
Renovasi rumah keluarga Nandang belum selesai dengan sempurna. Sebab cor dak tidak hanya atas kecepatan tangan manusia yang membuatnya tetapi juga campur tangan Tuhan yang memberikan cuaca yang terik untuk mempercepat proses pengeringam adonan semen dan pasir yang di gunakan.
Keberangkatan pa Bagus yelah tiba. Maka Naila pun sudah mulai ngekost di rumah Nandang.
Sungguh suasana yang baru bagi Naila tentunya. Terutama ketika ia harus tidur dengan bestie nya, sebab biasa tidur sendiri. Bahkan di kamar cowok pula.
"Kenapa gelisah Nai? Panas?" tanya Andini saat untuk ke tiga kalinya Naila membolak balikkan tubuhnya karena sulit memejamkan mata.
"Ah tidak. Hanya belum terbiasa saja." Jawab nya lalu beranjak keluar untuk mengambil air putih.
"Aku keluar ambil air minum ya An." Pamitnya keluar kamar. Di balas anggukan pelan dari Andini yang sudah ngantuk berat.
"Gimana? betah?" suara Nandang tanpa basa basi. Tepat saat Naila di sisi meja makan.
"Kan baru sehari. Ya adaptasi dululah." Jawab Naila dengan terus saja mengambil gelas akan minum.
"Ya ga bisa langsung enak lah. Semua butuh proses kan. Sabar." Nandang melanjutkan kata kata yang sempat terjeda tadi. Seolah menunggu jawaban.
"Iih... kaya aku tersiksa banget saja. Pake di kasih nasihat harus sabar." Jawab Naila setelah selesai meneguk air putih sambil rungunya menangkap kalimat yang Nandang keluarkan.
"Jangan patah semangat. Semua tempat baru pasti akan selalu beda rasa. Tapi jalani saja dulu. Percaya saja, selalu ada sesuatu yang akan buat tante betah di sana." Naila menoleh ke arah Nandang. Yang ternyata sejak tadi membelakanginya duduk di ambang pintu belakang, sedang menempelkan gawai pada telinganya.
Rupanya Nandang sedang bicara dengan tante Noni via telepon. Saat Nandang memandang progres pembangunan cor dak beton di belakang.
"Ya ampun... rupanya orang ini sedang bertelpon ria. Laah aku njawab -jawab. Malunyaaaa aku." Rutu Naila sungguh merasa malu. Ia kira Nandang mengajaknya ngobrol. Sebab isinya seputar betah di tempat yang baru. Tengsin dong.
Naila segera melesatkan langkahnya, membuang rasa malu. Memilih luar rumah untuk duduk mencari kantuknya, berselancar di dunia maya, berharap dapat sesuatu yang menarik.
"Kok di luar Nai?" Kali ini suara Nandang benar di tujukan kepada Naila. Tapi tak langsung Naila jawab. Ia menoleh terlebih dahulu. Agar benar, jika Nandang hanya berbicara dengannya.
"Belum biasa di tempat yang baru kak." Jawab Naila pelan.
"Sumuk ya? beneran perlu dibpasang AC...?" tawar Nandang so perhatian.
"Lebay... biasa aja kali. Ga perlu. Beneran ini pengalaman pertama tidur ditempat orang saja." jawab Naila jujur.
__ADS_1
"Mau jalan jalan? cari kantuk." Ajak Nandang seberani itu mengajak Naila keluar padahal waktu sudah lewar dari pukul 9.
"Kemana?"
"Keliling keliling saja. Putar putar kota." Entah Nandang dapat idr darimana mendadak baik dan berani mengajak anak gadis orang bahkan di jam yang tak pantas untuk jalan jalan.
"Pake apa?" teliti Naila lagi.
"Maunya pake motor atau mobil?" tanya Nandang memberikan pilihan.
"Mobil boleh?" tanya Naila yang tidak biasa kemana mana dengan kendaraan roda dua di malam hari.
"Hm... padahal enak naik motor Nai. Ya sudah... yuk." Ajak Nandang segera mengambil kunci kontak CRV milik Noni.
Ya... Noni menyerahkan penuh apartement dan mobilnya pada Nandang selama ia tidak di kota itu. Nandang boleh menggunakannya sebebasnya asal saat Noni datang apartemen sudah bersih dan mobil juha dalam keadaan terawat.
Nandang pamit pada emak walau wanita itu sudah tidur terlelap. Mengecup kening wanita yang melahirkannya tersebut lalu memastikan jika Andini pun sudah ke alam mimpi. Nandang pun berangkat jalan jalan malam bersama Naila.
"Nai... mau sate atau bakso?" tawar Nandang saat kendaraan roda empat itu sudah melaju di atas jalan raya.
"Kenapa Nai di goda dengan makanan? Jarum timbangan Naila makin ke kanan ntar." Cemberut Naila agak kesal. Ia Sejak kecil badan Naila tak kenal susut. Beratnya selalu lebih 15kg dari Andini. Ukuran L dan XL adalah ukuran tetap tubuhnya.
Nandang tau diri, Naila anak orang berada juga berpangkat, sedangkan ia harus mengais rejeki bahkan di tempat yang sering di hindari orang.
"Ga papa. Sekali-sekali Nai. Ga langsung naik 5 kg juga. Seporsi ini. Sate ya... ga usah pake lontongnya. Banyakin dagingnya aja, tapi kalo mau cepet kurus sih, makan tusuknya aja deh, jamin kurus langsung." Canda Nandang pada teman adiknya itu.
"Iya kurus... usus Nai bocor." Tawa Naila terpingkal pingkal.
"Gimana oke?"
"Nai di paksa makan malam kan ini. Iya deh oke." Akhirnya Naila setuju dan mereka pun sudah turun dari mobil yang sudah menepi di tempat yang di perbolehkan parkir.
"Sate nya dua pa. Satu pake lontong, satunya ga pake lontong tapi 20 tusuk." Pesan Nandang dengan percaya diri.
"Buat siapa yang 20 tusuk?"
__ADS_1
"Buat Nai lah."
"Kebanyakan, nantu tambah melar Kak."
"Ga papa. Tetap cantik kok." Wuuusss wajah Naila memerah jambu. Barubkaki ini kayaknya dia di puji cantik oleh makhluk yang berjenis kelamin laki-laki.
"Kak Nan... " ucapnya tersipu. Nandang terkekeh santai. Hanya dia yang tau jantungnya lompat lompat sejak tadi. Bahkan dari ia beranikan diri mengajak Naila jalan di rumah tadi. Hatinya sudah rusuh, dag dig dug ser, berasa mimpi bisa jalan berduaan dengan gadis pujaannya.
"Sate yang pake lontong, sate yabg ga pake lontong. Minumnya?" Pelayan sudah menyodorkan pesanan Nandang.
"Teh panas hambar dua gelas ya." Tanpa kompromi Nandang memesan minuman.
"Iya Nai?" tanyanya lagi.
"Yup benar." Jawab Naila tersenyum. Iih... mau di cubit Nandang saja itu buah pipi yang menonjol karena senyum yang terkembang.
"Kaaaaak. Bantu kebanyakan ini." Rengek Naila yang tak sanggup memghabiskan satenya.
"Yakin ga mampu?" tanya Nandang.
"Iya."
"Malu kaliii?" goda Nandang yang senang menggoda Naila.
"Beneran ga mampu kak. Tehnya keduluan masuk. Jadi, penuh perutnya." Naila beralasan. Tanpa permisi Nandang sudah dengan ceoat mengambil beberapa tusuk sate untuk ia habiskan, agar tidak mubazir.
"Kak Nan enakya. Makannya kenceng, tapi bodynya ga melar. Ga kaya Naila, minum air putih aja jadi lemak." Sungutnya.
"Olahraga Nai. Tapi golongan darah, dan tipe serapan tubuh emang beda beda. Ada yang emang mudah mengikat lemak ada juga yang lambat."
"Emang Nai kurang gerak kali ya Kak. Ga kaya Andin juga kak Nan." Naila masih edisi curhat akan berat badannya.
"Udah yang penting sehat." Hibur Nandang pada Naila yang seolah sedih dengan bentuk tubuhnya.
"Sehat sih, tapi ga enak di pandang mata kak." Timpalnya lagi.
__ADS_1
"Mata siapa?"
Bersambung...