PEJUANG NIP

PEJUANG NIP
BAB 71 : NANDANG NORAK


__ADS_3

Nandang sudah melahap semua buku panduan dan kisi kisi soal tes CPNS untuk menunjang kerja otaknya agar tak beku selama menyandang gelar Sarjana Hukum, yang tak terasa sudah setahun berlalu.


Hubungannya dengan Naila masih terjaga dengan baik, indah juga sehat. Nandang sedikit terbantu karena usia Naila di bawahnya, tentu tak ada rongrongan untuk hubungan mereka segera berakhir di pelaminan. Dengan alasan Naila masih harus menyelesaikan kuliahnya. sama seperti Andini, adiknya.


Sehingga dalam sepanjang waktu yang mereka habiskan bersama selama itu, tak pernah mengarah ke rumah tangga atau ikatan pernikahan.


Sementara kini Nandang sungguh lebih fokus pada usaha loundrynya yang bahkan sudah memiliki 2 cabang dan 1 pusat yang bersentral di rumah mereka.


Pekerjanya tak hanya Euis. Tiap cabang memiliki 2 pekerja. Dan di rumah pun sama, dengan Andini sebagai leadernya.


Nandang mampu membeli kendaraan roda empat. Dengan bantuan pinjaman di Bank menggadaikan SK janda milik emak. Untuk mencukupi kekurangan tabungannya dan Andini.


Kedua anak ulat itu kini sungguh telah berubah menjadi kupu kupu dewasa. Yang selalu bijak serta cermat mengatur kehidupan mereka. Memiliki emak yang berangsur sehat, juga tak lepas dari usaha keras yang mereka lakukan. Mengorbankan dana juga tenaga yang ekstra.


Sesungguhnya, tak hanya karena Naila belum menjadi sarjana penyebab utama hubungan mereka jalan di tempat. Melainkan, lagi lagi Nandang merasa minder. Akan statusnya, yang menurutnya adalah pengangguran terselubung.


"Ndin... apa sebaiknya kak Nan putus saja ya sama Nai?" tanya Nandang pada Andini suatu hari saat mereka hanya berdua di atas loteng.


"Kenapa mau putus?" Andini agak terkejut.


"Ya... takut aja hubungan kami hanya buang waktunya Nai. Kamu tau sendiri, sudah setahun kakak jadi pengangguran. Punya ijazah tapi ga bisa di gunakan. Kak Nan ngerasa seolah tidak bermanfaat jadi manusia." Curhatnya.


"Nganggur gimana? tuh usaha laundry kita justru makin berkembang, setelah kakak fokus. Tidak nyambi kerja di komplekan mami Onel. Ga kuliah juha. Kak Nan justru telah buka lapangan pekerjaan untuk orang lain." Andini tak ingin mematahkan semangat sang kakak.

__ADS_1


"Iya... tapi pekerjaan itu tidak sesuai dengan ilmu yang kakak pelajari di bangku kuliah. Kenapa kakak tidak ambil jurusan ekonomi bisnis saja, kemarin." Seolah ada rasa sesal dalam ungkapan tersebut.


"Ga masalah kali kak. Kakak kuliah jurusan hukum, karena ga ngerti soal hukum. Dan soal berbisnis, sepertinya malah sudah naluriah sekali. Tanpa mendapatkan pendidikan yang memadaipun kakak malah jago dan cermat dalam usaha tersebut. Lagi pula, bukankah itu pilihan kakak." Ujar Andini panjang lebar.


"Heem... ya. Dulu kakak sangat bangga melihat para hakim dan jaksa. Membela kebenaran, menentukan siapa yang bersalah, dan membuktikan fakta juga tepat menyatakan siapa yang benar dan salah. Bagi kakak, itu adalah pekerjaan terkeren." Nandang melempar ingatannya pada masa ia sedang berseragan putih abu. Yang begitu ingin menjadi seorang hakim, jaksa atau juga pengacara. Sebab itulah ia mengambil jurusan Fakultas Hukum.


"Kakak masih punya banyak waktu dan kesempatan untuk meraih semua itu. Ndin rasa, itu tak menjadi alasan untuk putus dengan Nai. Bukankah akan lebih keren jika, kakak dan Nai saling berbagi keluh sejak dari nol. Berganti ganti saling menyemangati satu sama lain. Apalagi sekarang Nai sedang menyusun skripsinya. Kebetulan dosennya lumayan detail, juga agak cerewet. Saran Ndin, kakak jangan mikir atau minta yang aneh aneh deh. Pake acara mau putus segala. Dia sedang butuh bahu untuk bersandar kak, bukan kayu lapuk yang mudah rapuh. Hanya kakak yang tau bagaimana lama dan sulitnya mendapatkan Nai. Terlalu tempe jika kakak mau menyerah." Panjang dan lebar Andin memberi pandangan. Ucapannya hampir sama dengan emak, waktu masih sehat. Sebelum kecelakaan waktu itu.


Emak yang selalu punya nasehat penuh inspiratif dan tak pernah berpikiran negatif pada siapapun. Kebiasaan hidup bersama orang yang baik tentulah tertular baik. Walau perjalanan hidup tak semulus yang di inginkan. Sebab Tuhan selalu menempatkan musibah untuk menaikkan derajat manusia, juga memberi ujian, agar selalu mawas diri juga mengukur kesetiaan hati ciptaanNya.


Baik Nandang maupun Andini adalah dua kakak beradik yang sejak masa kecil hidup prihatin dan sederhana. Hampir tak pernah bertengkar secara serius. Kecuali masalah yang prinsipil sekali.


Semuanya mereka bicarakan dengan baik baik. Tak terkecuali pembahasan mereka saat itu.


"Boleh nangis ga sih, Kak?" curhat Naila langsung menyambar tubuh Nandang tanpa malu dan menumpahkan tangisnya di dada kuat yang memang pernah ia janjikan untuk Naila bersandar saat berbeban berat. Saat mereka berada di atas loteng, tempat favorit mereka untuk berdua duaan.


"Mau bilang ga boleh, tapi udah di seruduk gini." Canda Nandang menepuk punggung Naila pelan.


"Maaf kak. Aku tuh, sensi banget kalo di singgung soal skripsi. DosPem 1 lagi cuti lahiran, susah ketemu. Yang satunya super pendiam kak. Mau terima konsul kalo sudah di ACC dosen yang lahiran itu. Ngeselin ga sih kak?" lanjutnya menjelaskan.


"Ya ga papa. Jadi punya banyak waktu mikir buat yang lebih bagus dan sempurnakan." Jawab Nandang.


"Ga gitu juga Kak. Kan aku telat dari yang lain jadinya. Temen temenku, hampir semua udah punya jadwal ujian kak. Lah, aku bab tiga, mentok ga maju maju." Rengutnya.

__ADS_1


"Naila sayang... yang namanya orang nifas. Tentu perlu proses penyembuhan, dan sedang butuh privasi. Tapi, semua itu ada masanya. Pun, ga mungkin sampe setahun juga, cutinya." Bijak Nandang keluar jika sudah di posisi begini.


"Ya iyalah... mana ada segitu lamanya. Paling dua bulan juga udah bisa ngampus." Jawab Naila lebih tenang, dan tentu sudah melerai pelukannya sendiri.


"Naah... kan. Kalo cuma tertunda dua bulan, ga bakalan buat kamu terlambat apa lagi DO, kan?"


"Iyaaa....kak. Tapi, kapan aku revisi kalo mau selesai sama sama yang lain?" cecar Naila agak kesal dengan kesabaran Nandang.


"Ga masalah kapan mulainya Nai. Yakin finishnya sama sama. Kaya Kak Nan yang sejak SMP naksir kamu, Dan akhirnya baru jadian di penghukung masa kuliah. Toh, sekarang udah ga ketahuan mana yang cinta dari dulu, sama cinta yang cuma pelarian." Sengaja Nandang menyindir Naila.


"Eh... siapa yang pelarian. Orang Nai suka beneran juga." Belanya agak keki.


"Hah... suka aja nih?" goda Nandang.


"Iish... kak Nan." Malu Naila.


"Ga malu Nai, punya pacar pengangguran?"


"Kak Nan ngomong apaan sih."


"Kenyataan... punya ijazah apa, kerjanya di bidang apa, coba?"


"Kak Nan, norak deh." Kekeh Naila.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2