PEJUANG NIP

PEJUANG NIP
BAB 85 : KERACUNAN


__ADS_3

Nandang, Naila, Pak Bagus dan Bu Tatik masih berada di meja makan. Belum selesai dengan sarapan pagi mereka. Namun, semakin larut dalam obrolan seputar isi angpau dan orang yang memberikannya.


“Ya ampun. Sosongko itu teman ayah. Dia kan Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan di Kota Bandung ini.” Ujar Pa Bagus pelan namun mampu membuat Nandang tersedak dengan isi informasi tersebut.


Naila buru-buru memberikan segelas air putih pada Nandang, menepuk kecil bahu belakang Nandang agar Nandang segera merasa baik-baik saja.


“Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan …? Bukannya Kak Nan bilang ayah angkatnya itu adalah tukang penambal ban?” Naila bertanya dengan nada suara penuh penekanan. Masa kan, Nandang berbohong padanya selama ini. Tentang profesi ayah angkatnya.


“Ha … ha … ha. Pak Sosongko memang pejabat yang terkenal low profile. Katanya menjadi tukang bengkel itu tugas mulia. Dan Beliau pernah menggantungkan hidupnya dari profesi tersebut, di masa mudanya. Sehingga, walau kini sudah hampir memasuki masa purna tugas. Ia memang tak pernah berhenti bekerja sebagai penambal ban. Bengkelnya sekarang hanya di bidang tambal ban saja, tidak dengan service yang lain.” Jelas Pak Bagus yang ternyata lebih tau dari Nandang.


“Kok, Bapak tau …?” tanya Nandang heran.


“Ayah Nan, panggil ayah saja. Sama seperti Naila. Kamu sudah jadi menantu dalam keluarga ini. Tak usah memanggil dengan sebutan Bapak, seolah ada jarak di rumah ini.” Pak Bagus mengingatkan Nandang.


“I … iya ayah.”


“Bagaimana ayah tidak tau tentang Sosongko, bahkan diklat dan kegiatan lainnya kami sering bersama. Kemarin ia sempat menelpon ayah, menyampaikan permintaan maafnya. Tidak bisa datang pada acara resepsi kalian. Karena beliau sedang melakukan ibadah umroh dengan keluarganya.”


“Oh … pantas Nan ke bengkel tiga kali. Tapi ga ketemu.” Nandang mengingat-ingat perjuangannya dalam hal menyampaikan undangan minggu lalu.


“Kenapa di antar ke bengkel. Mestinya kerumah saja. Tapi, lewat kantor juga sudah ayah sampaikan sih.” Lanjut Pak Bagus menjelaskan.


“Nan hanya tau bengkelnya. Kami selalu berjumpa di sana.” Ujar Nandang apa adanya.


“Dengan ayah angkat kok, ga tau asal muasalnya.” Kekeh Pak Bagus merasa lucu.


“Ya … karena memang di bengkel itulah kami selalu bertemu.”


“Tak pernah di tempat lain …?”


“Pernah, sekali. Di teras rumah tak jauh dari masjid besar.”

__ADS_1


“Daerah jalan Tamim …?” tanya Pak Bagus pada Nandang.


“Rasanya iya.”


“Itu kediaman beliau.” Kekeh Pak Bagus makin merasa lucu melihat wajah bingung Nandang.


“Hah … katanya waktu itu. Beliau sedang menjaga rumah titipan. Makanya kami hanya ngobrol di terasnya.” Nandang masih mengingat-ingat.


“Ya iyalah. Titipan Allah.” Celetuk bu Tatik yang juga ikut menyimak.


Jadilah Nandang hanya menggaruk kulit kepalanya yang tak gatal. Dengan hati sedikit mencelos, baru sadar selama ini ia curhat dengan seorang Kepala Dinas yang bahkan teman dari ayah mertuanya.


Naila dan Nandang hanya sempat tinggal sepekan di kediaman Pak Bagus. Selanjutnya, Baik Naila maupun Nandang berpamitan untuk tinggal di rumah Nandang. Mengingat kondisi emak yang lebih memerlukan perhatian mereka ketimbang orang tua Naila yang masih sehat dan bugar di usia yang juga tak muda lagi.


Naila sudah mendapat tempat mengajar, walau tak berstatus sebagai guru Negri. Tetapi, tetap saja pekerjaan itu harus tetap ia lakoni dengan sungguh-sungguh. Membantu Nandang dalam hal mengatur administrasi keuangan laundry juga bagian dari tugas Naila sekarang.


Hari Wisuda Nandang tiba, gelar Magister Hukum sungguh telah ia capai. Sertifikat lulus ujian dari Organisasi Advokat pun sudah pula Nandang kantongi. Masih ada waktu 1 tahun untuk Nandang magang di kantor Advokat. Setelah itu, mungkin ia terpaksa menggadai SK Pensiun Janda milik emak. Untuk modal awalnya membuat kantor sendiri.


Nandang sudah tak lagi memikirkan harus memiliki NIP. Ia sudah sungguh berdamai dengan hatinya untuk tidak memaksaakan kehendaknya. Memiliki istri sesabar Naila sungguh membuatnya tak sekeras dulu dalam hal mengapai cita-cita. Fokus pada kehidupan yang kini tengah berjalan adalah hal yang patut di jalani dengan penuh syukur. Namun, bukan berarti ia berhenti untuk mengikuti tes yang selalu di adakan pihak negeri secara online.


“Kamu kenapa Yank …?” tanya Nandang yang segera mencari sumber suara orang muntah di dapur.


Naila hanya menggeleng-geleng. Tak mampu menjawab sebab rasa mualnya semakin menjadi-jadi.


“Sakit perut …?” Nandang masih penasaran.


Naila hanya mengangguk dan masih dengan kepala tertunduk menghadap wastafel di depannya. Nandang menepuk halus bahu belakang istrinya. Ingin membantu tapi tak tau, apa yang bisa ia bantu.


“Minum air hangat ya, Sayang.” Tawar Nandang pada Naila.


“Tambahkan bubuk jahe dekat gula ya, Kak.” Pinta Naila yang kadang memang masih memanggil Nandang dengan sebutan Kakak.

__ADS_1


“Oke … sebentar.” Nandang segera beranjak mengambil gelas. Menuangkan air panas dan menyeduhkan bubuk jahe sesuai permintaan sang istri. Masih dengan keadaan hati yang di landa cemas berlebihan.


Lebih dari 15 menit Naila meredakan rasa mualnya pagi itu. Kemudian pelan-pelan beringsut duduk di kursi makan tak jauh dari posisinya tadi.


“Ini minuman jahenya.” Nandang menyodorkan segelas air jahe ke istrinya. Dan tak beranjak jauh dari tempat Naila duduk.


Menenggak minuman itu hingga tandas tanpa jeda. Membuat Nandang termangu, apakah istrinya lapar atau memang doyan dengan minuman jahe buatannya.


“Udah enakan …?” tanya Nandang setelah Naila membersihkan sisa basahan di bibirnya.


“Heemm …”


“Kok Cuma heem. Perutnya masih sakit, Yank …?”


“Udah kurang mual perutnya. Tapi sekarang kepala Nai yang agak pening, Yank.” Jawabnya lesu.


“Hari ini ada kelas …?” tanya Nandang yang tak pernah hafal dengan jadwal mengajar Naila.


“Ada, tapi jam 10 nanti.” Jawab Naila menyandarkan punggungnya pada kursi yang ia duduki.


“Boleh ijin aja ga, kamu sakit nih.” Cemas Nandang pada keadaan Naila.


“Ehhm. Nanti ku rasakan dulu. Kalo memang bisa hilang sakitnya. Aku tetap turun saja.” Jawabnya sambil memejamkan mata.


“Emang sakit bisa ilang sendiri? Kita ke dokter saja pagi ini. Pulangnya istirahat. Biar cepat sehat.” Elus Nandang pada rambut Naila yang memang sempat kusut masai karena mual muntahnya tadi.


“Ga usah ke dokter. Aku ga papa kok.”


“Ga papa gimana, lemes gitu. Sayang pasti masuk angin, kecapean mungkin.” Tebak Nandang pada kondisi Naila.


“Enggak Yank, aku ga masuk angin. Cuma keracunan.”

__ADS_1


“Hah … keracunan kamu bilang ga papa?”


Bersambung …


__ADS_2