PEJUANG NIP

PEJUANG NIP
BAB 41 : SALAH PAHAM


__ADS_3

Andini tau akan peraturan yang di berikan kedua orangbtua Naila, dan sebagai sahabat yang baik. Tentu ia menghargai juga ikut membantu agar Naila mematuhinya. Toh peraturan tersebut demi kebaikan juga tidak begitu berat.


Maka, lagi. Ia meminta pada Nandang untuk mengantar Naila ke rumah mereka. Andini juga sudah mengirim pesan teks pada Tatik. Ibunda Naila, untuk meminta ijin, agar tidak salah paham. Jika saja, mungkin nanti ada tetangga, atau mata siapa saja yang melihat Naila berboncengan dengan lelaki, bahkan saat orang tuanya tidak ada di rumah. Andini tak ingin Naila dan Nandang jadi bahan gunjingan nantinya.


Bahkan Heru pun bisa bertandang hanya saat kedua orang tuanya ada di rumah, pun hanya bisa ngobrol di teras rumah saja. Yang kadang pak Bagus pun kadang ikut nimbrung obrolan mereka. Tidak asyik memang untuk ukuran kenyamanan pasangan muda mudi yang sedang saling jatuh cinta.


Tapi, anehnya hubungan merekabl awet dan bertahan saja hingga memasuki tahun ke tiga. Tanpa pernah ada terdengar pertengkaran, perselisihan, sungguh keduanya sangat dewasa menyingkapi hubungan yang tak pernah membara juga tak kunjung redup. Entah apakah itu sungguh mereka nikmati atau tidak.


Nandang dan Naila sudah berada di rumah. Tapi Nandang adalah pria sopan. Ia sudah mencuri kesempatan di peluk Naila sepanjang jalan menuju rumahnya, menikmati lagi gelenyar aneh yang menjalar di hatinya. Maka saat sudah di tiba di rumah Naila. Ia hanya menunggu di luar pagar rumah, persis gojek yang sedang menunggu penumpang.


"Cari siapa mas? Orangnya sedang umroh. Ga ada yang tinggal, ikut berangkat semua." tegur seorang pria matang pada Nandang yang hanya duduk di atas kendarannya.


"Oh... iya pak. Menunggu teman." Jawabnya singkat dengan sopan.


"Lho kok pintunya terbuka. Siapa yang masuk? Kamu komplotan pencuri ya?" tuduh pria itu kembali ke arah Nandang.


"Mana ada maling mengaku pak." Jawab Nandang santai.


"Hah... tidak bisa. Kamu harus segera di seret ke rumah pak RT. Sini, ikut saya." Ujar pria itu tiba-tiba berang.


"Lhooo... apa salah saya pak?" bingung Nandang dia salah apa?


"Pengamanannya ketat banget ya. Masa aku baru mau nyuri hati Naila saja sudah di tangkap warga, gimana sih?" Lirih Nandang di dalam hati.


"Pokoknya kamu mencurigakan. Jelas jelas rumah itu kosong, kenapa pagarnya terbuka." Ucap pria itu terus saja menarik krah baju Nandang dengan kuat, agar Nandang mengikuti langkahnya.


"Pak yang masuk itu Naila, anak pak Bagus. Dia sedang di dalam." Jelas Nandang jujur.


"Pintar kamu mengarang cerita, semua orang di komplek ini juga tau mereka pergi umroh. Pokoknya kamu di amankan dulu. Setelah ini kami akan tangkap sindikatmu yang sedang beroperasi di dalam sana." Ujarnya tak mau memperdulikan penjelasan Nandang.

__ADS_1


"Pak RT... ini pak. Saya berhasil menangkap komplotan pencuri yang sedang beroperasi di rumah pak Bagus." Ujarnya lantang.


"Ada apa...?" tanya pria berkumis tebal tampak tergopoh keluar rumah.


"Ini pak RT. Tahan dulu di sini. Nanti saya bawa warga yang lain untuk menggeledah rumah pak Bagus. Saya yakin temannya pasti masih di dalam, untuk menjarah rumah pa Bagus." Ujarnya lagi.


"Pak... saya bukan komplotan pencuri. Saya ini temannya Naila, yang sedang menunggunya mengambil buku di dalam rumahnya." Nandang tetap berusaha menjelaskan pada pria itu juga pa RT.


"Tuh... dengar pa RT. Bukankah pencuri akan selalu pintar membuat alasan, dan mengarang ceritanya. Bapak tunggu di sini saja, saya mau grebek yang di rumah lagi. Berani beraninya ingin meresahkan warga komplek kita." Ujarnya cuek lalu pergi dengan cepat menuju rumah keluarga Bagus.


Ketika tiba di rumah pak Bagus, ia melihat sosok Naila yang ia kenal. Sedang celingukan di depan rumah tak jauh dari motor Nandang.


"Neng Naila..." tegurnya agak malu.


"Pak Andes. Apa kabar?" Sapa Naila sopan.


"Eh... aah. Bbbaaaiik neng." Jawabnya agak bingung karena melihat anak tunggal pak Bagus sungguh ada di Indonesia.


"Tidak pak. Karena minggu ini saya ada UTS. Jadi, tinggal di rumah keluarga." Jawab Naila sedikit bohong.


"O...." Ujarnya menggaruk kepalanya.


"Pak... apakah bapak ada liat teman saya yang tadi menunggu di sini?" tanya Naila, sebab seingatnya tadi Nandang benar tidak ikut masuk ke dalam rumah. Tapi, kenapa di luar juga tidak ada.


"Teman nya eneng? laki laki atau perempuan?" tanyanya berbasa basi.


"Laki laki pak." Jawab Naila mulai resah, kemana saja Nandang meninggalkannya. Tapi, mungkin tak jauh, karena motornya masih di depan rumah Naila.


"Anu... itu neng."

__ADS_1


"Kenapa pak?" Naila bingung mengartikan gertur lawan bicaranya.


"Maaf neng Naila. Tadi bapak kira itu anu..." Dia agak malu mengakui tuduhannya.


Tapi belum sempat ia bicara selengkapnya, Nandang dan pa RT sudah berjalan kaki semakin mendekat ke arah rumah Naila.


"Kak Nan... dari mana? Kok sama pak RT?" Naila tambah bingung melihat kakak dari bestienya itu berjalan bagai di kawal oleh pa RT.


"Nak Naila, sebagai ketua RT. Bapak mohom maaf atas kesalah pahaman ini." Ujar pa RT.


"Oh... bukan bukan. Saya neng yang harus minta maaf. Ini murni salah saya. Maafkan saya pa RT, maafkan saya masnya." Ujar Andes ke arah Nandang.


"Maaf pak. Naila tidak mengerti." Ya iyalah... Naila tau apa jika Nandang sempat di tuduh komplotan pencuri oleh Andes.


"Anu neng. Tadi pas saya lewat, lihat masnya ini duduk di depan rumah. Saya tanya sedang apa? katanya menunggu teman. Yang saya tau, pak Bagus sekeluarga kan pergi umroh sampai mbok Yati juga di ajak. Nah, saya liat pager kebuka neng. Langsung saja, saya kira dia komplotan pencuri yang sedang beraksi. Ya langsung saja, saya bawa ke rumah pa RT untuk di amankan." Terang Andes lancar.


"Ha... ha... kasian, wajah kak Nan tampang kriminal yaa." Bukannya bersedih, Naila justru tertawa mendengar kisah pa Andes.


"Nah.... begitu ceritanya nak Naila. Sebagai ketua RT, saya tidak bisa menerima laporan warga sepihak. Maka, sepeninggalan pak Andes. Saya minta informasi dari nak Nandang. Eh alaah, ternyata dia hanya mengantar kamu pulang mengambil buku."


"Laah.... kenapa ga bilang dari tadi sih mas?" ujar Andes agak keki pada Nandang.


"Kan sudah saya bilang tadi. Bapak yang langsung narik paksa ke rumah pa RT." Ujar Nandang membela diri.


"Ya.. kalo cuma ambil buku. Kenapa ga ikut masuk." Sambung Andes yang masih agak kesal merasa kalah.


"Kalo saya masuk, urusannya malah lebih parah pa. Jangan jangan sekarang saya sama Nai malah di suruh kawin paksa, di tuduh berbuat mesum di rumah kosong. Lah... saya tunggu di luar saja di kira maling." Nandang juga ternyata tak nyaman dengan tuduhan itu.


"Iya pa Andes. Tindakan nak Nandang sudah benar, kamu yang harusnya minta maaf. Terlalu cepat mengamvil kesimpulan tanpa mencari kebenaran terlebih dahulu." Simpul pa RT.

__ADS_1


"Iya... iya. Maaf ya masnya." Ujar Andes tak ingin lama menyandang malu.


Bersambung...


__ADS_2