PEJUANG NIP

PEJUANG NIP
BAB 58 : SURAT SEHAT


__ADS_3

Noni sudah kembali ke penginapan, bahkan pamit akan pulang ke tempat kerja. Setelah sholat magrib dan menyelesaikan sholat isya. Nandang kembali bertemu dengan Noni, di desa sebelah. Anggap saja Nandang sedang mengambil jatah liburnya, sehingga ia ijin dengan teman satu kelompoknya untuk pergi beberapa jam, untuk menemui Noni untuk menghabiskan cerita yang tak tuntas mereka bicarakan sore itu.


Panjang dan lebar cerita yang Noni sampaikan, sampai dengan perasaannya pada seorang ustads yang tinggal di tempatnya bekerja. Yang mengajaknya berta’aruf. Noni sudah mengisahkan semua kenistaan dan kehinaan apa saja yang pernah Noni lakukan. Namun, ustads itu pun tak kalah membeberkan aib hidupnya di masa lalu sebelum bertaubat. Untuk itulah, Noni sedang ia beri waktu berpikir untuk menerima tawarannya untuk menyongsong hidup yang lebih baik bersamanya.


“Sholat Istikharah tante, minta petunjuk jodoh dari Allah. Agar di berikan petunjuk jodoh yang terbaik, masih tau bacaannya kan?” saran Nandang pada Noni dengan lembut.


“Iya tau, tapi. Apa ia aku termaafkan oleh Allah Ndang?”


“Insya Allah tante, Allahkan pohon segala pengampunan. Asalkan sungguh bertaubat, yakni tidak kembali kejalan yang sesat lagi.”


“Bismillahirohmanirohim, aku akan berusaha memperbaiki diri dulu saja. Soal ajakan berta’aruf itu. Mungkin nanti dulu saja. Aku tidak yakin akan di terima tanpa syarat oleh lelaki manapun.” Lirihnya.


“Tante, tidak semudah itu mengambil keputusan untuk berta’aruf. Semua itu adalah gerakkan dari Allah. Ia pun mungkin sedang bimbang dengan pilihannya, ia sedang meragu membaca petunjuk yang Allah arahkan padanya, mengapa merujuk ke tante. Tapi, percaya saja, jodoh, rejeki dan maut sudah di aturkan sesuai dengan porsinya masing-masing.”


“Hmm… pulang besok. Aku akan mulai Istikharah. Aku juga bosan dengan hidup yang tak jelas arah ini.”


“Alhamdullilah, Nan selama ini tau. Tante Noni adalah orang baik, baik sekali. Terutama pada Nan dan keluarga. Nan banyak terbantu oleh tante. Makasih banyak ya tan.”


“Kamu yang lebih baik Ndang. Kamu anak ingusan yang sederhana, tapi memiliki iman yang kuat, berapa kali aku ingin menggangumu tapi kamu bertahan. Hatimu benar benar mulia dan penyayang pada keluarga, aku yakin kamu akan sukses nantinya.”


“Amiin. Tante juga pasti akan lebih sukses lagi.”


Kisah persahabatan dua genre dan dua jenis kelamin berbeda itupun berakhir di sebuah penginapan desa sederhana. Entah mengapa, antara Noni dan Nandang saling merasa lega. Setelah keduanya saling berpisah, status apa kedekatan mereka juga tak jelas. Tetapi berakhir dengan doa, harapan juga sesuatu yang indah. Mereka bukan pasangan kekasih, tetapi saling mengasihi, mereka juga bukan teman sebaya, namun saling percaya. Selama kedekatan mereka tak pernah ada kontak lebih dari pegangan tangan dan pelukan, namun keduanya sungguh saling tulus memberikan perhatian satu sama lain. Maka, saat Noni berkata ada ustad yang akan melamarnya. Di situ Nandang merasa dirinya terbebas dari jerat incaran Noni yang bisa saja sewaktu waktu megejutkannya. Ada harapan dan doa tulus yang Noni sampaikan pada Nandang untuk kesuksesan masa depan Nandang, pun hubungannya dengan Naila, yang memang belum jadi siap siapanya Nandang. Bagi Nandang sepulang KKN ini tugasnya hanya merampungkan skripsinya agar lekas lulus kuliah, lalu menjadikan Naila kekasih hati untuk penyemangatnya merengkuh masa depan.


Hari barum di tempat yang tak baru. Wajah kesal Gadis masih terpampang nyata, selain karena harus berjalan sendiri ke tempet penampungan mereka, ia juga tau jika malam itu hampir pukul 12 malam Nandang baru pulang di antar oleh Noni. Ditambah lagi pagi ini, Nandang sudah bangun membuatkan bubur tabor abon ayam untuk Dita. Dan jengkelnya Gadis adalah, Dita sudah duduk manis menunggu Nandang melayaninya di meja makan.

__ADS_1


Teng


Teng


Teng


“Mari makan semuanya…” Ceria Dita pagi itu. Bagaimana tidak senang? Statusnya sudah jelas. Kini ia sudah di halalkan oleh Akbar, ia tak punya alasan untuk bersedih lagi. Bahkan Akbar akan meresmikan dan menggelar resepsi untuk pernikahan mereka. Sedangkan Nandang, sudah Akbar tugaskan untuk memperhatikannya, terutama urusan makanan dan keperluan lainnya.


“Semangat sekali pagi ini Dit.” Celetuk Arman mendekati meja makan.


“Hmm… harus dong. Hari ini jadwalku ngajar.” Jawabnya antusias.


“Yaaa… calon ibu guru.” Timpal Arman menrik kursi di sebelah Dita.


“Heiii… aneh. Aku sudah mandi, pake parfum juga. Niih.” Arman mengangkat tangan dan menujukkan ketiaknya ke arah Dita.


Wuuuuueeek.


Bubur tadi baru masuk 3 suap, tapi wangi Arman justru merusak mood ibu hamil itu. Nandang segera mendekati Dita, menepuk punggung Dita pelan.


“Minum Dit.” Perintah Nandang menyodorkan segelas air putih pada Dita.


Dita memegang hidungnya, dan mengibas ngibaskan tangannya keudara searah dengan Arman.


“Arman… bisa tolong agak jauhan.” Pinta Nandang sopan, pada Arman yang sedikit bingung.

__ADS_1


“Mau aku pijat?” Tawar Lyra yang tau jika Dita hamil.


“Ga … ga usah. Maaf, merusak suasana sarapan kalian pagi ini.” Tunduknya sambil berjalan. Mencari kain untuk membersihkan bekas muntahnya yang tidak banyak.


“Udah ga usah Dit, nanti aku saja yang bersihkan. Kamu tunduk tunduk, nanti malah pusing. Istirahat sebentar deh, di kamar.” Perintah Nandang. Dan hal itu, justru membuat perut Gadis mual melihatnya. Tambah dongkol hatinya, melihat perhatian Nandang pada Dita. Bahkan muncul kecurigaanya akan kedekatan Dita dan Nandang, mungkin ada sesuatu yang tidak ia ketahui. Kejengkelannya lebih dalam, saat Nandang meminjam motor Arman untuk mengantar Dita lebih dahulu ke sekolah tempat ia praktek mengajar nasnti. Baru setelahnya mereka berjalan bersama menuju sekolah tersebut.


“Kok… aku liatnya, antara Dita dan Nandang ada sesuatu ya?” celetuknya saat melihat Dita berboncengan dengan Nandang, dan menarik tangan Dita ke pinggangnya.


“Sesuatu gimana?” tanya Lyra biasa.


“Kayak lebih perhatian gitu… apalagi kemarin kan yang ga ambil jatah libur Cuma mereka berdua. Bisa saja jam mereka ngapaian gitu berduaan di penampungan.” Gadus mulai meragkai kata kata fitnahmya.


“Gadis, ini tuh desa. Kita di sini itu, jadi sorotan warga. Sebelum mereka ngapa-ngapai. Ya sudah pasti mereka sudah di keroyok warga desa dong.” Bela Meka pada Dita.


“Tapi kenapa kita harus jalan kaki ke sekolah, sedangkan Dita di antar dengan sepeda motor?” tanya Gadis agak bingung dan sentiman.


“Kan tadi pagi dia mubtah, sakit lagi pasti.” Ujar Meka kembali.


“Ya kalo sakit kenapa ga istirahat saja lagi.” Tukasnya dengan nada tinggi.


“Hallooow… bukannya minggu lalu dia sudah ijin sakit ya. Masa minggu ini ia harus ijin lagi. Ngerusak jadwal saja.” Dengus Lyra ikut menutupi keadaan yang sebenarnya.


“Hah… mestinmya sebelum KKN kita harus punya surat keterangan berbadan sehat deh, darppada bikin repot kayak gini.” Ujar Gadis masih kesal.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2