PEJUANG NIP

PEJUANG NIP
BAB 70 : MINTANYA LAMA


__ADS_3

Nandang tanpa canggung meminta ijin pada bu Tatik akan mengajak Naila kekasihnya itu untuk pergi ke pantai. Awalnya Nandang setuju dengan ide Naila yang ingin mengajak serta emak juga Andini.


“Kak Nan… kita Cuma pergi berdua?” tanya Naila saat Nandang sudah berada di depan rumahnya.


“Iya Nai…?”


“Kenapa tidak mengajak emak dan Andini?” tanyanya lagi.


“Kamu lupa, aku hanya punya motor?” Nandang balik bertanya, sekedar mengingatkan jika Nandang orang biasa. Bukan Heru yang seorang pengusah atau anak orang kaya.


“Oh… iya. Maaf kak. Lupa, kalau mobil tante Noni sudah ga di titip.” Naila menyimpulkan jawabannya sendiri.


“Lho… kok masih belum berangkat?” tanya bu Tatik keluar reumah dengan maksdu akan menutup pintu.


“Nai kira, kaka Nan mengajak emak dan An juga, bu.” Jawab Naila.


“Kalian mau ajak mereka… tuh, pakai mobil ayah saja Nai. Kalau mau, nanti ibu yang ijin sama ayahmu. Tapi, sekalian ibu ikut juga.” Ide bu Tatik muncul mendengar emak dan Andini akan ikut serta.


“Tidak bu, jangan merepotkan. Kami, pakai motor saja terlebih dahulu.” Tolak Nandang dengan sopan.


“Oh.. iya,baiklah. Hati hati ya. Jangan kemalaman ya Nan.” Bu Tatik mengingatkan.


Pesan bu Tatik di bahal anggukan dan cium tangan dari Nandang dan Naila. Mereka pun berangkat.


Walau matahari sedang bersinar galak, tang menyurutkan keringinan dua insan yang baru jadian itu untuk berkencan bahkan di siang bolong. Tak banyak kata dan cerita yang keduanya saling sampaikan, sebab keduanya hanya ingin menikmati waktu yang lama untuk berdua. Saling dekat satu sama lain, untuk menebus waktu yang lumayan lama memisahkan mereka.

__ADS_1


Nandang, pemuda yang baik. Bukan hanya pada Naila. Bahkan pada siapapun ia selalu bertindak sopan. Saat banyak peluang untuk ia mendapatkan uang dengan praktis bahkan nikmat saja, ia tak melakukannya. Apa lagi kini ia bersama wanita pujaannya. Yang telah lama ia idam dan nanti nantikan. Tentu saja sekuat mungkin ia menjaga dirinya terlebih Naila. Agar hubungan mereka terus ada dalam koridor yang aman. Untuk tidak melakukan perbuatan di luar batas wajar dan melanggar norma kesopanan.


Waktu berlalu, hubungan kedunya berjalan alami. Baik Nandnag dan Naila sama sama memiliki pemikiran yang tidak neko neko. Tingkat kematangan, kedewasaan semakin kuat di antara keduanya. Bahkan kini Naila lah wanita yang tepat untuk mendampingi keberhasilanm Nandang menjadi seorang sarjana hkum. Ya, selain emak dan Andini, tampak sosok Naila berada di dalam frame foto widusa Nandang.


“Selamat ya… sudah sah bergelas SH.” Ucap naila menyerahkan sebuah bucket bunga untuk kekasihnya tersebut.


“Yakin hanya kasih ucapan selamat?” goda Nandang di sela riuhnya Susana foto wisuda hari itu.


“Maunya di kasih apa, kak?” tanya Naila pura pura memperbaiki toga Nandang agar penampilannya terlihat sempurna.


“Manggilnya jangan kak Nan lagi.” Pinta Nandang dengan tatapan serius.


“Nanti Nai… pikirkan.” Jawabnya membuat Nandang geregetan.


“Siap sayangku.” Peluk Nandang berani pada pinggang Naila yang sudah tidak gendut lagi itu.


“Kak…, sekarangkan kakak sudah selesai kuliah nih. Terus apa selanjutnya kakak akan menikah dengan Naila?” tanya Andini suatu hari pada sang kakak.


“Nikah…? kaka baru saja selesa kuliah Ndin. Harus fokus cari kerja, balikin uang yang terpakai untuk biaya kuliah kemarin. Kalau kakak nikah, anak orang mau di kasih makan apa? Nai, itu anak orang berada. Sejak kecil makan enak, kebutuhannya tercukupi. Kalau kak Nan nikahi sekarang, yang ada dia nanti akan jadi karyawan laundry mu, Ndin.” Jawab Nandang panjang.


“Heemmm… hidup sebegininya ya kak.” Andini tidak membantah, juga tak membahasnya.


Tak ia salahkan juga maksdu yang Nandang ucapkan tadi. Keluarga mereka bahakan sering mendapat bantuan sejak mereka tinggal di desa dahulu, hingga sekarang. Andini tau, bagaimana rasanya menjadi Nandang, jika melamar hanya modal cinta, bakalan melarat dan sengsara lah hidup mereka kedepannya.


Sekarang keadaan emak jauh lebih sehat, bisa di ajak berkomunikasi dengan baik. Juga bertukar pikiran. Ia pun sudah mengerti, posisi Naila sebagai kekasih anak lelakinya tersebut. Tapi, pun mengerti dan selalu mengingatkan agar Nandang tidak gegabah dalam mengambil kepitusan terutama urusan menikah.

__ADS_1


Kini, giliran Naila dan Andini yang melewati fase kegiatan KKN. Berada di desa yang jauh, bahkan sulit sinyal. Tetapi, tidak seaktif dan ketat kegiatan Nandang beberap tahun sebelumnya.


Nandang sudah berkali kali ikut tes CPNS, tetapi keberuntungan tak berpihak padanya. Memperbesar usaha laundry adalah hal yang bisa Nandang lakukan sekarang. Euis tampak masih bertah sebagai pekerja laundry tersebut. Namun memilih untuk hidup mandiri.


Maka dengan beberapa pertimbangan, maka Nandang memberanikan diri mebuka cabang usaha laundry tersebut, di lokasi yang lebih ramai. Area kampus adalah target Nandang. Ia menyewa sebuah rumah dengan pekarangan yang cukup luas. Didana lah kini Euis berada. Untuk mencoba hidup mandiri juga mengelola usaha itu sendiri. Dengan modal kepercayaan penuh dari Nandang.


Nandang masih terlihat beberapa kali bertandang kerumah mami Onel, sekedar melihat keadaan wanita yang juga sangat berjasa pada hidup mereka. Bagaimanapun nista dan papanya pekerjaan mami Onel. Bagi Nandang mami Onel tetap saja pahlawan dalam hidupnya.


“Nandang…” Kejut ?"mami Onel saat melihat Nandang sudah berada di ambang pintu rumahnya.


“Iya mi. Ini Nandang bawakan gulai ayam buat mami. Masih bisa makannya ga?” iseng Nandang pada mami Onel.


“Ya bisa lah… emangnya kenapa?”


“Kali asam urat atau kolesterol .” Goda Nandang.


“Kana da obat Ndang… sana, buruan ambilin piring sama nasi buat mami.” Perintahnya pada Nandang seperti anaknya sendiri.


“ Siap mi.” Nadang pun segera melayani wanita yang berusia lebih dari 50 tahun itu.


“Ndang… kamu sudah sarjana? Sudah dapat pekerjaan?” tanya Onel sambil mengunyah makanannnya.


“Belum mi, nan masih ikut tes dan beberpa lowongan pekerjaan yang sesuai ijazah Nandang. Tapi belum rejeki.” Curhat Nandang pada mami Onel.


“Sabar. Nanti juga akan kesampaian. Kan mintanya sudah lama. Ga mungkin Allah ga denger permintaanmu. Naksir Naila aja sejak SMP kan, di kasih pas mau selesai kuliah. Nah… dapat kerjaanya nya juga udah di minta dari kapan kan.” Ucapan itu terdengar sederhana. Tapi sungguh banyak mengandung makna yang sangat dalam. Bahwa tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Terlebih Nandang yang bahkan sejak kecil hampir tak pernah merasakan bahagia yang sesungguhnya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2