
Bukan baru kemarin Gadis jatuh cinta pada Nandang, tetapi telah melewati ribuan hari. Hanya ia tak begitu terobsesi untuk mengejar Nandang.Ia hanya suka saat melihat lelaki itu di matanya begitu manis dan bertingkah sopan selalu saat mereka opspek bersama. Selanjutnya ia hanay bisa sekilas memandang sebab fakultas yang berbeda membuat waktu temu mereka tentu saja jarang sama.
Namun kegiatan KKN ini bagi Gadis bagai Oasis, yang dapat memepertrmukannya kembali dengan lelaki pujaan hatinya. Apalagi bisa berada dalam satu kelompok. Baginya itu adalah kesempatan yang tidak boleh di sis siakan.
“Nandang… aku mau mencuci pakaian. Mau nitip?” tanya Gadis seperhatian itu.
“Oh… tidak. Tuh, pakaian ku sudah di jemuran.” Jawab Nandang.
“Hah…? Ini bahkan baru pukul 6 pagi. Kapan kamu mencuci?”
“Tadi, setelah dari surau.”
“Setelah sholat kamu tidak tidur?”
“Tidak pernah.”
“Karena banyak tugas yang harus di siapkan?”
“Tidak, aku selalu begitu kok. Di rumah juga begitu. Dulu kami bahkan harus bangun pukul 3 dini hari untuk membantu emak membuat roti dan kue.”
“For what?”
“Untuk di jual di sekolah dan di jajakan pagi pagi.” Cerita Nandang. Yang kini tengah ******* ***** bungkusan mie instan untuk sarapan pagi kelompok mereka.
“Kamu anak yang rajin dan sholeh.”
“Tidak juga, itu kebutuhan Dis.” Jawabnya datar.
Gadis mengedarkan pandangan matanya ke seluruh rumah kecil itu. 4 teman lelaki lainnya dalam kerlompok itu masi tampak tidur nyeyak di lantai. Ya, hanya Nandang yang bangun bahkan membuatkan sarapan untuk mereka semua. Sedangkan 4 teman wanita mereka yang laian sudah ada yang beraktifitas, ada yang antri kamar mandi, ada juga yang sudah dengan peralatan kosmetiknya, juga sisa satu yang masih bergelut dengan selimutnya di atas tempat tidur.
“Gadis, Dita mana? Yang lain sudah tampak keluar kamar sejak tadi.” Tanya Nandang yang memang memberikan perhatiannya pada seluruh anggota kelompoknya.
“Ada di kamar. Masih tidur kayaknya.”
“Coba kamu cek. Kenapa belum bangun.”
__ADS_1
“Ngapaian… memang anaknya suka ngelantur jam tidurnya.”
“Benar? Tolong di lihat lagi, mungkin sakit. Sebab kemarin kulihat dia agak pucat.”
“Perhatian banget sih.” Jawabnya memonyong monyongkan mulutnya tak suka. Cemburu dong, dia yang selalu di samping Nandang. Tapi Nandang justru memperhatikan Dita yang bahkan kerjanya hanya malas malas sejak kemarin.
“Bukannya kalian yang menunjuka aku jadi ketua kelompok? Tambah kan yanggung jawabku jadinya.” Jawab Nandang yang sudah selesai dengan masakan sederhananya. Mie goreng dan telur dadar sesuai jumlah mereka dalam satu kelompok.
“Iya… deh pak Ketua yang bertanggung jawab.” Jawab Gadis ngeloyor masuk ke kamar untuk memastikan keadaan Dita sesuai perintah Nandang.
“Dit… bangun. Kamu sakit?” tanya Gadis yang sudah duduk di atas tempat tidur.
“Ga usah di bangunin Dis, dia bahkan baru subuh tadi bisa tidur.” Jawab Meka menghentikan kegiatnnya memasang mascara dan segala bingkai dan hiasdan apa diwajahnya.
“Kok kamu tau?”
“Kalian tidurnya kayak kebo semua. Sepertinya dia masuk angina. Semalam dia minta di kerok.” Jawab Meka lagi.
“Masa…?”
“Penting banget yan Ka… di tutupin?”
“Banget lah, biar penampilanku selalu sempurna.” Jawabnya centil.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan dari luar kamar.
“Gadis… Dita sudah bangun?” Suara Nandang terdengar dari balik pintu itu. Membuat Gadis mengepalkan tangannya ke udara seolah mau meninju Dita yang masih tidur nyeyak. Lalu melangkah ke depan pintu untuk menemui Nandang.
“Masih molor orangnya.”
__ADS_1
“Dia sakit?” cemas Nandang.
“Ga tau…” Jawab Gadis malas malasan.
Serta merta Meka berdiri dan berjalan melangkah menuju pintu.
“Nandang… kayaknya iya. Aku semalaman ga bisa tidur memijat dan mengerok dia, sepertinya dia sakit deh. Gimana ya?” Meka tidak mau menyembunyukan keadaan Dita yang sesungguhnya dari Nandang selakui ketua kelompok.
“Hah… tuh kan. Aku sudah curiga dia sakit. Ya sudah, untuk kegiatan hari ini, biar dia tinggal saja. Tapi siapa yang mau menemani dia di sini?” tanya Nandang agak bingung.
Hari ini kegiatan mereka adalah melakukan simulasi mengajar di sekolah dasar. Memang tidak semua mendapat giliran mengajar, sebab sudah ada jadwal yang di susun bersama pihak sekolah terkait. Jadi hanya 3 orang yang akan mengajar hari ini. Tetapi yang lainnya juga di wajibkan untuk mendampingi ke sekolah tersebut. Mungkin bisa melakukan kegiatan selain ikut dalam ***. Membuat taman sekolah mungkin dan membersihkan lingkungan secara umum.
“Lyra… Lyra saja ketua, karena hari ini bukan jadwalnya mengajar. Kalau aku, kamu lihat sendiri kan. Aku sudah dandan maksimal untuk menghadapi siswa siswa yang akan aku hadapi nanti.” Celoteh Meka dengan penuh semangat.
“Oh… jadi kamu dandan maksimal dari tadi demi penampilanmu di hadapan anak SD… ha… haa…” Bahak Gadis seolah baru sadar tujuan Meka.
“Ouuh sorry yaah. Kamu pasti ga sempat lihat pak guru wali kelas 5. Biar kata ini desa, ternyata menyimpan bibit pria tampan.”
“Masa… kok aku ga liat ya?”
“Ya iyalah… matamu kan hanya tertuju sama Nandang si ketua kelompok ini.” Cerocos Meka tanpa rem. Gadis melotot ke arah Meka yang hanya tertawa.
“Iiish… ribut saja. Gadis… coba kamu bangunkan Arman, Minta dia menemani kamu ke rumah perawat. Supaya memeriksa keadaan Dita.” Perintah Nandang yang cuek saja dengan isi obrolan kedua temannya itu.
“Kenapa harus dengan Arman? Kenapa tidak denganmu saja?” tanya Gadis dengan berani. Rupanya rahasia umum saja tentang perasaan sukanya pada Nandang dalam kelompok itu.
“Aku harus memasak bubur untuk Dita, agar ia tidak capek mengunyah makanannya sebelum makan obat nanti.” Jawab Nandang sambil berbalik dan kembali menuju dapur mereka.
“Oh Tuhan… mengapa tidak aku saja yang sakit kalau Nandang seperhatian itu pada anggota kelompok ini yang sakit.” Umpat Gadis seraya melangkah membangunkan Arman sesuai perintah Nandang tadi.
“Ya udah… potong nadi dikit deh Dis, biar kamu sakit dan perjuangan mendapatkan cintamu sedikit drama.” Lagi lagi Meka meledek Gadis yang sudah mengepalkan tangan kanannya ke arah Meka dengan wajah penuh senyum. Ancaman yang cantik.
Namun yang di umpat Gadis memang benar, siapa Dita? Hanya teman sekelompok yang baru beberapa hari di kenalnya. Tetapi Nandang seperhatian itu. Bahkan kini membuatkan bubur untuk Dita. Gadis jelous donk, tapi tetap tau diri, Nandang bukan siap siapanya. Lagi pula baginya buang waktu hanya untuk cemburu dengan orang yang sedang sakit dan tak berrdaya seperti Dita. Dalam pantauannya pun Dita bukanlah teman yang pecicilan dalam hal menggoda Nandang. Sebab dari awal setelah Akbar membreafing mereka, Gadis pun sudah meberikan wanti wanti agar 4 teman dalam kelompok itu tidak boleh caper dengan Nandang.
Bersambung…
__ADS_1