
“Lalu mengapa bapak tetap membuka usaha seperti ini, jika gaji PNS itu cukup?” tanya Nandang pada tukang bengkel itu sungguh-sungguh.
Penambal ban itu berhenti sejenak dari pekerjaannya untuk memandang wajah Nandang yang terlihat sungguh-sungguh bertanya.
“Uang itu bukan segalanya, tapi segala-galanya menggunakan uang. Itu dulu apakah kamu setuju dengan kata-kata
itu?” tanya tukang bengkel itu.
“Iya… memang demikian kenyataannya.” Jawab Nandang.
“Jika bapak bilang, alasan bapak membuka usaha ini adalah untuk mencukupi kebutuhan bapak sehari-hari, apakah kamu percaya?” ia balik bertanya pada Nandang.
“Entahlah… rasanya tidak mungkin.” Jawab Nandang.
“Mengapa kamu tidak percaya?”
“Karena bapak dan istri kan punya gaji tetap. Yang bisa di terima tiap bulan untuk membiayai kehidupan
sehari-hari.
“Apa kamu tau berapa besaran gaji PNS golongan 2?” tanyanya lagi.
“Tidak.” Jawab Nandang sambil mengangkat bahunya.
“Gaji PNS golongan 2 itu berkisar mulai dari 2,3 juta sampai 3,6 juta saja. Termasuk tunjangan lainnya. Dan tidak termasuk potongan bank jika berhutang di bank. Menurut kamu, apa itu cukup untuk hidup sehari-hari? Jika dala satu keluarga dapat meastikan untuk makan minum sehari-harinya adalah 100 ribu, maka dalam sebulan membutuhkan dan 3 juta hanya di habiskan untuk makan saja. Lalu, menurutmu, apa PNS hanya perlu makan. Bagaimana dengan, sandang dan papannya?” Bapak itu memberikan ilustrasi pada Nandang.
“Tapi istri bapak juga memiliki pekerjaan tetap.” Ujar Nandang.
“Benar… betul sekali. Alhamdulilah jodohnya bapak juga PNS, sehingga rumah tangga kami tidak hanya di kayuh oleh bapak sendiri, tetapi berdua. Yang secara sederhananya, gajih bapak akan habis di gunakan untuk makan, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Begitu?” lalu bagaimana saat kami juga ingin memiliki rumah? Otomatis kami akan menggadai salah satu SK kami ke bank. Yang konsekuensinya salahsatu gaji kami tidak dapat di bayarkan secara utuh, betul?” ujarnya bertanya jawab dengan Nandang.
“Iya betul sekali.” Nandang membenarkan.
“Kemudian, apakah kita bisa menjamin jika kita akan selalu sehat tanpa pernah merasakan sakit?” tanyanya kembali.
__ADS_1
“Tentu saja tidak.” Jawab Nandang cepat.
“Nah… itu dia. Artinya gaji sebagai PNS tidak dapat mengcover semua kebutuhan hidup sehari-hari bukan?” ujarnya pada Nandang.
Nandang menmgangguk-amgguk setuju.
“Menjadi PNS memang ada kepastian mendapatkan uang setiap bulan. Tetapi memiliki ketrampilan yang dapat menghasilkan uang itu lebih penting dari sekedar menjadi PNS saja. Coba kamu perhatikan para pedagang, tak sedikit mereka mampu menyekolahkan anak mereka menjadi dokter, pilot atau apapun di sekolah swata. Yang Kita tau, membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tetapi mereka tetap mampu membayarkannya. Sedangkan PNS kadang mencari aman dengan menyekolahkan anaknya pada sekolah negeri. Seperti anak kami, yang pertama sekarang bisa duduk di fakultas kedokteran dengan bantuan beasiswa di perguruan tinggi negeri pula.” Urai penambal ban tadi, yang bahkan sudah selesai mengganti bann sepeda motor Nandang.
Tetapi karena asyiknya berbincang dengan Nandang, ia tampak masih semangat meladeni Nandang, pun Nandang tak ada tanda-tanda ingin mengakhiri obrolannya dengan penambal ban tersebut.
“Jadi menurut bapak, lebih baik bekerja sebagai swasta saja agar cepat kaya?” simpul Nandang sendiri.
“Bukan itu poinnya. Tetapi hanya sedikit meluruskan jalan pikiran beberapa orang. Bukan hanya kamu yang bertanya, mengapa bapak buka bengkel sampai tengah malam, seolah bapak mengejar uang sekali. Padahal, bapak baru buka bengkel pukul 9 atau 10 malam. Di saat bengkel lain sudah tutup, di situ bapak baru buka. Bukan karena mengejar uang. Tetapi lebih kepada, mungkin lebih bermanfaat jika bapak buka di jam tengah malam. Sebab orang berkendara tidak selalu pagi, akdang ada tengah malam. Dan pasti lebih butuh bantuan. Itu yang pertama.” Ujarnya menjelaskan.
“Orang-orang yang berkeliaran di malam hari tak semuanya sesuai kehendaknya. Kadang kepepet, mungkin sakit, mungkin di kejar pekerjaan, atau memang hobby bekerja di malam hari. Maka, setelah bapak puas tidur dari sore hari. Bapak akan bangun untuk membuka jasa tambalban ini. Tidak banyak yang bapak dapatkan dari bengkel ini, karena jam kerjanya singkat dan agak aneh dari yang lain. Tapi bapak dan istri bahagia, bisa lebih banyak menolong orang lain.” Ungkapnya dengan sungguh.
“Kalau urusan berapa pendapatan per hari, tentu tidak dapat di pastikan. Bahkan pernah tidak dapat pelanggan sampai pagi. Tapi bapak malah bersyukur, berarti takj ada orang yang mendapat musibah di hari itu.” Lanjutnya lagi.
“PNS bukan tentang penting. Tetapi keberuntungan masing-masing orang. Ada yang pintar secara akademis, tapi tak menjamin ia akan lulus seleksi CPNS. Apalagi di jaman sekarang. Kabarnya tesnya sulit.”
“Iya pak, saya sudah lebih dari 4 kali gagal mendapatkan NIP itu.” Ujar Nandang nelangsa.
“Lalu kamu kecewa? Apa usahamu setelah gagal sekali?” tanyanya pada Nandang.
“Saya ikut bimbel pak.”
“Setelah itu apakah nilaimu membaik?”
“Ya”
“Apakah kemudian kamu di terima?”
“Tidak.”
__ADS_1
“Apakah kamu masih terus mengikuti bimbel itu?”
“Ya..”
“Apakah isi bimbel itu berbeda-beda?”
“Tidak semuanya beda, dan tidak semua sama. Tetapi, maksud di lakukannya Bimbel adalah belajar, berlatih secara konsisten dan berulang.”
“JIka demikian. Apakah kamu tidak pernah mencoba untukmelakukannya sendiri? Sebab mengikuti bimbel memerlukan biaya betul?’ korek bapak itu kembali.
“Iya, system bayarannya per paket.”
“Kamu seorang sarjana?” tebak bapak itu pada Nandang.
“Iya pak, saya sudah 2 tahun lulus Sarjana Hukum. Dan sampai sekarang belum berhasil mendapatkan pekerjaan tetap.” Aku Nandang pada bapak tersebut.
“Apa yang kamu lakukan selama 2 tahun ini untuk tetap menjaga keberlangsungan hidupmu? Apakah masih tinggal dan membebani orang tua?’ tebaknya lagi pada Nandang.
“Iya, saya masih tinggal denga emak dan adik. Ayah saya sudah lama meninggal. Sejak kami SD. Kami awalnya hidup bergantung dari uang pensiun almarhum ayah. Emak juga berjualan di kantin sekolah. Lalu lama lama, usaha kami adalah sebagai tukang cuci pakaian pak.”
“Laundry..?” ulangnya.
“Benar pak.”
“Gimana… apakah uang pensiunan almarhum ayah kamu cukup untuk menghidupi keluargamu?” tanyanya pada Nandang.
“Tidak.” Nandang menggeleng.
“Itulah yang bapak maksudkan. Ketrampilan hidup itu yang penting di miliki setiap orang. Soal memiliki NIP atau tidak itu urusan lain. Sebab kebutuhan itu berbeda-beda. Tapi, jangan berputus asa. Jika memang belum rejeki mendapatkan NIP, lanjutkan usaha dan tawakal. Tetapi, jika sekarang kamu sudah memiliki usaha yang bahakan sudah banyak membantumu bahkan menjadikanmu Sarjana, maka bersyukurlah dan nikamti berkat dari Allah itu. Dengan senantiasa berbagi sedekah dengan yang lebih membutuhkan dari kamu.”
Entah bagaimana bapak tukang tambal ban itu mengemas kata-katanya sejak tadi pada Nandang. Membuat otaknya sedikit cerah setrelah mendengarkan semua yang bapak itu sampaikan.
Bersambung…
__ADS_1