PEJUANG NIP

PEJUANG NIP
BAB 81 : DI TOLAK


__ADS_3

"Bismillahirohmanirohim. Hari ini, saya Nandang Batuah meminta dengan resmi Naila anak Pak Bagus untuk menjadi istri saya, yang Insya Allah lahir dan batinnya akan saya cukupkan semampu saya." Entah dapat kekuatan dari mana. Tiba-tiba Nandang. Memberanikan diri untuk melamar Naila melewati ayahnya.


"Kamu sedang latihan melamar anak gadis orang, Nan?" Pak Bagus terperangah. Tak mengira pemuda yang sedari tadi meladeninya bermain catur, tiba-tiba melamar Naila putri tunggalnya.


"Maaf jika waktunya tidak tepat Pak. Tapi, dengan keadaan hidup Nan yang apa adanya. Nan berjanji akan berusaha untuk menjaga kebahagiaan Naila sekarang dan sampai selamanya." Nandang mulai berani mencari iris mata Pak Bagus, lawan bicaranya. Ia ingin ayah kekasihnya itu, melihat kesungguhan hatinya.


"Tapi kamu belum punya NIP." Sengaja Pak Bagus menggencet hati Nandang yang selama ini gelisah akan nasib pekerjaan dan masa depannya tersebut.


"Mendapatkan NIP itu atas ijin Allah. Juga bisa di dapatkan pada kesempatan selanjutnya, jika beruntung. Tetapi Naila adalah satu-satunya wanita yang bahkan sejak berseragam putih biru sudah Nan minta pada Allah untuk menjadi jodoh Nan. Maka, saat Nai menerima menjadi kekasih. Nan yakin, Nai tercipta hanya untuk Nan." Pak Bagus speechless. Tak menyangka selama itu pemuda ini menyimpan rasa untuk anak gadisnya. Bukankah tak salah jika ia menuntut agar Nandang segera melamar anaknya tersebut.


"Maaf Pak jika saya lancang. Menunggu Nai putus dengan Heru saja bagi Nan merupakan perjuangan untuk memilikinya. Dan kali ini, Nan tidak punya nyali jika harus bersaing lagi dengan Dicky perihal siapa yang akan lebih dahulu menghalalkan Nai." Terungkap sudah. Nandang cemburu pada Dicky. Ia cemas melihat kedatangan Dicky dan keluarganya siang tadi ke rumah Naila. Ia tak mau kehilangan Naila.


"Kamu melamar Nai, hanya karena emosi. Bapak tidak bisa menerimamu. Ambillah waktu untuk memikirkan kembali alasan tertepat meminang anak gadis saya." Pak Bagus beranjak pergi, meninggalkan Nandang yang masih duduk di depan papan catur yang belum selesai mereka mainkan.


Nandang mengusap kulit wajahnya dengan kasar. Menarik nafas dan membuangnya kasar. Tak menyangka lamarannya di tolak dengan spontan oleh Pak Bagus.


"Nai ..., aku pulang dulu ya." Pamitnya malas pada Naila yang baru saja, akan mengantarkan minuman dan cemilan untuk ayah dan kekasihnya yang sejak tadi terlihat serius bermain catur. Tanpa tau apa sesungguhnya motif permaianan catur tersebut.


"Oh ... Mengapa belum selesai mainnya sudah bubar?" tanya Naila heran.


"Ehm ... mungkin bapakmu capek." Bohong Nandang menyeruput minuman yang sudah Naila buat untuknya.


Naila hanya memandang punggung lelaki yang di cintainya itu berlalu, semakin jauh meninggalkan rumahnya. Menutup pintu dengan sejuta tanya yang tersisa, akan raut aneh wajah kekasihnya. Kecewa, itu yang Naila tebak dari sorot mata Nandang.


"Nai ... Nandang mana?" tanya Pak Bagus yang masih merapikan ret sleting celananya.


"Sudah pulang."


"Hah ... Kenapa dia pulang. Ayah tadi tiba-tiba kebelet saja. Kenapa dia malah pulang?" Pak Bagus menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Belum selesai obrolannya dengan calom menantunya tadi. Ternyata dia sudah pulang.


"Nai, duduk. Ayah mau bicara." Suara itu terdengar serius dan tegas.

__ADS_1


"Ada apa ayah?" Naila duduk berhadapan dengan sang ayah.


"Apa kamu tau jika Nandang telah jatuh hati padamu sejak SMP?"


"Hah ... SMP. Nai tidak tau ayah." Naila kaget dengan pertanyaan sang ayah.


"Apa karena dia, kamu putus dengan Heru?" tanya ayahnya lagi.


"Tidak ayah. Kak Nan tidak pernah memprovokasi apapun saat Nai dan Heru dekat." Jawabnya sungguh-sungguh.


"Apa kamu juga bilang kalau Dicky dan keluarganya datang berniat melamarmu?" pertanyaan yang bagi Naila agak sulit di jawabnya.


"Heeem. Tidak langsung. Tapi, sepertinya dia curiga begitu. Entah, dari mana kak Nan tau, jika Dicky datang tadi." Jujur Naila pada ayahnya.


"Tadi Nandang melamarmu lewat ayah."


"Hah ...?"


"Ayah jawab apa?" penasaran Naila dengan jawaban lamaran kekasihnya.


"Ayah tolak." Jawab Pak Bagus dengan santai.


"Ayah tidak setuju Nai dengan kak Nan?" tanya Naila pelan. Ada kecewa terdengar dari dengusa nafas Naila. Tak mengira ayahnya menolak lamaran kekasihnya.


"Ayah tak setuju dengan alasannya melamarmu. Itu saja." Jawab singkat Pak Bagus menatap lekat wajah sendu Naila.


"Memangnya apa alasannya?" penasaran Naila.


"Kamu tanyakan dia saja. Mungkin ayah yang salah mengartikan maksudnya." Hanya itu yang Pak Bagus katakan sebelum beralih, mengambil air wudhu sebab waktu Azar telah tiba.


Naila pun mengikuti kegiatan ayahnya. Melakukan sendiri ibadah itu di dalam kamarnya. Menumpahkan segala isi di kepalanya, yang penuh dengan pertanyaan yang ia sendiri tak tau jawaban, bahkan masalahnya.

__ADS_1


"Ndin. Kak Nan ada di rumah?" chat Naila pada Andini sahabatnya sekaligus calon iparnya tersebut.


"Sudah sejak pagi Kak Nan pergi. Katanya mau daftar kuliah S2. Tapi ga tau sampe sekarang belum kembali. Mungkin daftarnya di Jakarta. Jadi lama di jalan." Jawab Andini setengah bercanda.


"Oh." Balasan yang tidak penting di tulis Naila pada kolom aplikasi hijau tersebut.


"Kenapa?" penasaran Andini.


"Ga papa."


"Bohong."


"Tadi kami makan siang berdua. Tapi dia ga bilang mau kuliah lagi. Terus ke rumah, main catur sama ayah." Ketik Naila menjelaskan.


"Terus ...?"


"Kata ayah, Kak Nan melamarku..."


"Whaaaat....???" dengan cepat Andini melontarkan pertanyaan untuk mewakili rasa terkejutnya.


"Iya, kata ayah Kak Nan melamarku. Tapi, di tolak ayah." Lanjut Naila masih mengetik dengan rasa galaunya. Ia tak tau harus berbagu beban dengan siapa lagi, selain Andini. Saat ia tak mengerti akan jalan pikiran orang tuanya.


"Masa ...?" hanya itu yang mampi Andini tulis. Tak menyangka Pak Bagus menolak lamaran Nandang. Yang secara jelas dalam kesehariannya, sangat menyukai Nandang.


"Makanya ku tanya di mana Kak Nan. Aku mau tau dari versinya dia. Bagaimana kronolagis penolakan lamaran itu." Ketik Naila dalan diamnya, masih di dalam kamar.


"Nasib Kak Nan segini banget yaaah. Udah sering gagal ikut tes CPNS, tiba giliran ngelamar anak gadis orang juga di tolak. Ha ... Ha ..." Bukannya sedih, Andini justru menertawi nasib sang kakak.


"Kabari aku jika Kak Nan ada di rumah ya Ndin. Ponselnya tidak aktif." Tulis Naila dengan perasaan nelangsa.


Tidak mungkin Naila merongrong ayahnya untuk jujur mengapa menolak Nandang. Tapi, Naila juga tidak bisa menebak alasan apa yang Nandang utarakan sehingga ia di tolak. Bahkan menunggu centang dua berwarna abu-abu di kolom chatt menjadi biru pun bagi Naila seperti menunggu ketok palu, sidang skripsi di nyatakan lulus. Gelisah, itu yang Naila rasakan.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2