
Entah, Naila telah cinta atau bagaimana dengan Heru. Tapi, waktu yang tidak sedikit ia lalui bersama Heru walau tak seromantis dan seindah yang ia mau. Tetap saja rasa pernah memiliki Heru sepenuhnya itu pernah ada.
Hati Naila lemah, ia kecewa bukan hanya karena di bilang gendut, tapi sebuah kalimat taruhan. Apa Maksudnya? Perihnya berlapis, saat ia tau Heru memiliki wanita lain yang bahkan mereka akan bertunangan.
Naila jijik mendengar Heru bahkan sudah sering melakukan hubungan intim, layaknya suami istri dengan wanita itu. Naila sebenarnya sering di raba raba Heru, namun hanya pernah di bagian lutut ke atas sedikit. Bibirnya pernah bertemu bibir Heru, tapi habya di permukaan, tidak pernah masuk kedalam. Artinya sebatas ciuman mendarat, bukan mendalam, bukan cip okan.
Selain Naila tidak berani, juga mereka selalu pacaran di rumah dan tempat terbuka dan selalu menciptakan jarak saat berduaan dengan Heru. Bukan karena so' suci. Tapi karena terkadang omongan Heru selalu saja menyinggung berat badannya.
Saat menggenggam tangan, selalu komen soal jari jemarinya yang ukurannya jempol semua. Saat ia membelai rambut Naila dan menyampirkan ke bahu sebelah, ia selalu membahas tentang lipatan lemak yang bertumpuk di leher Naila, membuat ia kehilangan feel namun juga tak berani menerima ajakan putus dari Naila.
"Maaf, dada kak Nan jadi basah." Bisik Naila tepat di telinga Nandang, pelan. Menghindar suaranya terdengar oleh Heru di belakang mereka.
Astaga, apa kabar dengan hati Nandang yang tiba-tiba terpacu tak karuan, saat berbisik bibir Naila tersentuh kulit daun telinga Nandang.
Deg
Deg
Mendadak adrenalinnya meningkat, dan mendikte tangannya untuk membelai lembut pucuk kepala wanita yang memang telah lama di idamkannya itu.
"Tidak apa apa. Dada ini selalu siap untuk menekan sedihmu, dan menghadap senyum bahagiamu nanti." Jawabnya tak kalah lembut di telinga Naila, dan oh... tidak. Nandang bahkan nekat mencium pucuk kepala Naila dengan pelan.
Naila tau, bibir itu menempel di kepalanya, ia sadar jika organ kenyal itu agak lama di sana. Bukannya menolak atau berpindah, ia justru merasa nyaman dan aman. Seolah merasa di lindungi dan sangat di sayang
"Maaf." Ujar Nandang melepas tempelan bibirnya di atas kepala itu.
Naila melepas pelukannya. Dan menghapus air matanya dengan tisue. Menarik nafas dalam, dan berdiri serta meraih tangan Nandang. Mengajak pria itu untuk segera pulang.
__ADS_1
"Pulang...?" tanya Nandang. Di balas anggukan. Dan Nandang tak punya pilihan selain mengikuti saja.
"Haii... Eh, Elsa. selamat ya. Semoga acaranya lancar." Sapa Naila agak terkejut melihat wanita yang duduk di sebelah Heru adalah temannya waktu SMA, namun tetap mengulurkan tangannya akan berjabat tangan pada Heru dan kekasihnya tersebut.
"Nai... Naila...?" kejut Elsa menyadari jika yang berdiri di depannya adalah Naila yang tentu saja di kenalnya.
"Iya... aku Naila. Naila gendut yang kalian bicarakan tadi." Jawab Naila.
"Hah...? Kamu denger?" Kejutnya lagi. Mungkin jika lampu di area itu terang benderang, wajah itu merona malu, jika memang masih punya rasa malu.
"Iya... semuanya. Apalagi yang suka nyembur di luar tadi. Semoga panjang jodoh ya. Dan Heru, terima kasih untuk waktu yang telah lama kamu buang percuma untuk menipuku dan berjuang keras jadi tutor kurusku. Tapi, maaf aku lebih bahagia begini. Bahagia saat tak lagi tau kabarmu, bahagia tak lagi mendengar umpatan kasarmu. Dan, lebih bahagia lagi jika tawaran putus mu yang berkali kali kamu ajukan, akhirnya sekarang terealisasi. Aku dan kamu hanya ilusi, terima kasih untuk semuanya." Tegas Naila.
"Oh... bagus lah. Dengan ini aku tak perlu repot mencari alasan untuk mengakhiri kebersamaan unfaedah bersamamu." Heru angkat bicara, tetap dengan nada suara yang tak merasa bersalah.
"Iya... terima kasih banyak. Maaf merusak reputasimu. Pernah tercatat sebagai kekasihku. Walau hanya sebatas taruhan. Kamu hebat." Geram Naila.
"Terima kasih pujiannya." Jawab Heru sungguh tak merasa salah. Naila tersenyum manis.
"Oh... iya. Masih. 5jt cukup. Di tunggu ya." Oh... breng sek. Heru memang layak di rontokkan dari Naila. Benar benar manusia toxic.
"Hmm... baiklah nanti ku SS bukti transfer." Jawab Naila.
"Thanks. Oh iya. Kita resmi putus ya La." Tukasnya lagi tanpa malu.
"Oke." Jawab Naila, yang kemudian berlalu meninggalkan pasangan itu. Di ikuti Nandang di belakangnya.
Nandang tak merasa berhak ikut campur, apalagi berpendapat. Baginya mereka sudah resmi putus saja, sudah keputusan yang benar.
__ADS_1
Nandang dan Naila kembali berada di atas motor. Menerjang jalan hitam bermarka putih, di atas dua roda. Yang hanyut mengantarkan mereka tiba di rumah Naila kembali.
"Kamu baik baik saja Nai?" Tanya Nandang saat sudah berada di teras depan rumah Naila.
"Tidak sebenarnya." Jawab Naila pelam dan agak malas.
"Kakak harus gimana?" tanya Nandang lagi.
"Bisa tetap di sini dulu, sampai ayah dan ibu pulang?" Naila balik bertanya. Ada rasa semacam tak ingin pisah dalam hatinya, yang datang dengan sendirinya. Begitu berharap kaka dari sahabatnya ini tetap ada menemani malam sedihnya.
"Baiklah. Lagi pula, kakak sebenarnya masih mau liat wajah Nai. Walau dalan keadaan sedih, di mata kak Nan, Nai tetap cantik." Jurus pujian level 1 sudah mulai di lancarkan oleh Nandang.
"Hahaa... kakak Jangan lupa Nai gendut lho." Kekeh Naila.
"Cantik itu bukan dari gendut dan kurusnya badan Nai. Tapi, kemapuan seseorang menghadapi masalah dengan kepala dingin itu lebih mempesona. Hatimu yanga cantik, misl kurus itu hanya bonus, dan yang utama adalah sehat jiwa dan raga." Jurus pujiannya naik level lagi niih, langsung ke level 5. Ah... Nandang langsung tembak aja kenapa?
"Jika semua laki laki punya pikiran begitu, maka semua cewek di dunia ga akan ada yang takut gendut kakak." Naila benar benar terhibur dengan kata kata Nandang.
"Ngapain siih takut gendut. Kayak dosa aja." Sahut Nandang lagi.
"Hm... Kak. Makasih udah ajak Nai keluar malam inu. Dan syukur akhirnya Nai putus sama Heru." Ujarnya lirih.
"Masih sakit hati Nai?" telisik Nandang.
"Belum tau rasanya kak. Masih berasa mimpi. Obrolan mereka tadi masih terngiang ngiang memenuhi ruang dengar dan otak Nai." Jujurnya pada Naila.
"Kalo mau nangis lagi, malam ini aja kesempatannya. Karena Besok dan seterusnya kakak ga bisa temani Nai begini." Ada udang di balik batu, ada maksud yang sedari tadi tak tersampaikan.
__ADS_1
"Kakak ga mau hibur Nai?"
Bersambung...