PEJUANG NIP

PEJUANG NIP
BAB 36 : PISANG BAKAR


__ADS_3

Hampir magrib Naila baru tiba di rumah Andini, menggunakan grab. Naila tidak di ijinkan mengendarai motor sendir, walau ia bisa dan memiliki kendaraan pribadi. Mana boleh Naila mengendarai sendiri dengan jarak yang jauh, ayah dan ibunya sangat memproteknya. Selalu ada supir yang mengantar dan menjemputnya jika pa Bagus sedang sibuk. Dan hari itu supirnya minta ijin mendadak. Sehingga ia pun patuh untuk tidak memakai motornya ke rumah Andini.


"Assalamualaikum, An." sapa Naila saat akan masuk ke dalam rumah.


"Walaikumsallam Nai. Sama siapa?"


"Taxi online."


"Mang Usman mana?"


"Anaknya sakit."


"Oh... kenapa tidak minta antar sama mas Heru mu itu?" tanya Andini ingin tau.


"Tadi sih ketemu di taman pas, aku lari. Tapi ga ada tawaran juga mau anterin aku pulang. Hehehehee."


"Kamu pacaran gimana sih sama cowok itu? Masa nganterin kamu kemana mana aja ga pernah. Jangan jangan dia cuma mainin kamu Nai."


"An... pliis deh jangan berburuk sangka."


"Bukan berburuk sangka sih. Cuma ku aneh aja dengan gaya pacaran kalian. Kamu tuh kaya cinta sendiri tau ga sama dia."


"Tapi dia masih care kok sama aku An. Masih suka kasih semangat untuk aku ga malas ngerjain tugas. Untuk ga ninggalin sholat. Juga ingetin kalo berat badanku jangan ke kanan lagi jarumnya pas nimbang. Itu artinya dia sayangkan sama aku?" papar Naila yang tidak sadar jika ada Nandang di dapur, mengawasi pekerjaan tukang bangunan.


"Itu sih bukan sayang. Tapi apa ya namanya... duh ga ngerti juga sih aku, apa namanya. Pokoknya, bagi aku pria yang masih nuntut ini dan itu dari ceweknya, itu bukan sayang. Tapi maksa."


"Tapi aku ga ngerasa terpaksa melakukannya. Aku juga mau kurus kok, bukan karena dia minta."


"Iya kamu ga terpaksa tapi itu menyiksamu kan?" Cecar Andini yang seperti tak suka hubungan Naila dan Heru.


Mereka cukup lama berpacaran. Sejak Heru menjadi kaka tingkat di kampus yang sama, walau beda jurusan. Hubungan mereka juga sudah di ketahui oleh orang tua Naila.


Pak Bagus tak pernah melarang namun bukan berarti mengijinkan Heru dengan bebas mengajak Naila kemana mana.


Gaya pacaran mereka lebih mirip anak sekolahan, yang kencannya hanya di teras rumah. Yang malam minggunya hanya nonton bioskop dengan jam malam yang pak Bagus tentukan.


Naila menerima saja aturan itu, ketimbang tidak di ijinkan sama sekali. Dan baginya Heru mengerti akan ketatnya peraturan ayah Naila. Sehingga terlihat menurut dan menerima saja aturan sang ayah kekasihnya itu.

__ADS_1


"Ndin... besok kita sudah bisa pindahkan mesin cuci ini ke atas. Semuanya sudah selesai di sana. Lumayan kan di bawah sudah makin luas." Ujar Nandang tiba-tiba masuk ke rumah.


"Astagafirulahalazim. Kak Nandang... bikin kaget saja." Naila terkejut dengan kemunculan Nandang yang baginya tiba-tiba itu, beda dengan Andini yang sejak tadi sudah tau ada Nandang di belakang.


"Kenapa kaget. Sejak tadi kak Nan memang di belakang." Kekeh Nandang senang melihat ekspresi terkejutnya Naila.


Merekapun bergegas mandi, sebab waktu sholat tiba.


Seperti biasa, waktu malamnya Andini dan Euis habiskan untuk merapikan pakaiam yang akan di antar oleh Nandang besok pagi.


Andini juga selalu dengan apik merekap pemasukan dan menyesuaikan pengeluaran untuk biaya operasional. Agar cocok. Dan dapat membayar jasa Euis, untuk Nandang yang bertugas sebagai kurir, juga jatahnya sebagai owner tentunya.


Rembulan sudah menjadi penguasa malam, bintang berpendar mengitarinya berhamburan, kerlap kerlip, seolah ingin menemani kesendirian Nandang di atas loteng yang baru selesai untuk lahan baru mereka mencuci dan menjemur pakaian.


Nandang sengaja meminta di buatkan meja dan tepian dari semen untuk duduk. Sehingga di malam seperti itu, ia dapat duduk menikmati kelamnya langit malam yang lebih tenang baginya.


Nandang teringat, mereka punya buah pisang. Maka Nandang bergegas turun untuk mengambil kompor kecil dan teflon. Lalu membawa pisang, coklat juga keju. Tentu saja semua itu membutuhkan lebih dari dua tangan. Sehingga, perlu dua kali naik dan turun tangga.


Naila kebetulan di belakang. Akan mengambil air putih untuk ia bawa ke dalam kamar.


"Kak Nan mau ngapain?" tany Naila melihat Nandang yang sudah menyiapkan beberapa bahan yang Naila tidak tau untuk apa.


"Sudah enggak kak. Kenapa?"


"Bantu kakak mau?"


"Bantu apa?"


"Bantuin kakak ngusir sepi." Kekeh Nandang absurd.


"Kaya lagi di hutan aja." Jawab Naila senang.


"Kak Nan mau buat pisang bakar coklat keju. Tapi di atas. Bersediakah Nai, bantu bawakan sebagian bahannya, supaya kak Nan ga bolak balik ngantar bahannya." Pinta Nandang lembut.


"Kira in. Minta bantu apa. Ya sudah mana yang Nai bawakan?"


"Makasih ya Nai. Tolong bawakan pisang dan kejunya aja. Kak Nan mau buat kopinya dulu, biar temennya nambah." Jawab Nandang lagi.

__ADS_1


"Boleh Nai saja yang buat kopinya? Nanti Nai bawakan sekalian." Tawarnya, membuat hati Nandang cenat cenut.


"Asyiiik... jika tidak keberatan. Kak Nan ga bisa nolak Nai."


"Ya sudah... kakak duluan naiknya. Nai nyusul."


"Oke deh. Ga pake lama ya Nai."


"Hiis... kaya bikin apa aja pake lama." tawa Naila hadir begitu menentramkan hati Nandang.


Malam kedua, bersama Naila. Mengala Nandang berharap umroh itu tidak hanya 14 hari ya?


Sebab, ia sangat menikmati keberaamaannya dengan Naila sang gadis pujaan ini.


Jika boleh meminta pada sang khalik, ia ingin waktu berhenti saja. Agar bisa lebih lama menikmati indahnya malam ini. Saat ada derai tawa dan kedekatan yang tercipta saat kegiatan sederhana iti mereka berdua lakukan di loteng.


Naila dan Nandang berada di atas loteng, sekedar membakar pisang yang tak seberapa banyaknya. Sehingga tentu tak membutuhkan waktu lama untuk mereka bisa duduk di sana. Tapi obrolan mereka justru semakim asyik saat dingin malam semakin menusuk.


"Kakak ke bawah sebentar." Pamit Nandang pada Naila yang terlihat masih memotong motong pisang di piringnya.


"Ngapain?'


"Bentar..." Nandang sudah berlari menuruni tangga. Dalam sekejab, sudah kembali membawa selimut untuk Naila.


"Nih... pake ini, biar ga masuk angin." Nandang menyampirkan selimut tipia itu di bahu Naila.


"Ah... kak Nan. Kaya kita lagi di gunung aja, pake selimut segala."


"Satu dingin, dua nyamuk Nai. Pa Bagus sudah percaya, kalau kak Nan bisa jaga Nai. Tapi, kalo sakit selama di titip di sini, gimana?"


"Ga semudah itu juga kali Nai sakit kak."


"Iya sih... kan Naila suka olahraga jaga kesehatan."


"Hah? kok kakak tau?"


"Kakak liat kok, sore tadi Nai lari di lapangan. Di temeni laki-laki, pakaiannya kaya habis pulang kerja. Dia siapa?" Nandang tak ingin menunda waktu untuk memastikan jika benar Naila sudah ada yang punya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2