tak sungkan mengupas soal hubungan dosen pembimbing mereka itu dengan Dita.
"Kamu masih punya orang tua Dit?" tanya Nandang.
Dita menggeleng.
"Aku yatim piatu saat baru masuk kuliah. Kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan. Aku hanya hidup dari uang pensiun almarhumah ibuku. Sedangkan harta lainnya sudah lambat laun di pindah alihkan oleh keluarga ayahku. Karena itulah aku jatuh dalam pelukan pak Akbar. Saat ia melihatku hanya bisa menangis saat uangku kurang untuk membayar SPP ku."Cerita Dita kembali.
"Kamu mau ku bantu menikah dengan pa Akbar?" tanya Nandang.
__ADS_1
"Tentu saja. Tapi aku tak tau caranya dan meyakinkan dia agar mau menikahiku." Jawabnya mendongakkan kepala agar air matanya tak jatuh lagi.
"Aku akan berkonsultasi pada pemuka agama di sini. Dan mengusahakan kedatangan pa Akbar untuk menikahimu, walaupun mungkin hanya secara siri." Ujar Nandang. Yang lagi lagi hidupnya harus di perhadapkan dengan masalah rumitnya kehidupan yang mestinya tak harus ia hadapi.
"Bisakah kalian tutupi dulu soal kehamilan ini dan siapa ayah bayiku ini?" tanya Dita serius pada Nandang dan Lyra.
"Tenanglah. Sementara kita akan rahasiakan keadaanmu. Sampai pak Akbar datang untuk menikahimu dan mengakui sendiri perbuatannya." Ujar Lyra memeluk Dita. Sebagai tanda jika ia ada sebagai pendukung Dita..
Lima hari berlalu, keadaan Dita sudah membaik. Ia memang tidak mengalami morning sicknes seperti kebanyakan wanita hamil pada umumnya. Tetapi selera makannya memang agak rewel. Bahkan anehnya, ia akan lebih lahap makan jika yang memasak adalah Nandang. Aneh bukan.
Hal itu membuat Gadis gerah melihat kedekatan Nandang dan Dita. Yang kadang di tengah malam bisa terlihat memasak untuk Dita.
"Eh, penipu...! Kamu sakit kemarin cuma moduskan? Hanya cari perhatian sama ketua kelompok. Aku sudah bilang dari awal. Kalian boleh caper sama mahasiswa di kelompok kita, kecuali Nandang. Dia milikku." Berang Gadis saat sore itu hanya ada mereka berdua di penginapan.
"Aku tidak pernah caper sama Nandang." Bela Dita.
"Apa kalau bukan caper. Kamu kira aku buta, saat kamu sering minta ladeni Nandang memasak untuk kamu. Siapa mu si Nandang itu? so' manja...!!" Kali ini Dita tak bisa menjawab. Sebab benar saja, ia memang kerap kali mendapat perhatian lebih dari Nandang. Terutama soal beban pekerjaan kegiatan mereka. Nandang tidak pernah memberikan beban yang banyak untuk Dita. Yang sebebarnya Dita sendiri tak menginginkan juga tidak tau mengapa Nandang seperhatian itu padanya.
Sementara Akbar masih sulit ia hubungi. Karena penginapan mereka blank spot. Membuat Dita sulit menghubungi kekasihnya tersebut. Ingin ke area yang banyak signal, harus berjalan jauh atau menggunakan motor dengan jalan yang agak rusak. Dita lebih memilih bersabar demi menjaga kehamilannya. Bagi Dita, biarlah Akbar mungkin tak sengaja membuatnya hamil. Dan tak pernah menganggap hubungan mereka serius. Tapi sejak awal menyerahkan diri dan kesuciannya pada Akbar. Dita sudah memastikan hatinya, jika ia sungguh mencintai dosen yang terpaut 15 tahun lebih tua darinya itu.
Hidup sendiri pun, Dita sering kekurangan untuk memenuhi kebutuhannya sehari hari. Apalagi berdua dengan anaknya nanti. Tapi keyakinannya lebih besar, jika tiap nafas yang Allah ijinkan untuk hidup akan memiliki rejekinya masing masing. Maka Dita memilih percaya jika Allah sudah merancangkan masa depan yang baik untuknya dan buah hatinya nanti. Walau tanpa tanggung jawab dari Akbar.
__ADS_1
Bersambung...