PEJUANG NIP

PEJUANG NIP
BAB 28 : PERTENGKARAN


__ADS_3

Nandang sudah berada di atas motornya yang sarat akan muatan pakaian kotor, sama seperti otaknya yang tiba tiba kotor. Setelah melihat bongkahan kembar milik tante Noni. Walau cuma dalam hitungan detik. Mana sempat nempel nempel lagi di punggungnya. Ternyata kenyal kenyal. Pikir polos Nandang.


Waktupun sudah lewat dari jam 10 malam. Ia baru tiba di rumah. Segera ia mengganti pakaiamnya, lalu membersihkan diri untuk segera beristirahat. Tak lupa singgah dulu di kamar Andini yang di dalamnya ada emak.


"Lho Ndin. Kenapa belum tidur?" Nandang terperanjat saat melihat Andini masih terjaga dalam kamar itu.


"Emak dari tadi gelisah. Cari kak Nan kayaknya." Ujar Andini yang dalam posisi duduk di atas tempat tidur memainkan ponselnya. Sedangkan emak ia biarkan duduk saja di kursi rodanya.


"Hape kak Nan di mana sih? Dari tadi Ndin telepon ga di angkat." Ujar Andini rada kesal. Ia bari saja terduduk di atas tempat tidurnya. Sebab dari tadi ia hanya keluar masuk kamar dan seluruh rumah, mendorong kursi roda emak, sebab Puspa selalu memyebut nama suaminya. Jika kursi roda itu berhenri, ia menangis. Baru setelah Nandang terdengar datang saja ia terlihat tenang.


"Maaf, kakak tidak dengar. Sejak di tempat terapis tadi pake mode silent. Jadi, kakak ga dengar panggilanmu."Jawab Nandang cengar cengir.


"Udah, kakak lagi yang temani emak. Ndin capek. Mau belajar juga, besok ada tes minat bakat." Dari raut wajahnya sangat jelas, jika ia sangat dongkol pada Nandang yang tak melihat puluhan panggilan teleponnya saat Nandang bekerja di komplek Onel.


"Iya nanti kakak yang tidurkan emak. Nih, kita bagi uang pendapatan kakak malam ini. Lumayan banyak 450rb nih, Ndin." Rayu Nandang pada adik perempuannya itu.


"Ga usah di bagi. Kakak cape kan cari duitnya. Pake aja sendiri, mungkin kakak memang lagi perlu banyak uang. Sampai segitunya cari uang, lupa sama emak." Ketusnya marah dan tidak melirik sekalipun pada uang yang di sodorkan padanya.


"Siapa yang lupa sama emak? Kakak cari uang buat kita Ndin. Kenapa marah begitu?" Nandang juga lelah dan bukan sengaja ia rela membanting tulang bekerja hingga malam datang.

__ADS_1


"Ndin suka kakak pintar cari uang, tapi Ndin ga suka kalau kakak lupa waktu hanya demi uang. Ingat, kakak juga manusia, bisa capek, bisa sakit. Jangan jadi budak uang. Cukup emak yang sakit, kakak ga boleh sakit karena kelelahan. Kalo cari uang hanya untuk keperluan sehari hari dan untuk pengobatan emak. Kita masih punya tabungan masing masing. Ga usah sekoyo itu ngejar uang." Ujar Andini masih kesal.


"Soal tabungan itu, bukankah untuk masa depan kita? sedapat mungkin jangan kita utak atik Ndin. Jika memang ada jalan untuk tidak menggunakannya sebaiknya di hindarkan." Nandang membela diri.


"Masa depan mana lagi? kita sekarang sedang di masa depan itu, kak. Ndin tahun ini sudah kelas XII, masuk kuliah pun memilih yang negeri, Ndin juga kejar beasiswa agar semuanya irit. Lalu untuk apa cari uang sampai segitunya, ga tau waktu!!!" Geram Andini yang tidak suka di tinggal malam malam berdua saja dengan emak.


"Dulu waktu emak sehat, mak ga pernah mau kerja sampe malam kayak gini. Apa karena kakak laki laki jafi merasa hebat dan kuat untuk melawan segala kejahatan di luar sana? Kakak lupa tempat kerja kakak itu tempat kerja yang ga benar? bisa saja kan kaka terlengaruh atau tergoda?" Lanjut Andini lagi.


"Bukannya kakak hebat. Di sana kakak juga kerja cuma bersih bersih, ga yang lainnya." Nandang terus membela dirinya.


"Selama kak Nan sadar, Ndin yakin kakak hanya bersih bersih. Tapi apa kakak bisa jamin mereka yang di sana hatinya bersih? Kalau kakak di buat mabuk bagaimana? Kakak bisa jaga diri agar selalu waras? Miras, Narkiba dan zat adiktif lainnya semua adadi sana kak. Semua mungkin terjadi jika manusia sudah di penuhi naf su setan." Marah Andini semakin menjadi. Usianya belum 17 tahun. Tapi pikiran Andini justru lebih matang dari teman sebayanya.


"Cukup emak yang sakit, jangan kakak tambah penyakit baru lagi di rumah ini. Ndin lama lama juga capek. Ndin mau yang normal saja. Dengan hasil laundry kita bisa bertahan hidup kok. Bahkan berlebihan. Buktinya kita masih selalu bisa menabung." tegur Andini melemah.


"Iya maafkan kakak. Sudah istirahat saja. Nanti kakak yang urus emak." Ujar Nandang yang tau akan salahnya.


"Kak maafkan Ndin ya." Ujarnya lagi. Ia tau ia hanyalah adik, bahkan berusia paling muda di rumah itu.


"Ndin ga salah. Kakak yang salah, maaf dan janji tidak akan mengulanginya lagi." Usap Nandang pada kepala adiknya yang sudah beranjak dewasa ini.

__ADS_1


"Kak Nan... ingat cari uangnya jangan sampe banyak. Sebab Allah kasih cobaan selalu setimpal dengan kemampuan kita. Jadi, kalo uang kita banyak ntar di cobanya yang berat berat deh." Andini mulai melunak.


"Iya... iya. sedapatnya kakak bisa bagi waktu aja kerja bersih bersih rumahnya kalo gitu." Jawab Nandang mengalah pada adiknya.


"Penghasilan laundry kita saja sudah bisa bayar jasa yang jaga emak. Lalu uang hasil bersih bersih kakak nanti bingung buat apa kali kebanyakan." Ledek Andini lagi.


"Kamu kira kira sibuk ga Ndin tiap jumat?" tanya Nandang yang sudah berhasil membaringkan tubuh emak di tempat tidurnya.


"Memangnya kenapa?" tanya Andini heran dengan pertanyaan Nandang.


"Biasanya kalo kakak berangkat ke kampus, kakak sering berpapasan dengan para tukang sapu jalanan. Pagi sekali mereka sudah harus selesai bebersih. Bagaimana kalau tiap jumat kita bersedekah. Ya sekedar buat nasi bungkus lah, 20 bungkus kakak kira cukup. Tidak berat bagi kita yang mengadakan, dan lumayan berarti untuk yang menerimanya. Kakak yakin jam segitu selesai bekerja, mereka pasti belum sempat sarapan di rumah sebelum bekerja." tiba tiba ide Nandang muncul. Untuk merontokan dosa dari uang hasil bekerja di komplek Onel.


"Wah... kalo Andin yang masak tidak sempat Kak. Nanti Ndin tanya sama Entin. Jika di bersedia menyiapkannya, maka akan Ndin minta dia yang siapkan. Tapi kalau tidak. Kita beli saja, tiap pagi jumat itu. Bagaimana?"


"Oke... tolong Ndin yang tanya sama Entin. Kita berbagi bukan karena sudah punya banyak uang. Tapi wujud syukur kita, walau keadaan emak belum pulih benar. Kita masih di beri Allah jalan untuk mendapatkan uang." Tutur Nandang.


Tampak Puspa pun sudah menutup matanya dengan tenang. Terbuai lelap setelah Nandang mengusap punggungnya dengan minyak kayu putih memberi rasa hangat yang merata.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2