
Nandang dan Naila semakin akrab, apalagi urusan menu makanan. Naila semakin patuh pada menu menu yang di buat Nandang sebagai pilihan.
Benar saja, Naila tidak merasa tersiksa dan menderita dalam hal diet ketat. Ia masih kuat beraktifitas juga menikmari aneka cemilan low karbo, yang ternyata bisa di siasati.
"Ndin... nanti sore ajak Nai buat bala bala deh." Ujar Nandang saat mereka baru selesai makan siang.
"Bukannya itu cemilan. Katanya mau dukung Nai diet. Tapi di ajak buat bala bala. Kakak gimana sih?" protes Andini.
"Tepungnya ganti dengan agar agar Ndin."
"Emang bisa?"
"Di coba dulu lah."
"Iya... iya. Ntar kita coba dulu kali An." Sahut Naila bersemangat.
"Hmm... iya. Iya. Mana resep lengkapnya, nih aku mau keluar biar sekalian belanja bahan yang kurang?" tanya Andini pada Nandang.
"Nanti kakak kirim. Kakak ke komplek ya... di panggil mami." Pamit Nandang pada keduanya.
"Kak... kakak lama?" tanya Naila pada Nandang.
"Ga tau juga sih. Semoga ga." Jawabnya datar.
"Euis... pakaian bersih sudah siap?" tanya Nandang pada Euis yang selalu bertanggung jawab untuk urusan itu.
"Iya kak. Sudah Euis letakkan di depan pintu. Sama jas hujan untuk kakak. Karena langitnya mendung." Jawabnya sopan.
"Terima kasih ya Wis." Senyum Nandang pada Euis lembut.
Hah... ada apa dengan hati Naila. Begitu tak senang melihat kemanisan senyum Nandang pada Euis. Apa yang salah dalam dialog itu, padahal biasa saja. Tapi aneh, Naila tak suka saja.
Naila sering memperhatikan Euis yang kepergok memandang Nandang dalam durasi yang lama. Bahkan sampai tersemyum sendiri lagi, seperti orang gilak saja.
Apa salah Euis, masa memandang saja tak boleh, siapa dia?
Naila dan Andini sudah mendapatkam resep yang Nandang kirimkan. Dan ternyata, benar. Lumayan buat cemilan.
Gerimis siang itu ternyata sungguh mengundang hujan. Dan Nandang memilih berlama lama tempat mami Onel. Karena kesehatannya terganngu.
"Mi... Nan antar ke dokter ya." Rayu Nandang pada Onel yang keras kepala tak mau berobat.
"Ga mau Ndang. Paling nanti mamibga di bolehin makan ini dan itu. Ga pokoknya."
"Mami... cukup emak yang sakit dan harus selalu di rawat begitu. Masa mami juga. Mami ga kasihan sama Nan? Ayolah. Sebentar lagi Nan KKN mi, kalau ga berobat sekarang, nanti tambah parah pas Nan ga ada gimana? Jangan buat Nan jadi anak yang tidak bisa balas budi lah mi." Nandang masih merayu Onel dengan pelan.
"Ga mungkin tambah parah. Cuma sakit kaki saja kok."
__ADS_1
"Hari ini sakit kaki, besok sakitnya njalar lho. Terus ga bisa gerak. Harus di bantu kalo mau ngapa ngapain. Tolonglah mi." Rengek Nandang, persis meminta pada ibunya sendiri.
"Ya sudah. Iya... tapi temani sampai selesai." Pintanya.
"Iya mami Nan yang baik hati." Jawab Nandang senang. Lalu keluar menyiapkan mobil untuk mengantar Onel ke dokter praktek.
Nandang sempat memberi kabar pada Andini, jika ia kemungkinan pulang malam karena harus mengantar Onel terlebih dahulu.
Ternyata asam urat Onel tinggi, itu yang membuay kakinya sakit dan sulit berjalan. Tebakannya untuk segera memilih milah makanan pun benar, membuat dia manyun dan ngedumel saja di sepanjang jalan saat mereka pulang ke rumah.
Tapi Nandang cuek saja, ia anggap itu hanya angin lalu, baginya yang penting sudah tau penyakit Onel, dan sudah berusaha mengobatinya.
Lewat dari pukul 11 Nandang baru sampai di rumah, tentu saja semuanya sudah tidur nyenyak.
Tapi jantung Nandang hampir lepas, saat melihat seseorang masih duduk di meja makan.
"Astagafirullahalazim. Nai... kok belum tidur?" ujar Nandang setelah sadar yang duduk itu adalah Naila.
"Kok kakak lama?" Nandang membuat coklat hangat untuknya. Lalu duduk di sebelah Naila.
"Kakak tadi ngantar mami berobat."
"Mami itu siapa?"
"Mami itu... " Nandang berpikir sebentar.
"Kok kakak ga kasih tau kalau pulang semalam ini, apalagi hujannya lebat. Kakak ga hujan hujanan kan?"
"Ya ga lah... mami punya mobil kok. Jadi kak Nan pake mobil mami ke dokternya. Kenapa? Nai khawatir sama kak Nan?" Bukan jawaban yang ia dengar, justru Naila buang muka.
Naila segera menghadap pada sisi yang berbeda untuk membuang rasa malunya, agar Nandang tak melihat warna semu kemerahan di pipinya, malu. Akibat pertanyaannya sendiri yang jelas sangat mengkhawatirkan Nandang.
"Nai dari tadi nungguin kak Nan?" pancing Nandang lagi.
"Hm... tidak juga. Nai baru selesai belajar untuk UTS terakhir besok. Di luar hujan, jadi ingat kak Nan yang sejak siang tidak pulang." Jawabnya yang sudah bisa menetralkan rasa malunya tadi.
"Kalo ga hujan, lupa ya sama kak Nan?" Nandang masih memancing Naila untuk mengakui jika sebenarnya, Naila mulai memperhatikannya.
"Ah... bisa iya, bisa tidak." Oh, ya kak. Apakah besok Heru boleh main ke sini?" tanya Naila pelan.
"Hah... ngapain?"
"Besok itu sabtu kak. Jadwal kencan." Jawab Naila menjelaskan.
"Kenapa ijin sama kakak."
"Karena emak tidak bisa memberi jawaban. Dan yang di tuakan di rumah ini kan Kak Nan." Alasan Naila.
__ADS_1
"Sudah bilang Ndin?"
"Sudah."
"Apa dia mengijinkan?"
"Katanya tanya kak Nan saja."
"Sudah ijin pak Bagus?"
"Sudah."
"Apa katanya?"
"Jangan lupa permisi sama kak Nan."
"Bapak mu, ngijinkan berarti?"
"Iya, asal kak Nan boleh."
"Hmm... artinya. Dari tadi Nai nunggu kakak karena mau ijin pacaran?" Kekeh Nandang menyembunyikan pilu hatinya.
"Iya kak."
"Iya deh boleh. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Kalian pacarannya di atas saja. Kita barbequan saja, bareng bareng gimana?"
"Oh... boleh juga. Nanti ku sampaikan untuk Heru." Jawab Naila dengan wajah senang.
Nandang sengaja mengutak atik ponselnya membuka aplikasi tiktok yang sedang viral. Dan mencari lagi yang mewakili perasaannya saat itu.
"Aku sekuat hati bertahan
Kamu sebisanya menghancurkan
Aku mengalah karena cinta
Kamu sengaja menggores luka" Nah cocok bukan.
Naila hanya melongo melihat kelakuam Nandang yang nyelonong meninggalkannya, lebih duluan menuju kamar emak untuk tidur.
Tak ada senyum manis malam itu. Tak ada ucapan selamat malam. Tak ada pesan agar tidur nyenyak dan mimli yang indah. Seperti malam malam yang telah berlalu.
Celakanya, Naila telah terbiasa akan hal itu. Ia tiba tiba merasa kosong. Ada yang kurang, jelang malamnya. Saat tidur tak mendengar suara Nandang menyuruhnya tidur. Naila telah terbiasa, namun ia tak bisa ala apa. Sebab jelas, sebenarnya ia punya Heru tempat bersandar juga bermanja. Tapi kenapa Nandang yang membuatnya rela tak tidur karena khawatir saat laki laki itu belum ada di rumah.
__ADS_1
Bersambung...