PEJUANG NIP

PEJUANG NIP
BAB 64 : NAILA JATUH CINTA


__ADS_3

Andini memang terlihat asyik menikmati hidangan makan malam mereka. Kadang juga memindahkan beberapa lauk ke piring emak. Sebagai bentuk perhatiannya pada sang emak yang duduk memang bersebelahan dengannya.


Tetapi hal itu bukan menjadi alasan untuk ekor matanya tidak melihat pergerakan tangan Naila juga Nandang, yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya masing masing. Juga saling menyimpan senyum simpul di kulum, juga saling lirik.


Maka, saat mereka kembali sibuk dengan ponselnya saat berada di dalam mobil. Akhirnya Andini menyeletuk juga.


"Chat sama siapa sih... kok ga brenti dari tadi." Akhirnya Andini kepo.


"Hah... oh. Ga sama siapa siapa..." Naila agak kaget.


"Oh... perasaan dari tempat makan tadi kerjaanmu mijit hape melulu. Pegel hapenya buu...?" ledek Andini yang menebak asal, jika Naila mungkin saja saling berchat ria dengan sang kakak. Sebab, Andini lihat antara keduanya berekspresi sama tetapi seperto bergantian memegang ponsel mereka. Artinya mereka sedang berbalas balasan chat.


Bulan sudah begitu sempurna menjadi penguasa malam, sementara bintang bagai mengontrak berpendar sesukanya, bertaburan di langit hitam pekat untuk menciptakan sinarnya sendiri.


Malam telah larut, membuai dan menina bobokan para makhluk di manapun berada. Tapi tidak dengan Nandang. Ia terlihat masih bangun, seolah tidak mengantuk.


Sejak pulang makan malam tadi, Nandang sempat membersihkan tubuhnya sebentar, lalu masuk kedalam kamar Emak. Sekedar bercerita lalu menidurkan sang Emak dengan sedikit cerita tentang Desa tempat ia berkegiatan KKN .


Setelah emak benar telaj tidur, dia lalu memastikan keadaan rumah. Mulai dari ruang depan, dapur sampai tempat ruang cuci di atas. Nandang memperhatikan setiap detail rumahnya yang sudah 6 minggu, ia tinggalkan. Mungkin saja ada yang rusak atau yang kurang juga habis mungkin. Agar besok ia bisa mencari, atau memperbaiki bagian-bagian rumahnya yang mungkin perlu di perbaiki atau apapun agar dia bisa mencarinya di pagi hari untuk membuat semuanya menjadi stabil. Sehingga emak dan Andini terus merasa nyaman di rumahnya.


Sungguh Nandang adalah seorang anak laki laki yang sudah menjelma menjadi pria dewasa yang sangat perhatian tanpa diminta dan disuruh. Sungguh sangat perhatian juga bertanggung jawab dengan keadaan rumah tersebut.


Pukul sebelas malam akhirnya secangkir kopi menemani Nandang untuk melepas sedikit lelahnya. Ia duduk di atas loteng tempat cuci yang merupakan tempat favoritnya. Tentu saja jadi pilihan tempat kesukaan, sebab selalu ada bayangan Naila di sana.


"Nandang... kamu sudah sampai rumah?" Sebuah chat dari Gadis yang sejak petang tadi belum sempat Nandang buka.


"Kok belum balas? Aku sudah 2 jam lho di tempat yang banyak signal." Isi chat itu lagi.


"Kamu mungkin benci aku. Tapi apa aku salah, hanya mau tau. Kalau kamu telah sampai rumahmu dengan selamat. Kamu tiba dan udah kumpul sama keluaraga mu kan Nandang?" Isi pesan chatnya lagi yang benar benar baru Nandang buka.


Rupanya Gadis telah menghabiskan waktu yang cukup lama menunggu balasan chat dari Nandang.

__ADS_1


Nandang ingin mulai mengetik balasan, agar Gadis tak resah memikirkan keadaannya. Tapi.. apa nanti dia tidak salah mengerti? Tak membalas, namun serasa tak enak hati. Saat sedang bingung akan membalas chat itu atau tidak. Nandang hanya menscroll aplikasi whatsapp tersebut. Dan ada yang lebih menarik perhatiannya dari pada terpuruk dalam suasana bingung ga mutu tersebut.


Yaitu saat dia melihat Naila yang masih aktif di jam hampir tengah malam itu.


"Hei... cantik. Kenapa belum tidur." Tanpa salam Nandang sudah bicara saat tulisan dering sudah berubah jadi menit dan detik. Pertanda panggilannya sudah di angkat oleh Naila.


"Kak Nan... bikin kaget aja. Ada apa kak malam malam telpon?" jawab Naila agak terkejut. Sebab itu benar benar tengah malam.


"Kenapa jam segini belum tidur?" bukannya menjawab, Nandang justru balik bertanya.


"Baru selesai mengerjakan tugas kak. Kerjaannya selesai, kantuknya belum datang jadi iseng online." Terang Naila yang sesungguhnya senang dapat telepon dari kakak sahabatnya itu.


"Oh... tugasnya sulit ya?"


"Ga sih kak. Cuma emang baru inget pas pulang tadi."


"Lain kali, ngecek tugasnya sore Nai. Supaya ga begadang."


"Kan bisa tinggal."


"Huum... ga seru lah tinggal di rumah cuma sama bibi."


"Heemm. Btw... gimana tuh bisa hilang 7kg?" tebak Nandang asal.


"Iih... kak Nan kok tau aku lost 7kg. Pasti tanya sama An." tebak Naila.


"Hahh... masa iya. Kak Nan nanya tentang kamu ke Ndin?"


"Kenapa?"


"Ga... ga papa sih. Tapi benerkan? Besok kak Nan dapat hadiah donk."

__ADS_1


"Hahaaa.... ia bener hilang 7kg. Sejak kak Nan pergi. Aku coba menu yang kak Nan sarankan. Low karbo dan high protein. Kak... aku tuh tetep banyak makan, tapi timbangannya makin ke kiri deh." ungkapnya senang.


"Olah raganya gimana?"


"Ga berat sih kak. Cuma berbagi kerjaan sama bibi. Sekarang Nai rajin nyapu dan ngepel rumah aja. Biar ada keluar keringat." Naila masih bicara berapi api, penuh semangat.


"Waduuuh... sudah cantik, pintar masak, rajin bekerja lagi. Istri idaman banget sih..." ujar Nandang agak pelan.


"Apa kak? kok suaranya mengecil?" tanya Naila yang tidak begitu jelas mendengar ungkapan Nandang tadi.


"Oh... ga. Itu, kalo bisa jangan di kurangin lagi berat badannya. Terlalu kecil ga bagus juga Nai."


"Masa kak?"


"Iya... nanti ga empuk lagi kalo di peluk Nai dari belakang." Kali ini Nandang bicara tidak sepelan tadi. Tentu saja Naila dapat mendengarnya dengan jelas. Dan, hal itu membuat hatinya pyar pyur, berdebar tak menentu. Semacam ge-er tak beralasan. Mengapa tiba tiba ia malu bercampur rindu, dengan momennya bersama Nandang di atas motor. Melintasi jalan raya, tanpa tujuan yang jelas. Apakah fix... Naila telah jatuh cinta pada Nandang. Dan denyutan ini bahkan tak pernah ia rasanya saat bersama Heru yang jelas jelas pernah berstatus kekasihnya.


"Kak Nan..." hanya itu yang mampu Naila suarakan dengan agak manja.


"He... he... besok kak Nan jemput jam berapa? dan kita ke mana?" tanya Nandang mengalihkan topik, yang karena ujarannya tadi pun. Mampu membuat sudut hatinya cenat cenut sendiri. Tentu saja, ia belum puas bertemu Naila tadi. Maka akan segera mengatur jadwal temu, sebelum akan kembali ke desa.


"Terserah kak Nan saja."


"Besok ada kuliah ga?" tanya Nandang lagi.


"Ada kak, pagi. Makanya tugas ini, di kumpul besok."


"Sampai jam berapa masuknya?"


"Sebentar kok, cuma satu makul."


"Besok ijin sama pa Bagus, pulangnya sore ya. Kak Nan culik di kampus saja." Ujar Nandang yang tak ingin kehilangan kesempatan bersama idolanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2