
Naila awalnya tak mau jujur dengan ayah dan ibunya. Ia tak mau efek keterbukaannya akan menghadirkan kebencian terhadap Heru. Mana selama dekat kedua orang tuanya terlihat acuh dan biasa saja lagi pada Heru, seolah tak bersimpati pada kekasih yang kurang lebih 3 tahun ia pacari.
"Maafkan ayah... tadinya ayah kira kamu putus dengan Heru karena kamu terlanjur sering dekat dengan Nandang. Dan itu tak baik. Bagaimanapun, kita boleh menjalin hubungan dengan siapapun. Dekat dengan siapapun, tapi jangan pernah memutuskan untuk berhenti secara sepihak."
"Ayah..., Nai tidak bisa bertahan dengannya. Dia bahkan sudah lama menjalin hububgan dengan Elsa. Jadi bukan Nayla yang memutuskan berhenti secara sepihak justru Nayla sebenarnya yang sudah dikhianati oleh Heru." Jelas Naila pada pak Bagus ayahnya.
"Iya... syukurlah. Tidak masalah jika kita di posisi korban. Asal jangan membalas kejahatan orang lain dengan hal yang jahat pula. Ayah malu jika, Nai yang lebih dahulu mengkhianati orang lain. Lalu, mengapa secepat itu Nai membina hubungan baru bersama Nandang?" Pancing Bagus pada anak gadisnya.
"Yaah... eehm. Kak Nan baik." Naila tampak berpikir sekaligus bingung memberi alasan apa. Dan apa haruskah ia mengakui pada ayahnya. Bahwa justru Nandang lelaki yang mampu menggetarkan hatinya bahkan lebih dari Heru mantannya itu.
"Hah... alasan klasik. Kalau kamu menerima Nandang hanya karena dia baik sama. Jangan jangan tiap orang yang sudah mengantongi Surat Berkelakuan Baik dari Kepolisian juga sudah kamu pacari semua Nai." Kekeh ayahnya bangga dengan kelakarnya.
"Ayaaah. Sudah... ga liat wajah putrinya memerah sudah mirip udang goreng, karena malu." Bu Tatik membela Naila.
"Haha... hahaa..., ayah hanya bercanda Nai. Baik baik menjaga diri, jangan sampai kuliah kalian terganggu karena sibuk pacaran. Pendekatan, pengenaln itu boleh asal tetap saling dukung. Ayah percaya kaliam tau yang ayah maksudkan." Kemudian ayah Naila masuk ke kamarnya. Mengangguk anggukkan kepalanya, dalam hati sesungguhnya ia sangat senang jika Naila menjalin hubungan dengan Nandang yang sejak remaja sudah ia kenal dan kagumi. Atas ketabahan dan kegigihannya menjalani bagian hidup yang telah menjadi bagiannya.
Hari baru telah tiba, dengan jiwa yang masih tersisa di Bandung. Raga Nandang tetap harus kembali ke desa tempat ia melaksanakan KKN.
Nandang ke desa dengan motornya walau harus menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam. Tapi tekadnya sudah bulat untuk berkendara sendiri. Ia juga sudah minta ijin pada dosen pembimbingnya, agar di bolehkan membawa kendaraan pribadi. Tentu saja mendapat ijin, apalagi kendaraan itu nantinya akan sangat berguna untuk memudahkan Dita kemana mana, untuk meminimalkan gerak Dita jika akan melakukan perjalanan jarak jauh di desa nanti.
Nandang sudah berada di penginapan tempat Akbar dan Dita menginap, kurang lebih 4 hari 3 malam. Mereka berbulan madu di sana.
__ADS_1
"Pak... ijin bonceng Dita ya." Pamit Akbar pada Akbar yang memandang istrinya pulang ke desa sebelah bersama Dita.
"Iya... hati hati bawa anak dan istri saya ya Nandang. Nilaimu jadi taruhan." Ancamnya penuh canda pada Nandang. Yang paham jika pa Akbar hanya bercanda padanya
Usia kandungan Dita sudah lewat dari 3 bulan tentunya perut itu tidak lagi rata, melainkan sudah terlihat agak buncit.
Dita meletakkan tas tangannya diantara ia dan Nandang, agar keduanya ada jarak untuk menjaga perasaan Pak Akbar juga dari perasaan risih yang mungkin timbul di dalam hati Nandang, karena telah membawa atau membonceng istri dari dosen pembimbing mereka.
Jarak Desa tempat penginapan tersebut dengan Desa tempat mereka melaksanakan kegiatan KKN tersebut lumayan jauh, menempuh waktu kurang lebih 45 menit apabila menggunakan kecepatan normal. Tetapi Nandang tahu jika sekarang ia sedang membonceng ibu hamil maka kendaraan pun ia kemudi dengan kecepatan lambat atau super hati-hati.
Keduanya pun sampai di penampunha. Hampir senja, kurang lebih pukul 05.00 sore. Kedatangan mereka tentu saja sudah disambut oleh Gadis yang sudah sangat merindukan kehadiran Nandang di desa tersebut.
"Nandang..., kamu gimana sih? kok aku dicuekin ?" tanya Dita tidak tahu diri. Bahkan tidak peduli jika Nandang bahkan belum menurunkan kakinya untuk memarkirkan kendaraannya.
Semua itu tidak luput dari pandangan mata Gadis, Meka dan Vinda yang melihat aksi Dita turun dari motor Nandang dengan begitu dramatis.
"Ciiih..., manja banget sih sama Nandangku." Gadis lagi-lagi mengumpat agak kesal. Ia tidak tau saja, itu Nandang lakukan demi menjaga janin yang ada di dalam perut Dita.
Bukan nilai bagus yang Nandang incar, tetapi lebih kepada amanah besar yang di bebankan untuknya oleh Akbar dosen pembimbing. Hanya saja, Nandang merasa bertanggung jawab dalam hal menjaga Dita selama mereka dekat dan bersama.
Mengapa harus bertanggung jawab? Bukankah itu anak pak Akbar. Tapi itulah perangai Nandang yang tidak pernah bisa cuek dengan sekitarnya.
__ADS_1
Nandang dan Dita memilih masuk dengan melempar senyum ramah saja, kepada mereka yang ada di depan mereka. Sebab adzan magrib tentu sebentar lagi akan menguar. Dan Nandang tak pernah bisa melewatkan hal tersebut.
Lyra ada di dalam kamar, memeluk kangen Dita yang baru tiba. Berbeda dengan Gadis tadi, yang sangat geregetan melihat kedekatan Dita dan Nandang.
Meka bahkan sempat melihat sekilas perubahan fisik Dita, yang menurutnya lebih besar dari sebelumnya. Terutama di bagian perut.
"Dis... Vinda, kalian perhatikan nggak sih, kalau perut Dita tuh kayaknya makin gendut gitu." Celetuknya setengah berbisik.
"Hah... masa sih?" respon Vinda.
"Beneran... Coba deh kalian perhatikan." Meka meyakinkan. Lalu menunjuk-nunjuk tubuh Dita dengan mulutnya. Untuk melihat perubahan tersebut.
Gadis dan Vinda menoleh kearah Dita yang berjalan pelan melewati mereka.
Dita berjalan ke depan untuk mengambil ranselnya yang tertinggal. Tetapi, tangan Dita di tepis oleh Nandang. Lalu ia yang membawakan dan memasukkannya ke dalam kamar mereka.
Lagi lagi Gadis mencibir, melihat tak suka akan perlakuan Nandang yang terlalu memanjakan Dita.
"Eeh... iya beneraan. Kayaknya dia gendutan..." ucap Vinda setuju dengan Meka.
Hanya Lyraa yang tidak bersama mereka saat itu. Memilih menyiapkan diri untuk melaksanakan ibadah magribnya. Dan Lyra juha tahu bahwa Dita memang sedang berbadan dua, tetapi Lyra tidak merasa berkepentingan untuk menyampaikan berita tersebut. Karena dia juga sudah pernah berjanji pada Dita untuk menjaga dulu berita kehamilannya, agar tidak merebak.
__ADS_1
Lagi pula, bukankah kepentingannya berada di desa itu untuk melakukan kuliah kerja nyata bukan membicarakan tentang teman satu kelompoknya.
Bersambung