PEJUANG NIP

PEJUANG NIP
BAB 48 : TERLUKA TAPI TAK BERDARAH


__ADS_3

Naila dan Nandang sudah berada di café pilihan Naila. Nandang baru sadar jika selama ini ia terlalu mendominasi pilihan tempat mereka jalan-jalan. Tapi tidak dengan malam ini. Ia memberi kesempatan pada Nila untuk memilih.


Naila memang telah menunjuk sebuah café yang bernama A’Stronge. Tapi tidak dengan pilihan tempat duduk. Entah mengapa, Nandang selalu suka tempat yang agak sepi, di pojokan dan tidak terang.


“Kenapa kita ga duduk di tengah kak? Apa kakak malu seperti Heru, yang selalu mengajak Nai duduk di pojokkan?” tanya Naila tanpa basa basi.


“Hah… tidak. Itu tidak ada hubungannya. Kakak hanya suka melihat gerak gerik orang dari jauh, tanpa orang tersebut melihat kakak. Ya semacam cinta sendiri begitu.” Jawab Nandang santai.


“Hmm… kayak lagu aja. BTW kak, Nai lupa tanya. Jadi gimana tentang cewek yang membuat kakak jatuh cinta. Apa sudah termiliki?” tanya Naila cuek tanpa tau jika target Nandang adalah dia.


“Oh… sebentar lagi. Mungkin setelah pulang KKN nanti baru kakak nyatakan padanya.” ucap Nandang pasti.


“Oh iya.. kapan kakak mulai KKN?”


“Lusa Nai.” Jawabnya agak lesu.


“Kok ga semangat gitu kak?”


“Tidak juga, maklumlah ini pertama kalinya kakak meninggalkan rumah dalam waktu lama. Kakak harus ninggalin Andini dan emak. Semoga mereka baik-baik selalu.” Alasan Nandang, padahal tambahannya ialah ia takut di landa rindu pada gadisnya impiannya tersebut.


“Tenanglah kak. Nanti Nai minta dengan ibu, akan sering sering menengok An. Saat kakak tak ada di rumah. Atau Nai minta sekali kali, Nai tidur di rumah kakak lagi. Bagaimana?” usul Naila dengan antusias.


“Tidak usah. Itu akan merepotkan kalian saja. Kakak percaya Andini bisa. Lagi pula hanya jadwalnya 2 bulan. Padahal nanti juga aka nada libur beberapa hari dalam dua minggu.” Jelas Nandang lagi.


“Tidak repot kak. Nai suka tinggal di tempat kakak. Banyak teman ngobrolnya. Apalagi sama kakak. Suka lupa waktu kalo sudah ketemu dan bicara.” Naila mengaduk capucino es yang di pesannya.


“Waw, tumben makan manis di malam hari. Sudah ga mikirin diet lagi Nai?” Tegur Nandang.


“Ga papa kan sekali kali. Kan kakak yang bilang diet boleh tapi jangan sampai menyiksa diri. Anggap saja Nai sedang selingkuh dari daftar menu diet itu.” Tawa Naila lebar.


“Masih mau diet?”

__ADS_1


“Mau sih… tapi ga tau kapan mulai?”


“Lho… Heru apa sudah ga bawel lagi mengingatkanmu?”


“Sejak malam minggu di rumah kakak, kami tidak pernah berkomunikasi lagi kak.”


“Kalian putus?” tanya Nandang agak girang dalam hatinya.


“Ga tau…”


“Kok gitu?”


“Ya dia tidak pernag menghubungi Nai lagi, sepertinya Nai sudah di blokir kak.”


“Kan kamu tau nomor ponselnya, telponlah terlebih dahulu, ga usah gengsi.”


“Yang kasar siapa? Yang harus menghubungi duluan siapa?” ujarnya kesal.


“Jangan lupa hubungan kalian sudah masuk tahun ke tiga. Masa harus putus? Yakin sudah siap menyandang predikat jomblo?”


“Jadi…?”


“Nai sudah anggap kami putus kak.”


“Tidak bisa Nai. Bagiamana kalian pernah berkomitmen bersama, harusnya pisah pun harus dengan kesepakatan bersama. Kita tidak tau apa yang terjadi ke depan.”


“Tapi dia duluan yang tak menghubungi kak. Dia juga yang salah, masa Nai yang cari dia.”


“Wajar saja, Nai cari dia untuk sebuah keputusan yang jelas. Kalau ini di biarkan, kalian akan menjadi musuh. Dan pertikaian akan selamanya menjadi masalah. Jadi, sebaiknya putuslah dengan baik-baik.” Nandang masih gencar menyarankan agar Naila segera putus secara diplomasi dengan Heru. Dengan begitu ia tentu bukan tipe perebut kekasih orang kan, jika saja nanti ia berhasil mendapatkan hati Naila.


Obrolan mereka terhenti karena ada sepasang orang yang berjalan mendekat ke arah meja mereka. Kemudian berhenti tidak jauh dari mereka. Oh… sepertinya mungkin mereka adalah sepasang kekasih, sebab dari gesturnya, tubuh keduanya saling melekat, dekat dan lengket.

__ADS_1


Posisi Naila menghadap Nandang, sehingga tak tapat melihat pasangan yang baru datang tadi. Tapi, tidak dengan Nandang. Ia bisa mengenali dengan jelas jika yang datang itu kalau tidak salah lihat adalah Heru. Perawakannya mirip dengan Heru, ia datang dengan seorang wanita yang kurus, tinggi juga lansing, sering di singkat dengan kalimat kutilang.


Nandang tak ingin memberi kode apa-apa pada Naila. Ia membiarkan saja Naila nanti tau sendiri, atau tak perlu tau sama sekali hingga mereka pulang nanti. Tapi ternyata tidak bisa. Sebab, suara pasangan itu cukup nyaring dan dapat di tangkap Naila suara lelaki yang memang di kenalnya itu.


“Gimana kalo model ini yank…?” suara wanita itu manja, menyodorkan gambar di ponselnya.


“Ayang, sukanya yang warna apa? Dan latar motifnya gimana?” Jawab Heru. Yang langsung membuat Naila menoleh kebelakangnya. Posisi mereka saling berberlakangan. Jadi, kemungkinan untuk mereka bertemu muka itu sangat kecil.


“Ya jangan semua terserah aku donk sayang. Ini pertunangan kita, ya ga bisa semuanya jadi terserah aku. Sayang suka model undangannya yang gimana?” Ucap wanita itu lebih manja lagi, dan menyandarkan kepalanya di bahu Heru. Sebelum menjawab, Heru mencium pipi wanita itu terlebih dahulu.


“Pokoknya terserah, mau undangan, cincin dan dekorasi terserah ayank saja.” Tegasnya lagi yang membuat Naila agak meradang, akan berdiri seolah ingin melabraknya. Tapi tangan Nandang segera memegang tangan Naila, dan memberi kode menggelengkan kepala, meminta Naila tetap pada posisi duduknya. Naila patuh, walau emosi tetap memilih duduk, dan kembali menyendengkan telinganya dengan cermat, demi mendengar kalimat selanjutnya.


“Kalo semua terserah aku, sayang milih bagian apa dong?”


“Lingerienya dong. Yang biasa ayang pake kurang se k si. Nanti aku yang pilih, oke sayang?”


“Waah … penasaran deh, ayank pilih model gimana? Jadi ga sabar.” Centilnya makin manja.


“Aku juga sudah ga sabar.” Ucap Heru semangat.


“Ga sabar apa?”


“Ga sabar nyembur di dalam lah, emang enak selama ini kita mainya di luar terus.” Oh Tuhan… mengapa harus bicara sevulgar itu di tempat umum.


“Oh iya lupa. Gimana cewek gendutmu itu, yank. Udah beres di putusin?”


“Naila gendut? Udah lupain aja. Udah lama ini, kami tidak saling kontak. Otomatis putus aja kali. Ga penting juga aku pertahankan hubungan ga mutu kayak gituan.”


“Ha…ha.. ayank kalah taruhan dong?” kekeh wanita itu senang.


“Mending bayar kali, dari pada buang waktu bikin dia kurus, emang ototnya udah segede gajah gitu, mana bisa di bentuk lagi.” Suaranya terdengar kesal, tapi tak sedongkol hati Naila yang tercabik-cabik akibat perkataan yang baru saja keluar dari mulut kasar Heru.

__ADS_1


Kali ini, Nandang yang pindah tempat duduk. Mengambil posisi di sebelah Naila, dan langsung meraih kepala Naila ke dalam dadanya. Ia tau saat itu, Naila perlu dadanya untuk menyembunyikan tangisnya.


Bersambung…


__ADS_2