
Usia Nandang boleh muda, apa lagi Andini masih remaja. Tapi cara berpikir mereka jauh lebih tua dari usia mereka karena keadaan. Karena tempaan alam semesta yang mengolah mereka tumbuh menjadi pribadi yang lurus.
Ini adalah tahun kedua Andini sebagai mahasiswa pada fakultas pendidikan. Benar saja ia mengambil jurusan Matematika sesuai dengan cita-citanya.
Satu kampus dengan Naila membuatnya semakin akrab. Walau beda jurusan, sebab Naila mengambil jurusan Kimia. Juga bercita-cita yang sama dengan Andini yaitu menjadi guru.
Perubahan status dari siswa ke mahasiswa tentu juga terjadi pergeseran waktu dan tingkat kerepotan yang meningkat. Andini mulai keteteran dengan usaha laundry mereka yang semakin maju.
Beruntung kini mereka punya Entin, yang juga mengajak sepupunya dari desa untuk menjadi pekerja yang meringankan beban Andini.
"Tiga ribu per kilogram ya... deal?" ucap Andini pada Euis yang berusia lebih muda darinya. Namun, karena tinggal di kampung membuatnya hanya sempat mengenyam pendidikan sampai SMP saja.
"Iya kak. Euis setuju saja. Tapi, apa boleh Euis tinggal di rumah kakak ini saja. Karena rumah teh Entin sempit. Mana teteh baru nikah, rasanya tak enak tinggal bersama pengantin baru, berasa jadi obat nyamuk Euis mah." pintanya pelan.
"Oh... gitu. Kalau untuk tempat tinggal... aku ga bisa jawab dulu ya Euis. Aku harus tanya sama kak Nan dulu. Kamu juga liat kan, rumah kami kamarnya cuma dua. Tapi kami juga mengerti maksudmu tadi yang tak enak tinggal bersama Entin." Jawab Andini tak kalah puyeng.
"Ini anak usia tujuh belasan, cantik juga. Kalo di sikat suami Entin kan kacau. Tapi kalo di sini, lah... dia tidurnya di mana?" Batin Andini sedikit bingung.
Jika Andini sudah semester 4, tentu saja Nandang sudah berada di semester 8. Dalam masa sibuk sibuknya KKN dan akan menyusun skripsinya. Sehingga mulai jarang di rumah.
Bukan hanya emak yang kadang menangis mencari Nandang. Tapi Noni juga lebih sering datang kerumah dengan berbagai alasan. Sungguh tak tau malu. Eh, urat malunya memang sudah tidak ada kali.
Nandang sudah dewasa tak mungkin tak tau tujuan Noni yang selalu memberinya perhatian lebih, tapi walaupun matanya pernah di nodai oleh Noni, tidak akan ia serahkan bagian tubuh lainnya untuk di nodai lebih kotor lagi oleh Noni, bukan.
Nandang baru saja memarkirkan motornya di parkiran. Masuk rumah sudah di suguhi senyum oleh Andini dan emak.
Emak sekarang sudah tidak memanggil Nandang dengan panggilan Kang Dehen. Ia mulai tau jika kini ia tinggal dengan dua anaknya.
"Kak Nan..." panggilnya.
"Assalamualaikum Mak, Ndin." Nandang menyalami tangan emak dengan takzim.
__ADS_1
"Walaikumsallam." Jawab emak dan Andini dengan wajah berseri.
"Emak senang hari ini?" tanya Nandang lembut.
"I...iya. Emak tadi bikin kue." Jawabnta dengan kata kata yang tidak cepat namun penuh antusias.
"Oh yaaa... mana kuenya? sini Nan cicip." Jawab Nandang dengan mata berbinar binar.
"Ndin..." panggil emak menoleh ke arah Andini.
Andini paham, pasti emak memintanya untuk mengambil roti yang tadi ia dan Andini buat. Hari itu Andini libur kuliah, sehingga punya waktu banyak menemani emak. Iseng dia mengajak emak bermain main dengan adonan roti. Seperti dulu. Walau kini keadaan berbalik, emak lah yang di ajari dan Andini lah sebagai tutornya.
Ya... emak yang kini berangsur pulih namun seperti kanak-kanak yang mudah merajuk, juga kada masih malas untuk berjalan sendiri. Walau sudah mulai bisa. Lebih suka bergerak dengan kursi rodanya, seolah bermain main di dalam rumah.
"Ini emak yang buat?" tanya Nandang setelah menggigit roti yang katanya buatan emak itu.
Emak menganggup dengan senyum sumringah, persis wajah anak TK yang menunggu pujian dari gurunya setelah melakukan kebaikkan.
Dan Puspa selalu antusias untuk mendengar cerita masa lalu mereka tersebut. Bersyukurlah di saat emak sehat, Puspa selalu mendidik anak anaknya dengan pesan moral kehidupan yang baik. Sehingga hal itulah yang kini di terapkan anak anaknya untuk menstimulasi kesembuhannya.
Malam itu Puspa tertidur dengan ukiran senyum bahagianya saat tangannya dapat menghasilkan pekerjaan yang kata anaknya pernah ia tekuni dengan baik.
"Kak, Nan..." panggil Andini di depan kamar Nandang.
"Ada apa?" tanya Nandang keluar kamarnya mendekati Andini.
"Tadi siang Entin ada mengajak sodara jauhnya dari desa. Dan bersedia membantu Ndin ngelaundry."
"Oh... alhamdulilah. Jadi kamu punya karyawan ya sekarang?" puji Nandang senang.
"Gaji sudah cocok. Hanya Euis. Namanya Euis. Dia meminta di adakan tempat tinggal karena katanya agak sulit jika tinggal lama bersama Entin. Kan Entin pengantin baru kakm Jadi, jika boleh katanya mau tinggal di rumah kita ini, bagaimana?" tanya Andini meminta pendapat Nandang.
__ADS_1
Nandang menghela nafasnya kasar. Belum rampung otaknya memikirkan revisi skripsi yang baru saja di coret dosennya, sekarang harus memikirlan solusi lagi untuk masalah Andini.
Tidak di terima, kasian Andini yang juga mulai sibuk jadi mahasiswa. Tidak di lanjutkan pekerjaan itu tapi itu memang bagai mata air penghasilan mereka.
Nandang anak tertua, laki laki pula. Masa iya tak bisa menjadi pelindung bagi adik dan emaknya. Nandang memang di paksa matang sebelum waktunya, tapi bukan masak karbitan. Alam yang menempanya demikian.
"Gimana kak?" Desak Andini pada Nandang yang lama tercenung.
"Sebentar. Besok kakak libur. Kakak ajak bang Karman kerumah ini saja. Minta pendapat beliau, sebaiknya kita buatkan kamar darurat saja untuk Euis. Atau sementara kita belum punya mobil, garasi itu saja kita buat semacam bidakkan untuk tempat tinggal si Euis itu."
"Hmm... boleh juga."
"Tanyakan dia, mau kamar tempat tidur saja, atau tempar tinggal?"
"Bedanya?"
"Kalau tempat tidur, isinya ya untuk tidur saja. Kalo tempat tinggal dar WC sampai dapur ya kita buatkan. Mungkin dia ingin hidup mandiri seperti di kost."
"Kalau begitu dia bayar sewa dong kak?"
"Ya iyalah masa gratis. Kan kita buatnya juga pakai uang."
"Berarti kita tidak membantunya?"
"Dengan kita mempekerjakannya dan membayar haknya, itu sudah membantunya."
"Tapi 3ribu/kg itu kecil kak. Kalau dalam sehari cuma dapat 10kg berarti dia cuma dapat 30rb/hari. Sebulan hanya 900 ribu. Cukup apa? belum untuk makannya. Kakak gimana sih?" Andini langsung mengeluarkan hitungan matematikanya.
"Iya kalau 10kg/hari. Kan biasanya kita bisa sampai 30kg/hari. Kalau dia mau banyak dapat uangnya, harus banyak yang ia kerjakan. Lagi pula, kita tidak usah ambil sewa yang nesar, kamar saja 50ribu/bulan. Kost 150ribu/bulan. Jadi, dia punya tanggung jawab dengan kewajiban yang ia jalani. Itu konsekuensi merantau." papar Nandang panjang dan lebar.
Bersambung...
__ADS_1