
"Bukankah awal sebuah hubungan di mulai dari teman dekat yang nyaman kak? Jadi tidak menutup kemungkinan kan kaka sama dia." Naila terus saja mendesak agar Nandang mengakui hubungannya dengan Noni.
"Kalau semua teman dekat dan nyaman bisa jadi kekasih, kenapa tidak Nai saja yang jadi pacar kak Nan?" Kali ini Nandang tidak lagi bicara di dalam hatinya. Ia sungguh mengutarakan itu dengan lugas, walau berlindung dengan kelamnya malam, hanya samar sinar bulan membantunya menutupi rona merah di wajahnya karena menahan malu.
"Ha.. ha... bercandanya ga gitu juga kali Kak." Seloroh Naila yang tak sadar, ada tatap penuh harap dengan sungguh sedang mengintainya.
Nandang hanya ikut tersenyum, menyamakan ekspersinya pada gadis impiannya tersebut. Mata Nandang berhenti pada bibir gadis itu. Bibir ranum yang pernah ia kecup dalam mimpi pada malam pertama masa aqil baliknya.
"Kak... kita turun ya. Ini bukan larut malam lagi, tapi dini hari. Besok Nai masuk pagi. Ah... semoga mang Usman bisa jemput." Harap Naila sungguh.
"Jangan merepotkan mang Usman, bukankah kamu bilang anaknya sakit. Mulai besok biar kak Nan yang antar jemput kamu. Kemana pun. Nanti kak Nan ijin sama ayahmu." Nandang sungguh tak mau melewatkan kesempatan kali ini.
"Tentu saja ayah mengijinkan kalau kak Nan yang antar jemput. Lihat saja, sampai mereka pergi, hanya kak Nan dan Andini saja yang ayah percaya. Tapi, apa kak Nan tidak repot?" celetuk Naila yang sesungguhnya tidak sadar jika ayahnya sudah mengarahkan Naila dengan Nandang saja.
"Ga... jadwal kuliah sudah longgar kok. Ini sudah mau KKN. Jadi banyak santai." Jawab Nandang apa adanya.
"Baiklah jika tidak merepotkan. Tapi ada satu syarat kak." Naila mundurkan langkahnya berbalik le arah Nandang.
"Apa syaratnya?"
"Antar jemputnya pake motor kakak saja. Jangan pake mobil calon istri kakak." Tawanya berderai, seolah suka menyebut Noni itu calon istri Nandang.
"Heeeiii... calon istri kak Nan itu kamu Nai." Tawa Nandang ikut pecah. Sudah tidak ia peduli apakah Naila menanggapi serius atau tidak.
Yang Naila tau, Nandang adalah sosok kakak laki laki yang bertanggung jawab serta jujur dan penurut. Itu saja yang ia simpulkan dari pengamatannya selama ini.
"Kakak... makin malam makin ngaco deh. Ya... sudah. Selamat malam kak, mimpi indah ya..." ucapnya manis sekali.
"Ga ah... maunya mimpi Nai, kakak ga kenal sama indah." Nandang masih menyerangnya dengan ledekan segar yang selalu menyerempet.. pet pet.. peeeet.
"Hahaaaa... ternyata kak Nan norak juga. Okeh... jangan lupa bangun cepet ya kak. Supaya Nai tidak telat ngampus." Ujarnya mengingatkan Nandang.
__ADS_1
"Okeeh... siap bidadari."
"Iiih... Apa kopi buatan Nai tadi mengandung racun ya... kakak meracau parah niih." Naila sudah berada di depan kamar Nandang untuk beristrirahat.
"Maybe..." Nandang mengangkat dua bahunya masih dengan senyum terkembang tampan.
"Good nigth. Kak." pamitnya lagi.
"Good nigth. I will sleep with you in my dreams." Nandang mendusel pucuk kepala Naila, sebelum mereka benar masuk ke kamar masing-masing.
Deg
Kenapa semua tingkah dan ucapan Nandang begitu terasa aneh dan menjalar hangat di seluruh organ dalam sekitar hatinya.
Bahkan perasaan itu, tak pernah ia rasakan saat bersama dengan Heru kekasihnya. Apa karena ia terlalu terbawa suasana. Dinginnya malam ini, telah merusak tatanan organ tubuh bagian dalamnya. Hingga ucapan selamat malam sesederhana itu mampu membuatnya memanas, bergetar bahkan sulit untuk memejamkan matanya.
Seperti biasa Nandang selalu bangun subuh, pergi sholat ke masjid terdekat. Lalu mampir ke komplek mami Onel. Ada dua rumah yang sempat ia bersihkan.
Keadaan rumah di sana sudah tak separah dulu. Sebab Nandang rutin membersihkannya, jadi cukup di sapu dan di pel sebentar, pulangnya ia sudah bisa membawa lembaran uang biru dari sana, lumayan kan buat beli bensin dan traktir Naila.
"Ndin, ga kuliah?" tanya Nandang saat sudah selelsai mengangkut pakaian kotor ke atas loteng.
"Nanti kak pukul 10." Jawab Andini yang masih terlihat membalik telur dadar untuk sarapan mereka.
"Oh... iya. Kamu beda jurusan sama Nai. Dia tampak sudah siap." Ujar Nandang mengambil handuk akan segera mandi.
"Iya kak, dia ada kelas pagi ini. Tapi, supirnya kemarin saja tidak bisa jemput. Grab sepagi ini juga susah. Kakak, pagi ini kemana?" tanya Andini sebelum Nandang benar akan masuk kamar mandi.
"Kampus." Jawabnya singkat, sambil menyembunyikan tawanya dalam hati.
"Antar Nai sekalian ya kak. Kasian dia, takut telat." pinta Andini sesuai target Nandang.
__ADS_1
"Hmmm...." Jawab Nandang so ga mau. Padahal itu sudah ia dan Naila bicarakan semalam.
"Nai... kamu ke kampusnya di antar kak Nan saja ya. Bilangin mang Usman ga usah antar jemput hari ini. Biar dia fokus ngurus anaknya yang sakit." Saran Andini begitu bijaksana. Membuat Naila agak bingung, ingin bilang kalau ia akann berangkat dengan Nandang, tapi memilih diam saja.
"Nai... kamu bisa masak ga sih?" tanya Andini saat mereka berdua di meja makan memyantap sarapan pagi.
"Bisa." jawabnya singkat.
'Hmm... gantian masak kenapa?"
"Aku kan tamu An... masa boleh masak gitu." bela Naila pada dirinya.
"Jangan alasan deh. Siang nanti kamu yang masak ya. Soalnya aku pasti pulang pukul 2. Bakalan kelaparan kamunya kalo tunggu aku."
Naila mengangguk pelan tanda setuju.
"Biasanya kalau kamu telat pulang, makan siang siapa yang buat?"
"Kak Nan dong. Baru setelah ada Euis dan Entin saja kak Nan tidak melakukannya. Masakan kak Nan enak, gurih, lezat pokoknya." puji Andini. Yang kemudian sudah mencuci piring bekas makannya dan bergegas menghampiri emak untuk memastikan keadaannya pagi itu.
Sesuai kesepakatan semalam, Naila pun naik di belakang boncengan motor Nandang. Dengan tanpa prasangka saja, Naila meletakan bo kongnya dengan cepat, dan berpegang pada kaitan kecil di pinggang Nandang dekat panding.
Tadinya saat Andini melepas kepergian mereka berdua, ada ransel Nandang yang masih gelonjotan di punggungnya. Tapi saat baru saja keluar kawasan rumah Nandang. Ia menepikan motornya sebentar.
"Kenapa kak?" tanya Naila bingung karena laju motor terhenti.
"Lupa kalo bawa cewek, ranselnya mestinya di depan. Biar kamu ga sesak." Ujarnya cuek. Dan Memindahkan ransel agar bergantung menutup dadanya.
"Permisi ya... Kita akan melaju dalam kecepatan 80/km. Jadi tangannya di sini, biar ga jatuh." Nandang menarik kedua tangan Naila, untuk melingkar memenuhi permukaan perutnya. Tersembunyi di balik ransel.
Naila tak sempat menolak, juga tak ingin membantah. Memilih menikmati saja akan kebersamaannya yang hampir tak berjarak itu dengan Nandang.
__ADS_1
"Ya Tuhan... kenapa pelukan di atas motor ini begitu manis ya. Bahkan yang aku peluk bukan siapa siapaku? Apa sekarang aku sedang selingkuh dari Heru?" Naila membatin sendiri tanpa ekspresi.
Bersambung...