
Jadwal keberangkatan KKN tibalah sudah. Semua persiapan Nandang untuk meninggalkan emak, Andini juga Naila, pun sudah siap secara sempurna. Pagi itu pihak kampus melepas seluruh mahasiswa uang akan mengikuti KKN, di pimpin oleh Rektor beserta jajaran penting lainnya. Usai pembekalain singkat itu, mereka pun berangkat, menuju desa yang akan mereka tuju dan telah di tentukan.
Nandang termasuk dalam kategori lelaki tampan. Di sudut pipinya kadang muncul lesung pipit saat ia tersenyum, manambah ketampanan pastinya. Saat KKN mereka berbaur, tidak hanya bertemu teman satu jurusan, namun lintas jalur. Ada mahasiswa dari fakultas lain yang ikut dalam jadwal tersebut.
Tentu saja pemandangan berbeda dari biasa, selain suasana pedesaan, bertemu orang baru tentu membuat seru dan bertambah teman. Mereka di bagi 10 orang tiap kelompok di mana teman satu kelas paling terdiri dari dua orang, selebihnya semua teman baru dan asing.
Nandang jadi tranding topic. Ternyata walau lintas Fakultas, ia termasuk dalam pria idaman teman seangkatan mereka. Bahkan ada yang sudah menjadi penggemarnya sejak mereka masuk kuliah, saat ospek. Kebayangkan bagaimana respon kaum hawa itu saat tau mereka bisa KKN bareng bahkan satu kelompok dengan Nandang wahai pria pujaan.
Gadis, namanmya Gadis. Ia mahasiswa dari fakultas ekonomi. Lumayan cantik. Juga berasal dari keluarga berada. Terlihat dari pakaian yang ia gunakan, saat almamater mereka sudah di tanggalkan. Dan mereka mulai tinggal di rumah yang sudah di sediakan oleh Kepala Desa. Aksesoris yang ia gunakan adalah barang bermerk dan branded.
“Selamat sore semua perkenalkan saya Akbar dosen pembimbing di kelompok kalian.” Sapa seorang dosen yang Nandang di dalamnya.
“Soree.” Jawab mereka serempak.
“Dalam melaksanakan proker proker KKN ini, di butuhkan kekompakan di dalam kelompok ini. Mengingat saya juga tidak bisa secara intens membimbing kalian. Maka kelompokini harus punya ketua, sekretaris juga bendahara yang akan memiliki tanggung jawab lebih dalam memimpin kelompok ini. Juga untuk memudahkan saya memanyau dari jarak jauh nantinya.” Ucao Akbar panjang lebar.
“Untuk itu silahkan kalian berdiskusi untuk menentukan siapa saja di antara kalian yang kalian percaya untuk menjadi ketua dan penngurus inti lainnya. Setelah sholat magrib, tolong namanya sudah siap. Sekarang silahkan membersihkan diri dan melepas lelah terlebih dahulu.” Isi breafing dari Akbar, dosen muda yang lumayan pelit dengan nilai. Karena ketelitiannya dalam menilai hasil pekerjaan mahasiswanya.
Saat breafing tadi, waktu menunjukkan pukul 4 sore. Tentu mereka punya banyak waktu untuk menentukan pilihan siapa saja mahasiswa yang di percaya menjadi pengurus inti dalam kelompok tersebut.
Nama Nandang menajdi kandidat kuat dalam kelompok tersebut. Sehingga ia tak bisa menolak saat kepercayaan teman sekelompoknya merujuk padanya. Dan Gadis berhasil melakukan konspirasi dalam pemilihan tersebut agar dialah yang akan menjasi sekretaris Nandang. Tentu saja agar kemana mana ia akan lebih banyak berinteraksi dengan Nandang. Dan Januar terpilih sebagai bendahara kelompok itu. Dan nama nama pengurus inti tersebut sudah berada di tangan Akbar, beserta no ponsel ketiga mahasiswa tersebut. Untuk memudahkannya bertukar informasi nantinya.
Minggu pertama kegiatan KKN belum banyak menunjukkan hasil. Sebab hanya di isi dengan perkenalan dan pendekatan dengan warga desa tempat tinggal mereka saja. Segala kegiatan sudha saling di sepakati bersama anak muda karang taruna desa setempat. Dan kedatngan mereka di sambut dengan antusias oleh penduduk desa itu. Mungkin itu yang Pak Bagus maksudkan tempo hari bahwa mungkin saja Nandang bisa kepincut gadis desaanak kepala desa.
Di awal minggu, Andini dan emak pun baik baik saja. Signal di desa tempat Nandang KKN tidak begitu bersahabat. Mereka harus berjalan ke tempat yang lebih jauh dan tinggi jika ingin melakukan panggilan telepon atau hanya sekedar untuk berkirim chat WA.
__ADS_1
Dapat di bayangkan, bagaimana ramainya suasan tempat yang sigfnalnya bagus, tentu di penuhi para mahasiswa yang juga ingin bertukar kabar dengan orang tua atau teman dekat masing masing.
“Nandang… mau kemana?” Panggil Gadis mulai cari perhatian.
“Mau cari tempat nelpon.”
“Bareng …” Ucapnya agak manja.
“Ayo…” Nandang selalu ramah bukan? Pada siapapun. Apakah itu lawan jenis atau pun sesame jenis, tua dan muda selalu menjadi patner Nandangdalam urusan bicara.
“Nelpon siapa sih?” tanya Gadis kepo. Saat mereka sudah seleai bertele[pon ria di area yang spotnya bagus itu.
“Nelpon emak dan adikku.” Jujur Nandang pada Gadis apa adanya.
“Masa…? Ga nelpon pacar?” Pancingnya.
“Waaah ada lampu hijau nih.” Sosor Gadis percaya diri.” Nandang hanya tersenyum penuh arti.
Nandang apa danya, tidak di buat buat. Mau bilang sudah punya pacar. Kenyataan memang begitu, ia masih jomblo bukan. Mau bilang sudah punya Naila, kan belum jadian juga.
SEjak itu, Nandang mendapat perhatian dan pepetan yang luar biasa dari Gadis. Bahkan selalu mendapat pelayanan prima, terutrama masalah pembagian makanan yang selalu di prioritaskan oleh Gadis. Ia tidak hanya bersikap layaknya sekretaris. Tapi lebih tepatnya bagai seorang kekasih yang selalu memperhatikan dan tak ingin jauh dari Nandang.
Sementara Nandang, terkadang tak henti hentinya berpikir. Tema apa yang cocok untuk memulai chatnya dengan Naila. Hari itu sabtu. Malam minggu. Mereka sudah terbebas dari segala rutinitas dan kegiatan yang menyita waktu. Seandainya kota mereka dekat. Mungkin mereka bisa pulang. Tetapi ini belum waktunnya libur. Maka area signal penuh lah menjadi tempat tujuan mereka sekarang.
“Nai… lagi ngapaian?” Chat Nandang. Dan ternyata tak membutuhkan waktu lama untuk melihat tanda centang yang abu-abu dua itu berubah menjadi biru.
__ADS_1
Tetapi, tak dapat balasan. Melainkan icon camera warna biru yang bergerak ke atas ke bawah, minta segera di angkat.
“Nai…” ucap Nandang di tempat yang agak remang.
“Kak Nan. Kok gelap?”
“Iya… hanya di sini signalnya yang bagus. Tapi gelap.” Jawab Nandang pelan.
“Oh… kak. Liat Nai sedang dimana?” ceria Naila saat bervideo call dengan Nandang.
“Itu kamar kak Nan bukan?” Tebak Nandang melihat dinding itu mirip kamarnya.
“Yaah ketahuan.” Jawab Naila tersenyum manis. Mambuat Nandang semakin rindu saja.
“Ya iyalah, masa Kak Nan ga kenal dengan kamar kakak sendiri. Nai tidur di kamar kakak lagi?”
Dengan mengangguk Naila mengiyakan. “Iya kak. Ijin ya. Tapi, Nai tidur sendiri. An, sama emak.” Lanjutnya lagi.
“Berani tidur di situ sendiri?”
“Berani lah…”
“Kali aja takut.”
“Terus kalo Nai takut, boleh bawa Euis gitu?” tanya Naila sambil terkekeh.
__ADS_1
“Jangan. Nai sendiri aja tidur di situ. Kan sudah kak Nan bilang, jangan nginap kalau kakak ga ada. Jadi tidur sendiri kan.” Ujar Nandang apa adanya. Dan semua obrolan itu tak luput dari pendengaran Gadis yang penasaran siapa lawan bicara Nandang malam minggu itu.
Bersambung…