PEJUANG NIP

PEJUANG NIP
BAB 44 : JANGGAL


__ADS_3

Sabtu datang, tentu malam minggu tiba. Nandang tak punya alasan untuk tidak mengijinkan Heru dan Naila berkencan di rumahnya.


Nandang sudah menyiapkan bahan dan peralatan untuk mereka ngegrill di atas loteng yang sekarang sudah ia hiasi dengan lampu lampu pijar ala ala cafe. Kursi dan meja lipat yang terbuat dari kayu juga tersedia dia sana. Toilet pun sempat ia minta buatkan pada tukang yang bekerja tempo hari. Alasannya, agar jika sedang bekerja di atas, tidak tergesa gesa turun, jika kebelet pipis.


Awalnya memang agak canggung, sebab jurusan mereka tidak adabyabg linier. Naila dan Andini calon guru. Nandang calon sarjana hukum. Sedangkan Heru pebisnis yang ahli dalam ilmu ekonomi.


"Manggilnya enaknya apa ya? Mas atau nama saja?" tanya Nandang saat hanya berdua dengan Heru di atas saat Naila dan Andini masih di bawah.


"Kalo ga salah... usia kita tak beda jauh ya... Adik tingkat ku berapa tahun?, Aku lulus dua tahun lalu." tanya Heru.


"Oh...iya segitu. Berarti bedanya." Jawab Nandang sopan. Sambil mulai menyalakan kompor akan mulai memanggang daging slice.


"Ya panggil Heru saja." Ujarnya lagi.


Naila dan Andini sudah berada di atas dengan membawa nampan berisi sayuran juga minuman.


"Huumm ga sabar kak... wangi margarin lelehnya aja sudah bikin perut lapar." Celoteh Naila mendekati Nandang yang mulai menyusun daging yang sudah di lumuri saos bulgogi.


"Hah... kamu itu La. Liat porselin lebar aja udah kaya liat ayam goreng. Udah ileran." Sindir Heru santai, tapi tidak dengan telinga Nandang. Hati Nandang sedih, mendengar ejekan itu, walau mungkin hanya ledekan semata, tapi Nandang baper, seolah Naila adaalah pemakan segala.


"Iiih... ga gitu juga kali." Tangkis Naila dengan senyum manisnya.


Suasana malam itu terasa canggung dan kaku. Apalagi saat semua hidangan itu matang, hanya sayuran yang di letakkan Heru di piring Naila untuk di konsumsinya. Sesekali jika Heru tidak melihat, Nandang mencuri kesempatan untuk meletakan daging panggang ke dalam piring Naila.


Seolah paham, Naila tersenyum dan segera melahapnya agar tak ada jejak.


Di antara mereka yang paling tidak bicara adalah Andini, ia tidak bisa berpura pura untuk terlihat senang dengan seseorang. Tapi, matanya sungguh jelas melihat adanya perhatian lebih dari kakaknya untuk sahabatnya tersebut.


Hanya, Andini tak bisa menerka. Tak punya nyali untuk menebak, bahkan tak sanggup membayangkan jika kakaknya jatuh cinta pada kekasih orang.

__ADS_1


Ponsel Naila berbunyi, icon videocall dari kedua orang tuanya. Di Bandung sudah mendekati pukul 8 malam. Maka saat pa Bagus menelpon suasana di sana masih menjelang sore, karena Indonesia lebih cepat 4 jam.


"Assalamualaikum ayah, ibu." Sapa Naila ceria.


"Walaikumsallam, Nai. Bagaimana...? Jadi kencan?" tanya Bagus tanpa basa basi. Dan Naila mengarahkan kamera ke wajah Heru.


"Sore om, tante." Sapa Heru saat wajahnya bertemu lewat benda pipih itu.


"Iya ... selamat bermalam minggu Ru." Sahut Bagus santai.


"Kalian keluar rumah Nai? jangan pulang terlalu malam. Tak enak sama Nandang dan Andini." Ujar Bagus yang mengira Heru mengajak anaknya keluar rumah.


"Ini di rumah kak Nan, ayah." Jawab Naila menyerahkan ponselnya pada Nandang.


"Malam pak." Ujar Nandang menyampaikan salamnya padabayah Naila.


"Lho... ini di mana Nan?"


"Masa... kok bagus ala ala cafe gitu." Nandang mengarahkan kamera untuk mengeksplor seluruh tempat, agar pak Bagus percaya jika mereka sungguh berada di atas lotengbrumah Nandang. Obrolan mereka berlanjut, hingga Nandang menuruni tangga. Sebab beliau penasaran dengan penyelesaian rehab rumah itu. Bahkan juga sempat meminta Nandang menampilkan wajah emak Puspa yang sedang asyik menonton televisi.


"Maaf Nai... pak Bagus titip salam saja. Tak sempat melanjutkan pembicaraannya denganmu. Karena mau lanjut ibadah." Ujar Nandang yang senyum menyerahkan ponsel Naila saat di atas lagi.


"Haaaaa... ga usah heran. Kalo ayah sudah ketemu kak Nan ya gitu. Ngalahin orang pacaran, ngobrolnya luamaaa pake bingits." Tawa Naila lepas.


Sedangkan Heru hanya menatap janggal hubungan keakraban kekasihnya dengan keluarga itu.


"Aaaaccchh..."


Entah terinjak apa, Naila hampir terjengkal di lantai. Dan, Nandang yang sempat dengan sigap menangkap tubuh yang oleng itu, dalam pelukannya. Seketika dunia seakan berhenti berdetak, saat mata Naila dan Nandang beradu pandang dalam jarak tubuh yang dekat, super dempet.

__ADS_1


"Echeeem." Dehem Heru menyadarkan Naila dan Nandang yang terlihat larut dalam posisi berpelukan tadi.


"Maaf." Ujar Nandang melepas pelukannya.


"Makanya... jangan gendut. Ga bisa jaga keseimbangan tubuh kan." Itu mulut memang tidak liat sikon. Heru dengan gamblangnya menyampaikan hal itu pada Naila bahkan di hadapan Andini dan Nandang.


"Aku ke bawah duluan, mau cek kerjaan Euis." Pamit Andini cuek lalu turun tanpa menoleh ke arah sahabat yang baru di hina sang kekasih hatinya itu.


"Silahkan lanjut, aku mau nemani emak." Pamit Nandang juga mengikuti jejak Andini yang baru saja turun.


"Ru... kamu boleh minta aku kurus dengan kata kata bagaimanapun. Tapi pliss ga omelin aku di hadapan temanku juga kali." Pinta Naila agak pelan agar suaranya tak sampai masuk ke dalam.


"Kenapa malu? kan kamu memang gendut La. Mau di sindir, di bilangin, dan di atur gimana lagi sih biar bisa kurus." Heru bukannya tambah tenang, justru makin bicara semena mena.


"Ini juga lagi usaha." Dongkolnya.


"Usaha apa? Kerjaanmu hanya makan Naila. Kamu tau kenapa sampai tahun ke tiga kita dekat, aku ga pernah ajak ingin lanjutkan hubungan kita ke arah lebih serius, karena berat badanmu ga ideal." Hardiknya lagi.


"Oh... penting banget yaaa?" Naila juga ikut emosi lah, bagaimanapun ia sudah mengikuti semua aturan Heru. Tapi ga tau, lemaknya bandel. Berat badannya sulit turun.


"Jelas penting lah. Penampilan itu nomor satu tau." Jawab Heru.


"Oh ya...? Fix jalan pikiran kita ternyata beda Ru. Ku kira yang terpenting itu sehat."


"Di mana otakmu, yang namanya gendut mana ada yang sehat, timbunan lemak, timbunan sampah, sarang penyakit. Aku mau kamu kurus itu sebenarnya bukan hanya untukku. Tapi demi kamu. Tapi... ya itulah kamu. Egois."


"Apa hubungannya? dari aku yang gendut lalu kamu bilang aku egois?"


"Ya jelaslah... hanya orang egois yang tidak mau mengalah bahkan dengan dirinya sendiri. Menekan na f su makanmu saja kamu tidak mampu. Apalagi mengalah dengan orang lain." Entah apa tujuan sesungguhnya Heru datang malam itu bertemu Naila. Apakah hanya ingin bertengkar, sehingga ia begitu siap dengan narasi yang ia lancarkan.

__ADS_1


"Ru... itu tangga. Kamu turun lalu cari pintu, pulang sana." Usir Naila tegas.


Bersambung...


__ADS_2