
Gadis memiliki kemampuan berbicara yang baik. Ditambah lagi ia di tunjuk sebagai sekretaris, maka hal tersebut sangat mendukung perannya dalam hal menyampaikan ide juga mengatur apa saja kegiatan mereka setelah mendapat arahan dari Nandang. Hal itu ia manfaatkan untuk selalu punya kesempatan lebih sering menghabiskan waktu dengan jarak dekat bersama Nandang. Padahal tidak semua kegiatan itu ada kaitanannya dan mengharuskan mereka selalu bersama.
Termasuk kegiatan malam minggu Nandang yang ia habiskan untuk bervideo call bersama Naila. Walau status mereka masih abu-abu. Pacaran tidak, teman juga bukan. Tetapi baik dari sisi Nandang maupun Naila, secara tidak langsung selama ini sudah menjalin keakraban yang tidak biasa. Jika Nandang wajar dan tentunya sadar jika kini tengah berada di jalan rintisannya. Namun, Naila. Di sini Naila yang masih belum sadar jika pelan pelan sesungguhnya telah masuk dalam perangkap Nandang yang tak kasat mata.
Selalu ada senyum manis Naila tiap bertatapan dengan Nandang. Selalu ada waktu kosong tiap kali Nandang ajak jalan jalan. Namun, tak tau judul kedekatan mereka sebagai apa. Bahkan kini diam diam, Naila menyimpan rasa rindu pada Nandang. Sehingga tanpa di ajak oleh Andini, ia sudah dengan percaya diri meminta ijin pada kedua orang tuanya untuk menginap di rumah keluarga Nandang.
Kedua orang tua Naila tidak mempermasalahkan hal itu, bagi mereka biasa saja. Juga tak menaruh kecurigaan apa apa, sebab mereka juga tau jika kini bahkan Nandang tak ada di rumah. Sehingga kesimpulan mereka jika Naila sungguh hanya memiliki keterikatan sebagai sahabat pada Andini. Maka, mereka pun mengijinkan putri tunggal mereka tersebut untuk menginap di sana.
Andini masih belum punya waktu dan tak punya dasar untuk bertanya tentang hubungan Naila dan kakak kandungnya. Sama seperti kedua orang tua Naila yang terkecoh saat Naila meminta ijin tidur di tempat Andini walau tanpa Nandang. Fix, Naila tulus hanya menganggap Andini sahabat, bukan karena ada sesuatu yang spesial antara dia dan Nandang.
Gadis berada tak jauh dari Nandang. Dan dapat mencerna kalimat demi kalimat bersahutan antara dua orang pada gawai pipih tersebut. Ia dapat memastikan jika itu adalah hubungan kakak dan adik. Tetapi mengapa terdengar seperti demikian. Maka saat panggilan VC itu terputus, Gadis segeras melancarkan aksi keponya.
“Siapa sih? Pacar?”
“Tidak.” Jawab Nandang.
“Kok mesra?”
“Biasa aja.”
“Pake nginap di kamarmu?”
“Nguping ya…?”
“Nyaring gitu.”
__ADS_1
“Maaf mengganggu pendengaran mu ya Gadis.” Jawab Nandang yang seolah masih merahasiakan hubungannya dengan Naila. Padahal bukan rahasia juga sih, tapi memang masih abu abu, asal tidak jalan buntu saja.
“Tidak mengganggu sih. Hanya aku hanya mau pastikan kalau kamu beneran masih jomblo.”
“Apa hubungannya kejombloanku dengankamu?”
“I want you…?”
“For…?”
“To be my lover.”
“Waaaw… mimpi apa aku. Baru seminggu di desa ini sudah di tembak cewek. Jangan begitu lah Gadis. Jangan rusak kebersamaan kita dengan hal-hal yang sensitive begitu, nanti baper.” Jawab Nandang tanpa menunda waktu agar tak lama menggantung perasaan orang laian.
“Gadis… Gadis. Kamu itu bercandanya kelewatan. Ayo… ke penginapan. Sudah makin malam.” Ajak Nandang segera menghindar posisi mereka yang tinggal berdua saja di tempat itu.
“Nandang… aku tidak bercanda. Bersyukur sekarang warna langit sedang gelap. Jika tidak, kebayangkan malunya aku barusan nembak kamu tadi di tolak.” Gadis menghentikan langkahnya. Tak mau melanjutkan langkahnya untuk menyusuri jalan mereka menuju penginapan.
Nandang menyadari jika kini tengah jalan sendiri. Sebab Gadis masih mematung di belakangnya tak mau melanjutkan perjalanan. Ia menolah kebelakang, dan benar saja. Gadis hanya berdiri tak bergerak selangkah pun dari posisi terakhirnya.
Nandang mengalah untuk mengajak Gadis pulang. Ia berbalik dan menarik tangan Gadis untuk pulang bersamanya. Tapi, Gadis sepertinya memang sudah siap dan merancangkan hal itu. Sehingga saat Nandang menarik tangannya, ia malah memeluk tubuh Nandang.
“Pliiis… aku mau jadi orang terdekatmu. Jadi pacarku ya…” Ucapnya di dekat daun telinga Nandang.
Nandang segera melepas pelukan itu. “Tolong jangan begini. Kita sedang di kampung orang. Kita sedang berjuang untuk masa depan kita. Aku tidak mau gagal hanya karena hal kecil seperti ini.”
__ADS_1
“Tapi masa depan ku adalah kamu.” Tegas Gadis tanpa malu.
“Makin malam kamu makin ngelantur saja.”
“Aku tidak ngelantur, aku serius. Pliiis, kasih aku jawaban tentang jawaban perasaanku.”
“Gadis… maaf. Aku hanya menganggapmu sebagai teman satu kelompok. Tidak lebih, kamu bahkan sama seperti teman wanita lainnya dalam kelompok kita. Rata. Tak berbeda.”
“Waktu Nandang. Aku tau, kamu hanya perlu waktu untuk mengenalku lebih banyak. Oke… aku tidak akan mengulang untuk mengutarakan isi hatiku padamu. Aku hanya memberi mu kesempatan untuk mlihat ketulusan hatiku dalam hal menginginkanmu lebih dari sekedar teman.”
“Jangan buang waktu kita untuk hal yang tidak penting. Tujuan ku KKN adalah untuk segera menuntaskan kuliahku. Ijazah sangat aku perlukan untuk masa depanku. Bukan kamu.”
“Terserah… aku tidak peduli jawabanmu malam ini. Pokoknya aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku, bersama dengan waktu yang banyak kita habiskan di sini.” Gadis merapatkan tubuhnya dengan Nandang, bahkan berani menempelkan bibirnya pada bibir Nandang. Di kecupnya sedikit, walau tidak mendapat respon apa apa oleh Nandang.
Gadis buang muka, dan menutup bibirnya dengan satu punggung tangannya. Malu itu pasti, sebab ia pun merasa jika Nandang sungguh tak meresponnya. Baik dari sikap maupun perkataannya. Tapi, hati kecil seorang wanita bernama Gadis itu tetap merasa jika ia sekarang tetap harus memperjuangkan lelaki yang kini di hadapannya. Masih terpana, terpukau dengan hal yang baru saja ia lakukan.
“Maaf.” Ujar Gadis.
“Jangan di ulangi. Hanya membuat aku illfeel terhadapmu. Tolong jangan rusak suasana nyaman kegiatan ini. Hanya karena perasaan yang tak seharusnya muncul. Aku tidak tau mengapa kamu suka aku. Tapi yang pasti, mungkin kamu belum tau saja siapa aku dan segala beban hidupku. Sebab kita memang tak pernah dekat. Jadi, tolong jangan membuang waktumu. Fokus saja dengan tujuan kita datang ke sini, adalah untuk menjalani kegiatan guna mendukung penyelesaian studi kita.” Nandang sudah lebih serius, menarik tangan Gadis untuk berjalan bersamanya. Ia tau, wanita ini juga malu telah mempertaruhkan harga dirinya di depan Nandang. Dan satu satunya cara Nandang adalah, memperlakukannya dengan baik, agar wanita itu tidak down untuk melanjutkan kegiatan ini dengan semangat, walau mungkin dalam keadaan patah hti telah di tolak Nandang mentah mentah.
Bersambung….
Kira kira wajah Naila itu begini
__ADS_1