
Mang Karman sudah membawa seorang tukang yang ahli di bidangnya untuk mendesain sekaligus mengira-ngira rencana anggran dana yang akan di gelontorkan untuk menambah satu kamar permanen dalam rumah keluarga Nandang. Juga membuat cor dak beton untuk tetap menunjang usaha laundry mereka.
Mengingat mobil Noni yang harus segera mendapat tempat yang asri dan teduh, sehingga mereka mendahulukan meluaskan garasi di samping rumah keluarga Nandang tersebut. Sekalian rumah itu akan di buat pagar keliling saja. Yang tentunya memakan dana yang tidak sedikit. Tetapi Nandang maupun Andini sudah saling bersepakat dan telah menghitungnya dengan cermat.
Sebuah mobil berplat merah terparkir rapi di halaman depan rumah Nandang. Siapa lagi kalau bukan pak Bagus yang selalu menyempatkan mampir walau sebentar untuk memastikan keadaan emak Puspa dan anak – anaknya.
“Assalamualaikum.” Sapa Mereka hampir bersamaan ketika sudah di ambang pintu rumah yang di bagian depan sudah di penuhi bahan bangunan yang menumpuk akan segera di bangun.
“Walaikumsallam.” Jawab Euis yang saat siang menjelang sore selalu kebagian menjaga emak, sebab Entin sekarang setelah Emak makan siang selalu pulang, untuk kemudian akan menyiapkan makanan untuk suaminya.
“Maaf, cari siapa ya?” tanya Euis yang belum pernah kenal dengan tamu yang mengunjungi rumah Nandang tersebut.
“Aku Naila teman Andini. Kami sudah janjian, katanya suruh tunggu di rumah dulu. Ini ayah dan ibuku, juga teman emak.” Naila memperkenalkan diri.
“Oh… temennya kak Ndin. Aku Euis, yang bantu ngelaundry juga tinggal di sini, menjaga emak.” Euis memperkenalkan dirinya juga.
“Silahkan duduk dan menunggu. Euis permisi buatkan minuman dulu ya.” Pamit Euis sopan.
“Wis.” Panggil suara dari dalam kamar. Tentu saja itu emak yang ingin ikut keluar kamar mendengar suara orang asing di luar.
“Iya mak.” Jawab Eusi sembari setengah berlari mendatangi kamar emak.
“Naila…” Ucap emak pelan yang sudah mulai mengenal dan mengingat orang yang sering ia temui.
“Emak… makin sehat ya mak.” Ceria Naila ikut memegang tangan emak agar duduk bersama mereka di ruang tengah.
“Naila… emak bisa buat roti.” Ujarnya seperti anak kecil yang suka pamer kebisaannya.
__ADS_1
“Oh ya… Nanti kapan kapan buat rotinya yang banyak ya. Ibu Naila juga pasti mau mencicipinya.” Jawab Naila antusias.
“Mak… emak tau tidk dulu emak bukan hanya pintar bikin roti. Tapi menerima cathering makanan juga lho.” Jelas Tatik yang semakin yakin jika Puspa akan segera sembuh seperti semula jika selalu di stimulasi dengan cerita masa lalunya.
“Cathering makanan?” beo Puspa agak linglung.
“Iya… itu lho mak. Menerima aneka masakan dalam jumlah banyak untuk orang lain. Karena masakan emak itu enak.” Jelas Tatik pada Puspa yang memang harus dengan sabar memberitahukannya.
“Enak.” Beonya kembali dengan tatapan bingung.
“Assalamualaikum.” Sapa suara dari luar. Rupanya Nandang yang terlebih dahulu datang daripada Andini.
“Walaikumsalam.” Jawab mereka yang ada di dalam.
“Waah.. ada pak Bagus. Apa kabar pa, bu?” Nandang menyalimi kedua pasangan yang ia hormati itu dengan takzim.
“Alhamdulilah baik Nan. Tampaknya emak makin sehat ya Nan, sudah mu;lai bisa berkomunikasi, nyambung begitu.” Puji Bagus pada Nandang.
Lalu Bagus dan Nandang terlibat obrolan sesame laki – laki, karena Bagus penasaran dengan banyaknya bahan bangunan yang tertumpuk itu. Dan Nandang pun menjelaskan rencana pembangunannya. Dan Baguspun membenarkan rencana Nandang tersebut. Hingga Andini datang mereka pun kembali ngobrol sesuai tujuan awal mereka datang.
“Begini Nan, Andini. Sebenarnya tujuan kami datang ke sini. Mau minta ijin, minta tolong dan mungkin sedikit memaksakan kehendak.” Papar Bagus setelah mereka semua sudah berada di dalam satu ruangan.
“Insyaallah, rencananya awal bulan bapak dan ibunya Naila akan berangkat Umroh.”
“Alhamdulilah.” Potong Nandang.
“Jadi… berhubung bibi juga ikut umroh. Naila jadi tidak ada temannya. Mau di ajak, katanya ada UTS. Jadi apakah boleh sementara kami pergi, Naila tinggal di rumah ini. Bapak dan ibu tidak yakin jika Naila tinggal di rumah sendiri. Pilihannya, Andini yang tinggal bersama Naila di rumah kami, atau sebaliknya.” Jelas Bagus lagi.
__ADS_1
Nandang memandang Andini sekilas. Walau tak tersirat apapun dari sorot mata Andini, Nandang sudah mengambil keputusan.
“Ya kalau memang bapak tidak percaya dengan Naila, Nan juga tidak mengijinkan Andini tinggal di rumah bapak selama bapak dan ibu tidak di rumah. Jadi, ya biar Naila saja yang menginap di sini.” Putus Nandang cepat.
“Alhamdulilah… maaf merepotkan ya Nan.”
“Tidak repot kok, hanya mungkin Naila saja yang harus beradaptasi dengan keadaan rumah kami ini pak.” Nandang merendah.
“Nai… di sini ga ada AC, ga papa kan?” canda Nandang pada Naila yang hanya cemberut karena di goda Nandang.
“Kalo ga ada ya beli lah kak.” Andini mengambil kesempatan mengajukan usulannya.
“Boleh, tapi pasang di kamar kak Nan ya. Karena kalo Naila nginap di sini, kalian tidur di kamar kakak. Biar kakak yang tidur sama emak.” Nandang tak mau kalah mengambil kesempatan.
“Ih curang… kalo gitu ga jadi aja.” Tolak Andini.
“Kalau memang mau, Nan beli buat di kamarnya. Nanti bapak belikan untuk di kamar emak. Gimana?”
“Ga…!!” Jawab Nandang dan Andini bersamaan.
“Ha… ha…. Kompak banget sih.” Kekeh Tatik melihat respon kedua anak yang sejak kecil selalu manis itu.
“Tadi Cuma bercanda pak. Ga sanggup bayar bulanannya. Mesin cuci sudah cukup banyak menarik listrik. Walau ke tutup biaya operasional.” Jawab Andini yang di benarkan oleh Nandang.
Setelah kesepakatan untuk menitipkan Naila berakhir. Keluarga Naila pun kembali pulang dengan hati yang terasa enteng. Sesungguhnya mereka merasa tak nyaman harus merepotkan keluarga Nandang. Tetapi maklumlah, Naila anak semata wayang. Mana tega mereka meninggalkannya sendiri. Seandainya tidak sedang UTS, Naila lah yang seharusnya berangkat. Karena itulah, jatah Naila di gantikan oleh Bibi, ART mereka. Sebab, Bi Siti lumayan lama dan setia mengabdi dengan keluarga itu. Sehingga, mereka merasa pantas mengajak ART mereka itu untuk menjadi tamu Allah.
Nandang…
__ADS_1
Jangan tanya bagaimana senangnya hati Nandang, walau hanya dalam dua pekan saja nanti Naila tinggal di rumah mereka, ia bahkan lupa dengan tariff kamar seperti yang ia ajukan pada Euis beberap minggu yang lalu. Untung Euis dan Andini tidak memperhatikan kejomplangan itu. Lagi pula, mana Nandang berani meminta bayaran atau sewa kamar. Bukankah keluarga itu sudah lebih banyak memberikan bantuan pada mereka, bahkan sejak sebelum emak sakit. Mana bisa bibir Nandang berucap, hal yang hanya membuatnya seolah kacang lupa kulitnya itu.
Bersambung...