
Kegiatan KKN bermulai lagi, bahkan lebih semangat di jalani pasca liburan walau cuma tiga hari. Di tambah lagi, libur itu telah Nandang manfaatkan untuk meresmikan hubungannya dengan Naila. Tentu saja auranya berbeda dari sebelumnya. Bahkan mau menskip saja waktu KKN yang tersisa dua minggu lagi, agar segera bertemu lagi dengan si jantung hati.
Sama halnya dengan Dita, yang ternyata terlanjur nyaman dalam libur kemarin bisa tidur dan bangun bersama pak Akbar dosen pembimbing merangkap suaminya tersebut.
Dua pekan berlalu akhirnya kegiatan KKN di desa itu pun selesai.
Acara perpisahan bersama warga desa juga dengan sekolah yang pernah mereka jadikan tempat praktik mengajar pun berakhir sudah.
Kini antara sesama teman satu kelompok KKN pun, meraka adakan. Perpisahan tentu saja terjadi dengan suasana haru. Bagaimanapun waktu 2 bulan adalah masa yang tidak sedikit untuk mereka saling berbagi dan menimba ilmu secara bersama-sama di desa itu.
Banyak hal yang mereka dapatkan selain ilmu yang mereka dapat selama ini di balik bangku dan meja kuliah, benar saja bahwa KKN adalah kuliah kerja nyata. Dimana mereka bisa saling berbaur dengan kehidupan nyata menjalani segala kemungkinan yang terjadi di dunia. Tak terkecuali Nandang yang bahkan lebih dewasa dari masa yang seharusnya. Nandang justru sempat harus membuat keputusan yang luar biasa, yaitu bahkan meminta dosen pembimbingnya untuk segera menikahi salah satu temannya untuk bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri.
Sungguh Nandang semakin ditempa pada kegiatan KKN ini, tapi lebih karena ia telah ditunjuk sebagai ketua kelompok sehingga tanggung jawabnya lebih besar dari yang lain.
Pada kesempatan perpisahan kali ini Gadis lah, orang satu-satunya yang begitu bersedih. Ia yang paling banyak membuang air matanya, karena akan berpisah dengan Nandanh tentunya. Seolah dia tidak bertemu lagi dengan lelaki yang bernama Nandang itu.
Hingga saat mereka saling berjabat tangan akan berpisah, Nandang tak bisa menghindar dari pelukan Gadis dengan terpaksa, namun rasa sayang pada teman Nandang pun memeluk gadis sembari berkata.
"Dis, maaf ya... apabila aku ada salah khilaf atas kata dan perbuatanku selama kita KKN dan maaf kali ini aku tegaskan aku benar-benar tidak bisa menerima perasaan cintamu yang berlebihan. Aku berharap kamu tidak serius dengan semua perasaanmu dan aku juga berdoa agar kamu bisa mendapatkan pria lebih baik daripada aku." Ucap Nandang melepas pelukan Gadis.
"Kamu yakin benar menolakku Nandang?" di sela tangisnya Gadis masih berharap jika Nandang menerimanya.
"Maaf. Aku benar-benar tidak bisa menerima orang yang tidak aku cintai. Lebih baik aku menolakmu daripada aku harus mempermainkan perasaanmu." Ucapnya tegas. Membuat tangis Gadia makin menjadi, tapi Nandang sungguh tak perduli akan hal itu.
Pelukan Nandang tak hanya untuk Gadis. Pada Vinda, Meka, Lyra dan Dita pun ia peluk.
"Hallo baby jangan rewel ya.. jau dari om Nan. Nanti manjanya sama papa aja, oke..?" suara Nandang tentu terdengar oleh teman lainnya.
"Hah... baby? Kamu hamil Dita?" kepo Vinda yang lama penasaran.
Dita tersenyum sambil mengangguk. "Teman-teman mungkin kalian selama ini salah sangka terhadap hubunganku dengan Dita, untuk kalian ketahui. Mengapa aku memperlakukan kita lebih spesial dari kalian semua, karena sakit Dita kemarin karena dia hamil dan suaminya menitipkan Dita padaku, untuk dijaga, demikian." Jelas Nandang pada semuam
"Dita udah nikah?" tanya Vinda lagi.
"Udah... gak usah dibahas, yang pasti dia sudah punya suami." Jawab Nandang yang tidak tidak ingin memperpanjang hal yang tidak ada hubungan dan kaitan nya dengan urusan mereka.
__ADS_1
Senyum sumringah terpancar dari wajah Nandang saat melaju dibatas kendaraan roda duanya. Tidak peduli kotak besar, oleh oleh warga untuknya. Juga tas yang terikat di depannya, dia tetap saja dengan semangat kembali ke Bandung bersama teman lainnya.
Selama di perjalanan yang ia lihat hanya marka putih jalan, tetapi ada di dalam pikirannya adalah senyuman Naila yang menurutnya pasti sudah sangat menunggu kepulangannya.
Hampir malam Nandang tiba di rumahnya. Sebab berangkat tadi memang setelah tengah hari.
Seperti biasa penampakan rumah Nandang selalu rapi wan wangi, aroma dari parfume loundry yang selalu menguar dalam rumahnya tersebut.
Nandang sudah memastikan keadaan emak yang telah tidur nyenyak. Andini pun sudah menyambutnya dengan ngobrol seputar kegiatan mereka di desa. Namun tak lama, sebab ia telah ngantuk. Andini memang selalu tertib dalam urusan tidur, selalu sebelum pukul 9 malam ia pasti selalu sudah tertidur.
Nandang memandangi beberapa potong pakaian yang memang sengaja tidak di petik sebab tergantung dalam ruangan yang aman dari binatang malam.
Biasanya pakaian yang masuk ruangan itu adalah pakaian yang di perlakukan dengan ekspres, yaitu untuk pelanggam yang meminta proses loundrynya di percepat dari jadwal seharusnya.
Nandang, menyesap kopi dan rebusan jagung di atas lotengnya.
Menekan icon kamera biru pada gawainya. Tentu saja akan menghubungi Naila kekasihnya.
"Assalamulaikum Nai..." Sapa Nandang ramah.
"Iya... mau ke sini?" ajak Nandang.
"Ini sudah pukul 10 malam kak." Jawab Naila selalu dengan senyum cantiknya.
"Kangen Nai..." Tegas Nandang tanpa basa basi.
Hah... dua kata itu saja bahkan mampu membuat nyilu persendian Naila. Ge-eR di buatnya.
"Kak Nan... " Serunya pelan.
"Ha... ha... besok kencan ya Nai." ajaknya lagi.
"Belum malam minggu kak." Tolak Naila pura pura.
"Wajib ya malam minggu?" tanya Nandang.
__ADS_1
"Ga tau..." jawab Naila salah tingkah. Dan Nandang suka melihat ekspresi wajah demikian.
"Besok aja deh, kangennya udah ga bisa di tunda Nai." Kekeh Nandang mengedipkan satu matanya pada Naila.
"Bisa aja kak Nan. Kita kemana besok?" tanya Naila pelan.
"Kemana aja lah."
"Di rumah Nai sajam" Ajak Naila.
"Heeemm... ga deh."
"Kenapa?"
"Nanti yang kencan bukan kita, tapi ayah Nai pasti ikutan nimbrung." Kekeh Nandang lagi.
"Ya ga papa kam jadi rame."
"Rame apanya... Nai kalo ada ayah pasti cuma ngedekam di kamar." Jawab Nandang cepat.
"Ya... kan kalo kak Nan sama ayah, Nai di cuekin. Jadi, mending Nai ke kamar saja. Daripada jadi obat nyamuk." Naila tak kalah bercanda dengan Nandang.
"Kuliah jam berapa?"
"Besok masuk siang kak. Pulangnya jam 1." Jawab Naila.
"Gimana kalo kita ke pantai saja?" usul Nandang.
"Oh... boleh boleh. Tapi, apa cuma berdua?" tanya Naila lagi.
"Terus... Nai mau pacarannya bawa orang se RT...? Itu lamaran Nai, bukan kencan." Seloroh Nandang merespon ujaran Naila.
"Ya... kali mau ajak emak dan Ndin. Pasti lebih seru. Mereka juga butuh piknik kali kak." Saran Naila yang memang tak pernah egois atau memikirkan dirinya sendiri.
Bersambung...
__ADS_1