
Satu pekan berlalu lagi, berhasil Nandang dan teman temannya lalui dalam rangka menjalankan tugas perkuliahan mereka. Dan minggu itu adalah minggu yang penuh drama terutama Gadis yang menghabiskan waktunya untuk cemburu, marah dan keki demi melihat perhatian Nandang pada Dita.
Mungkin hormon kehamilan juga yang membuat selera makan Dita selalu meningkat saat memakan masakan buatan Nandang dengan lahap terus.
Sesuai dengan yang Akbar sampaikan jika minggu itu ia akan datang untuk mengawasi langsung progres kegiatan KKN kelompok itu. Akbar memilih tidur bersama mahasiswa laki laki di bagian luar. Sambil sesekali mencuri curi lirikan dan kesempatan bisa mengelus perut Dita.
Usia kehamilan Dita sudah lewat 2 bulan. Tetapi masih dalam masa yang rentan dan harus di jaga ekstra. Hormon kehamilannya pun meningkat, ingin selalu berada di dekat orang yang membuatnya hamil tentunya.
Sebenarnya bukan hal yang salah, jika Akbar dan Dita jujur saja, jika mereka adalah suami istri. Tapi Dita merasa masih perlu menutupinya, sebab takut di kira pelakor. Karena suami surat cerai akbar belum di tangan.
Tetapi hal itu justru membuat kacau, Gadis tidak hanya geram melihat perhatian Nandang pada Dita. Tapi ia juga agak senewen melihat dosen pembimbing mereka terlalu sering lebih condong membimbing Dita agar tugasnya segera selesai.
"Pa Akbar... dosen pembimbing private Dita ya? Kok cuma Dita yang lebih sering di koreksi?" tanya Gadis yang memang berani bertanya, ketimbang Meka atau Lyra yang hanya bersenggolan siku saja.
"Oh... kebetulan pekerjaan Dita tidak sebagus kerjaan kalian. Jadi, seolah bapak hanya mengoreksi punya Dita." Jawab Akbar masuk akal.
"Kiraiin, hanya punya Dita yang di lihat." Jawab Gadis mengerti.
"Terus pa... apa boleh selama KKN ini sesama teman satu kelompok itu pacaran?" tanya Gadis lagi di luar jalur.
"Hah... ? Menjawab itu bukan kapasitas saya sebagai dosen pembimbing. Yang saya urus hanya yang berhubungan dengan kinerja kalian. Progres kegiatan dan memberikan saran untuk kemajuan selama beraktivitas selama menjalankan KKN ini." Terangnya dengan suara datar.
"Pa Akbar, kopinya sudah di meja makan." Suara Dita menguar di ruang tengah, tempat di mana Gadis dan lainnya berkonsultasi.
Senyum manis Akbar terukir menghadap Dita. Dalam hatinya bersorak senang, bahkan ingin segera merengkuh istri sirinya yang bahkan tengah mengandung anak yang ia rindukan selama ini.
"Terima kasih Dit." Jawabnya sembari berdiri akan mendekati meja makan, di mana Dita menyiapkan kopi hitam untuknya.
__ADS_1
"Ga ada kue?" tanyanya pelan pada Dita. Yang di tanya hanya menggeleng, ia tampak menjaga jarak dengan Akbar, di antara mereka yang di ruangan itu hanya Lyra yang tau, jika Akbar adalah ayah dari bayi yang Dita kandung.
"Nandang mana?" tanya Akbar lagi pada Dita, sambil menoleh ke arah mahasiswi lainnya yang masih membulat di ruang tengah.
"Jam segini siih.... biasanya Nandang di luar pa. Di tempat full signal." Jawab Gadis.
"Iya... ya di sini blank spot. Sampe susah biasanya menghubungi kalian via chat apalagi telepon." Jawab Akbar sambil menatap ke arah Dita.
"Bapak ada perlu apa dengan Nandang?" tanya Lyra tanggap dan mendekat ke arah Akbar.
"Mau minta carikan biskuit saja. Teman ngopi." Jawab Akbar singkat.
"Spesialis cari kue itu Arman pa, karena punya motor pinjaman. Sementara bapak ngopinya di temani Dita saja, wajahnya menul menul kok, kaya biskuit basah." Kekeh Lyra bercanda. Ia paham jika keduanya perlu ruang dan waktu untuk saling dekat.
"Oh gitu.... boleh lah di coba. Duduk Dit, biar bapak seruput kopi sambil lihat pipi kamu." Tiba tiba Akbar genit, membuat pipi Dita merona merah jambu, menahan malu.
"Lyraaa..." Ucap Dita pelan sambil senyum.
"Ah... males ah. Kalian saja yang panen." Ujar Gadis menolak, hatinya sungguh makin tak suka pada Dita, dalam keseharian perhatian Nandang sering tercurah untuk Dita, kemudian saat dosen pembimbing ini ada. Ia justru kebagian menemani dosen itu di penginapan karena alasan sakit ia jarang keluar dari penginapan.
"Ya sudah... kamu temani saja Dita dan pak Akbat di sini. Jangan salahkan kami kalau nanti seru seruan sama Nandang di kebun." Ucap Lyra cuek. Tau karti As pamungkas agar Gadis bisa ikut pergi bersama mereka.
"Yeee... ikuut lah. Enak saja kalian mau deket deket sama Nandangku." Lomoatnya tanpa malu, dan segera berbaur dengan ke tiga temannya yang sudah di luar rumah.
"Eh, kalian tuh sadar ga sih? Kalo Dita itu ganjen..." Dita mulai bergosip ria.
"Ganjen gimana?" tanya Meka.
__ADS_1
"Tuh liat segala buatkan kopi buat pa Akbar. Genit bangetkan, bukannya pa Akbar itu sudah beristri?" tanyanya.
"Emang semua cewek yang buatkan kopi itu genit?" tanya Vinda agak o'on.
"Ya ga semua sih. Cuma dari gesturnya. Kok dia kaya kasih perhatian lebih gitu ya sama pa Akbar? Pa Akbar juga aneh. Ku tanya kelompok lain, mana ada dospemnya yang sampe ikut nginap di penampungan bersama mahasiswanya." Cerca Gadis.
"Ya kita wajib bersyukur dong. Artinya kita mahasiswa spesisal beliau." Jawab Meka cuek.
"Iya, artinya pa Akbar dospem yang baik. Bukannya itu justru lebih baik kan. Biar kita ga banyak salahnya." Tambah Vinda lagi. Membuat Gadis merasa sendiri, tak ada yang membelanya.
"Dita mana?" tanya Nandang saat melihat rombongan para cewek cewek itu mendekat ke arahnya, yang sudah sejak tadi menunggi di kebun kacang.
"Kencan sama pa Akbar." Jawab Gadis ingin melihat ekspresi terkejut di wajah Nandang, atau mungkin cemburu. Begitu pikir Gadis yang mengira Nandang punya hubungan spesial dengan Dita.
"Oh." Jawab Nandang datar tanpa ekspresi.
"Nan... pa Akbar udah tau Dita hamil?" Bisik Lyra pada Nandang. Saat mereka bersada di jalur yang sama untuk memetik kacang panjang.
"Stt... sudah. Kemarin waktu kalian tinggal. Mereka sudah nikah siri." Jawab Nandang tak kalah berbisik, mendekat dengan Lyra.
Bruuk... beberapa bilah kacang panjang mengenai Nandang dan Lyra. Sontak keduanya menoleh ke asal kacang yang di lempar ke arah mereka.
"Gadis...? apa apan sih?" marah Lyra melihat beberapa bilah kacang yang jatuh ke tanah.
"Kurang dekat kalian berduanya...!!!" Gadis tak kalah marah pada Lyra.
"Kamu kenapa si Dis?" tanya Nandang agak berang, ia tak senang Gadis seolah membuang makanan.
__ADS_1
"Udah jelas kali... aku suka kamu Nandang. Aku ga suka ada cewek lain deketin kamu. Paham?"
Bersambung...