PEJUANG NIP

PEJUANG NIP
BAB 50 : RENCANA


__ADS_3

“Kakak gam au hibur Nai?” suara itu terdengar penuh harap dan terkesan manja di tangkap oleh rungu Nandang.


“Bukan tidak mau hibur kamu, Nai. Kan kak Nan akan berangkat KKN, makanya hari ini kesini. Biar puas puas dulu ketemu Nai.” Ucapan Nandang entah kenapa membuat hati Naila berdesir desir aneh. Hatinyaserasa segera pulih walau setelah di sakiti seorang Heru. Wajahnya memerah, tiba tiba gede rasa mendengar Nandang ingin puas bertemu dengannya.


“Oh… kakak. Menghibur sekali kata katamu.” Ucapnya menyembunyikan rasa malu yang tiba tiba mengyar di susudt hatinya.


“Siapa yang menghibur. Kak Nan bicara apa adanya. Apakah efek dua minggu terbiasa ada Nai di rumah, sekarang bawaannya kak Nan suka uring uringan kalau duduk sendiri di atas loteng Nai. Jadi ingat kamu, karena terlalu sering melewatkan malam bersama kamu.” Gubrak… mendengar penuturan yang terdengar jujur itu, semakin membuat Naila lupa jika tadi hatinya tertoreh perih oleh Heru.


“Hmm… Nai juga suka melewati banyak malam bersama kakak di sana. Semoga kapan kapan di ijinkan ayah dan ibu boleh menginap di sana lagi.”


“Ga harus nginap juga Nai, bertamu dengan durasi yang lama saja sepertinmya cukup.”


“Ya… kan nanti kakak ga ada. Jadi Nai bisa lah nemenin An di rumah.”


“Jangan… Nai jangan nginap kalo kakak ga ada.” Ucap Nandang cepat.


“Kenapa?”


“Yang kangen kamu itu kak Nan, bukan Ndin.” Melayang… mengapa dengan kata sesederhana itu membuat Naila terombang ambing senang.


“Ah… kakak bercandanya kelewatan.” Jawabnya dengan senyum malu malu.


Belum sempat Nandang menjawab, mobil pak Bagus sudah masuk ke garasi tak jauh dari teras tempat mereka duduk berdua.


“Lho… kalian ga jadi keluar?” tanya Tatik saat menadapi anaknya dan Nandang masih duduk santai di depan rumah.


“Sudah bu, baru saja kami tiba.” Jawab Nandang sopan.


“Katanya mau ajak anak ayah ke café, kok masih duduk di sini.” Pak bagus mengulang pertanyaan yang sama dengan istrinya. Sebab tadi ia masih memastikan mobilnya terparkir dan terkunci dengan benar.


“Sudah ayah… kami tadi sudah keluar kok.”


“IYa… pak. Baru saja kami tiba. Tadinya Nan mau pulang, tapi tidak di ijinkan Nai.” Kekeh Nandang sedikit bercanda.


“Oh gitu… Mau sampai pagi?” canda pak Bagus pada Nandang.


“Tidak pa, ya paling tidak sampai bapak usir.” Kekeh Nandang lagi.

__ADS_1


“Hahaha… ngapain di usir. Yang ada bapak mau gelar lapak catur nih. Tanding?” Ajak Bagus semangat.


“Ayah… ini sudah malam. Ayah juga capek. Besok lagi aja Nan kamu ke sini, lawan main catur.” Komen bu Tatik menyalurkan hobby suaminya itu.


“Maaf lain kali saja. Tapi juga bukan besok pak, bu. Karena Besok lusa Nan sudah berangkat KKN di desa.”


“Wah… sudah KKN saja. Lama?”


“Dua bulan kurang lebih.” Jawab Nandang.


“Selamat menikmati masa KKN ya Nan. Bisa dapat pacar lho waktu KKN. Seru, sebab banyak menghabiskan waktu bersama teman dalam waktu tidak sebentar. Bisa cinlokj dengan sesame mahasiswa, bisa juga jatuh cinta dengan gadis ank kepala desa.” Kekeh Bagus menggoda Nandang.


“Hah… masa?”


“Iya donk. Kan nanti kalian apa apa bersama. Sifat asli teman teman kelihatan Nan. Mana yang rajin, mana yang malas, mana yang berjiwa pemimpin, mana yang benar serius. Kalau kamu tidak jatuh cinta dengan mahasiswi. Maka mereka yang bapak yakini jatuh cinta padamu. Ha… ha… ha” Tawa pak Bagus lepas. Selalu ada topik menarik antara Bagus dan Nandang setiap kali bertemu. Naila dan yang lain secara langsung rontok. Tak bisa ikut campur lagi.


Namun, karena waktu sudah lewat dari pukul 0 malam, Nandang pun pamit pada mereka semua yang masih berada di teras rumah tersebut, memandang punggung pemuda tampan dan sopan itu kembali ke rumahnya.


“Nai… Kak Nan sudah tiba di rumah.” Hah… Nandang tidak peduli apakah Naila mengharapkan informasi darinya. Hanya ia ingin saja, mulai sekarang menjadi orang yang begitu mendominasi pikiran naila. Toh, Naila sudah jomblo. Tak salah bukan jika ia memanfaatkan kesempatan itu untuk mulai berjuang. Nandang lelah cinta sendiri. Bagaimanapun cinta berdua itu baik bukan?


‘”Iya syukurlah. Kak, terima kasih ya.” Balasnya


“Sudah menghibur Nai, dan pinjamkan dada kaka untuk Nai menangis tadi.” Balas Naila lagi.


“Kak Nan tidak mau menerima ucapan terima kasihmu. Semua kebaikan kak Nan itu bersyarat Nai.” Chat Nandang lagi.


“Syarat…? Apa?”


“Berjanjilah untuk tidak menangisi lelaki itu lagi. Dia tak pantas kamu tangisi.” Jawab Nandang cepat.


“Siap kak. Nai janji akan melupakannya. Dan itu sangat mudah, karena Nai sekarang benci dia.” Balas Naila serius.


“Jangan membencinya. Tetap maafkan dia.”


“Untuk apa memaafkan orang sebreng sek itu?”


“Karena ia layak di maafkan.”

__ADS_1


“Huh.” Balasnya kesal.


“Kalau kamu tidak memaafkannya. Maka kamu menutup jalan untuk cinta yang berikutnya. Kamu berdosa tidak mermaafkan sesame manusia. Doa mu terhalang.” Tulis Nandang pada Naila.


“Perlu waktu untuk benar ikhlas memaafkan orang sepertinya agar segera lupa kak.”


“Move on.”


“Siap.” Jawabnya.


“Gitu donk. Selamat malam cantik, selamat tidur jangan lupa berdoa.” Isi chat Nandang selanjutnya.


“Terima kasih kak. Selamat tidur juga kak Nan.” Balas Naila sambil memejamkan matanya dan senyum sendiri.


Pagi datang, dan hari itu Nandang habiskan untuk sibuk memeriksa kelengkapan barang yang akan ia bawa juga stok yang harus ia tinggalkan. Hampir setengah hari dia dan Andini berbelanja kebutuhan laundry, mulai dari plastic, sabun hingga pengharum, pelembut dan pewangi pakaian.


“Masih ada yang terlupa Ndin?” tanya Nandang saat mereka sudah berada didalam mobil Noni.


“Sepertinya cukup kak. Bahkan belanjaan kita melebihi dari yang Ndin catat.”


“Kenapa, banyak improvnya ya?” canda Nandang pada Andini.


“Iya, kak. Ternyata belanja bareng kakak itu menyenangkan, yang lupa di catat pun menjadi ingat.” Kekeh Andini senang.


“Oke… kemana lagi? Obat emak cukup?” tanya Nandang lagi.


“Insya Allah cukup kak.”


“Nai… eh. Ndin.”


“Cie… cie yang teringat ingat Naila. Ada apa dengan kakak dan Nai… hah?” Andini baru ingat menanyakan hubungan kakaknya dengan sahabatnya itu.


“Tidak. Tidak ada apa apa. Kamu tanya dia saja. Dari pada curiga.” Lanjut Nandang.


“Haha…. Ga penting juga kali kak.” Jawab Andini kemudian.


“Tadi kakak mau bilang apa?” tanya Andini kembali.

__ADS_1


“Itu, kalo bisa luangkan waktu mu. Untuk khursus nyetir. Bagaimanapun bisa mengendarai kendaraan roda empat bukan hanya untuk bergaya, melainkan kebutuhan. Nanti pulang KKN, kalau mobil tante Noni sudah di kembalikan. Kita cek tabungan kita ya. Semoga cukup untuk membeli mobil untuk kita pakai secara pribadi.


Bersambung….


__ADS_2