PEJUANG NIP

PEJUANG NIP
BAB 58 : GADIS BAR BAR


__ADS_3

Gadis tipe perempuan agresif. Belum jadi kekasih Nandang saja, seolah Nandang sudah menjadi miliknya. Bahkan dengan penuh kesadarannya, meminta pada ibunya membuat makanan lebih untuk Nandang yang bukan siapa siapanya itu.


Nandang mana bisa kasar dengan tiap perempuan, itu kelemahannya. Sehingga wajar jika Gadis tidak merasa tertolak parah saat sudah jelas Nandang menolaknya beberapa minggu lalu. Nandang bahkan tak punya alasan jelas untuk tidak menerima Gadis.


Bahkan Gadis memang tak segan melakukan kontak fisik yang begitu vulgar, dengan kadang sengaja menempelkan tubuhnya di dekat Nandang. Apalagi jalan yang mereka lalui menuju rumah penginapan agak jelek, sehingga hal itu bisa Gadis manfaatkan menautkan tangannya pada tangan Nandang, so’ mesra.


Tit


Tit


Tit


Sebuah mobil berwarna putih tampak mendekati Nandang dan Gadis yang terlihat berjalan sambil berpegangan tangan tadi. Nandang menoleh kebelakang, kearah klakson itu berasal. Sepertinya Nandang kenal dengan mobil itu, tapi bukankah mobil putih tidak hanya satu di buat, maka Nandang cuek saja berjalan. Tetapi berusaha melepas pertautan tangan Gadis yang sengaja ia temple dari tadi.


Mobil itu melaju dan menempel bersejajar dengan tubuh Nandang dan Gadis yang sudah melipir ke pinggir jalan.


“Apaan sih ni mobil. Udah di pinggir juga…!!” Berang Gadis agak marah, walau agak senang karena reflek tubuhNandang makin dekat dengannya.


“Tante Noni…?” Nandang memicingkan matanya, saat manik matanya sungguh melihat wajah yang menyembul di kaca jendela mobil tersebut.


“Ndaaaang.” Teriaknya nyaring. Sambil keluar dari mobilnya memeluk Nandang.


“Tantee… kenapa ke sini?”


“Kangen lah… masa ga boleh?” Noni lebih sarap dari Gadis dong. Membuat hati sekretaris kelompok itu bergetar tak karuan, penasaran sekaligus bingung. Ingin tau siapa wanita yang Nandang panggil tante tapi so’ mesra itu.


“Ga gini juga tan…” Nandang melerai pelukan dari wanita yang sudah berbulan bulan tak ia temui dan lama tak intens lagi ia hubungi.


“Parkir yang bener dulu deh tan.” Usul Nandang pada sang tantenya itu.


“Siap bosku.” Jawabnya masuk ke mobil dan menepikan kendaraan roda empatnya itu. Kemudian keluar lagi mendekati Nandang, parahnya Gadis tak selangkah pun berpindah dari tempat berdiri terakhir saat Nandang berbicara dengan Noni tadi.


“Kerjaan gimana?” tanya Nandang santai saat mereka sudah menepi dan duduk di pinggiran jalan yang kebetulan ada bangku bangku panjang.


“Libur lah… ini kan sudah 3 bulan Ndang.” Jawabnya.


“Wah… ga kerasa tan, betahkan?” tanya Nandang selalu ramah. Dan obrolan itu berlanjut tanpa peduli dengan Gadis yang membuat dirinya serupa dengan patung dengan wajah cemberut dan agak dongkol. Sebab ia dapat menyimak semua isi onrolan itu, ia dapat simpulkan jika Nandang sangat dekat dan perhatian pada wanita yang jelas jelas sangat tua dari mereka tersebut.


“Tante… ini sudah hampir petang. Nginap? Dimana?” tanya Nandang lagi.

__ADS_1


"Santailah, di desa sebelah ada penginapan. Ku udah booking kok, sekalian tanya nama desa ini dengan benar. Untung si… siapa sih, temennya Andini?”


“Naila…?”


“Iya Naila yang kasih tau nama desa ini lengkap, jadi aku ga tersesat.”


“Oh… iya. Nan kasih tau alamat lengkap ke Nai. Soalnya katanya mau kirim paket apa gitu buat Nan.”


“Ciee… kirim paket. Kenapa ga antar sendiri aja siih buat kamu. Pacarmu kan dia?” tebak Noni dengan hati yang agak cemburu.


“Bukan tante…”


“Masa… dia di rumah mu terus lho kata Euis.” Cerita Noni terus mengalir.


“Bukan pacarnya Nan, tapi calon istri.” Kalimat Nandang barusan sukses mematahkan hati dua wanita beda genre sekaligus, yaitu Noni dan Gadis. Ia menoleh marah ke arah Nandang.


“Siapa yang kamu bilang calon istri…?” Gadis langsung menyerobot obrolan Noni dan Nandang, ia tak dapat lagi memahan dirinya seperti patung batu yang tak bertelinga. Emosi nya memuncak, jiwa bar barnya mencuat, tak terima dengan pengakuan Nandang yang jujur berkata jika telah punya calon istri.


“Hah…?” Nandang terkejut melihat respon aneh dari Gadis yang sejak tadi memang sengaja ia cukein.


“Cewek gendut yang sering vicall sama kamu itu, calon istrimu? Hah…. Udah pasti cantik aku kemana mana juga, ngapain sama tuh cewek?” Cerocos Gadis tanpa malu.


“Emang gendut juga… emangnya mataku kicep, layar ponsel penuh wajahnya saja.” Kesal Gadis pada Noni.


“Mau semut kecil juga kalo di kamera segede raksasa kali. Siapa sih loe, ganggu privacy orang aja.” Noni tak kalah kesal denganGadis yang nimbrung kebersamaannya dengan Nandang.


“Heey… di sini status aku tuh jelas ya… mahasiswi yang lagi KKN. Jadi wajar ada di sini, situ yang siapa? Ga tau peraturan ya, ga boleh lhoo nyambangi mahasiswa yang lagi KKN, itu melanggar poeraturan, tau..!!” Gadis so’ pinter atau so tau, seolah Noni adalah orang bodoh yang harus ia gurui.


“Udah deh, ga penting banget sih. Tan, hampt magrib antar Nang ke penginapan deh.” Nandang tidak ingin dua wanita beda genre itu berseteru akan hal yang tidak jelas.


“Nah… penting tuh, kebetulan Andini banyak titipan buat kamu. Banyak makanan, pakaian bersih juga.” Ucap Noni sembari masuk mobilnya, lalu melajukan kendaraan roda empatnya dengan lincah, meninggalkan Gadis yang makin dongkol melihat Nandang yang sungguh tidak menghargai kehadirannya.


“Pakaian bersih? Kaya aku tersesat di hutan saja.” Kekeh Nandang mengenang adik satu satunya itu.


“Hargai saja, perhatian lho itu.” Ujar Noni pelan.


“Hmm…”


“Yang tadi siapa sih?”

__ADS_1


“Teman satu kelompok.”


“Korbanmu?”


“Korban apaan?”


“Korban ketampanan dan kebaikkan hatimu lah.” Kekeh Noni paham dengan gelagat Gadis yang so nyolot tadi.


“Alhamdulillah.”


“Makanya kalau tampan, ga usah baik hati juga Ndang. Sulitkan kalo banyak di sukai orang.”


“Terus Nan harus jadi jahat g


Itu? Saat ga bisa nolak wajah tampan ini?” canda Nandang pada Noni.


“Ha… ha… ha… ga gitu juga kali. Btw, Ndang. Mobil ku ga ku titip lagi ya, rencana … mau ku bawa ke tempat kerja aja.” Lanjut Noni.


“Ya.. terserah tante lah. Dan terima kasih, selama di titip sempat Nan pakai ngantar emak.”


“Oh… di pake? Kirain Cuma di pajang.”


“Ya di pake lah, kana da kuncinya. Kalo aja sama BPKBnya di titip, mungkin Nan jual.” Tawa Nandang lepas menggoda Noni.


“Kamu mau membelinya? Biar aku beli yang baru, gimana?” Noni nawarian CRVnya sudah kaya nawarin es cendol saja pada Nandang.


“Beli…? Pake daun ?” kekeh Nandang.


“Ga usah pura-pura miskin gitu deh. Aku tau uangmu banyak.”


“Amin. Tapi ga mampu buat beli mobil ini tan.”


“Mampu kok…”


“Iya mampu… tapi pajaknya ga mampu.” Nandang merendah.


“Serius… mau bisa nego kok.”


“Serius ga tan. Biar nego juga, ini mobil mewah, pajaknya gede. Terima kasih saja.” Tolak Nandang pelan.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2