
Nandang mendadak kikuk, tak mampu menjawab bisikan yang di
tujukan padanya oleh pak Bagus barusan. Sekuatnya, ia menjaga senyum sampai akhir acara Wisuda tersebut. Demi untuk mendapatkan hasil foto yang bagus di momen bahagia kekasih juga adiknya.
Wajar saja Nandang merasa minder dan rendah diri. Bukankah Naila adalah putri tunggal. Ayahnya bahkan menjabat sebagai kepala dinas di salah satu instansi di Kota Bandung. Masakan, ia akan menikahkan harta paling berharganya pada seorang Nandang yang notanbene hanya lah seorang lulusan Sarjana Hukum yang bekerja sebagai tukang cuci pakaian.
Hidup Naila mana pernah berkekurangan. Semua tercukupi sejak dalam kandungan ibunya. PR besar bagi Nandang untuk dapat melanjutkan kasih sayang dan pemberian itu secara terus menerus pada Naila jika kelak sudah menjadi
istrinya. Menjadi tanggung jawabnya secara lahir dan batin. Nandang tidak hanya takut tak dapat mensejahterakan Naila. Tapi juga takut dosa jika sungguh tak bisa menafkahi Naila nanti.
“Kok senyumnya maksa gitu, yank.” Bisik Naila di sela pengambilan foto mereka.
“Masa… biasa aja.” Jawab Nandang datar.
Lalu kedua keluarga itu pun mengakhiri acara wisuda tersebut
di sebuah rumah makan. Bukan hal yang baru tentunya untuk momen seperti ini.
Sebab, sejak lama bahkan sebelum Nandang dan Naila memutuskan untuk pacaran pun mereka sudah sering melakukan hal itu.
“Permisi boleh bergabung…” Suara lelaki dewasa terdengar mendekati meja makan dua keluarga itu.
Pak Bagus menoleh kearah sumber suara.
“Dicky Gunawan…?”Ucap Pak Bagus mengingat ingat nama orang
yang belakangan ini memang sering berurusan dengannya di kantor. Sebab ia merupakan konsultan yang menjadi rekanan pengadaan mobile di kantor pa Bagus.
“Iya pak. Selamat atas kesuksesan putrinya.” Ujar Dicky menyodorkan sebuah buket bunga melalui pak Bagus.
“Oh… langsung saja dengan orangnya.” Ujar Pak Bagus menunjuk ke arah Naila yang duduk di sebelah Andini.
“Naila, ini rekan bisnis ayah di kantor. Masih muda kok, jadi gan usah panggil dia om. Mungkin kalian sepantaran.” Ujar Pak Bagus dengan
pernyataan penuh kode. Agak membuat hati nandang agak nyesek.
“Terima kasih.” jawabNaila senyum seadanya saat menerima bunga dari pria bernama Dicky tadi.
“Silahkan duduk Dic… pilih menunya juga sekalian.” Pak Bagus ramah pada Dicky.
“Beneran tidak apa-apa saya ikut bergabung pa?” tanya Dicky pura pura tidak enak sebab merusak acara mereka.
“Tidak apa-apa. Tenang saja. Kami di sini keluarga. Itu Andini sahabat Naila sejak masih seragaman merah putih, itu ibunya dan ini kakaknya.” Pak Bagus memperkenalkan keluarga Andini. Tanpa menunjukkan hubungan special antara Nandang dan Naila.
Nandang mengerti ia tak pantas mengakui dirinya sebagai kekasih Naila. Sebab, dari cara pak Bagus
memperkenalkannya tadi saja. Ia hanya sebagai kakak dari sahabat kekasihnya.
__ADS_1
Makin kerdillah perasaan Nandang. Hilang harapannya untuk akan terus
melanjutkan hubungannya dengan Naila gadis pujaannya itu.
Menu makanan mereka tiba, semuanya tampak asyik melahap
makanan sesuai dengan pesanannya masing-masing. Namun ternyata Naila lupa tau pelayannya yang kurang mengantarkan air putih untuk Naila.
Nandang terbiasa memperhatikan hal kecil kekasihnya, sehingga ia paham betul jika tenggorokkan Naila sekarang pasti sangat seret, karena
makanan itu masuk tanpa di selingi dengan air putih.
Tanpa memikirkan resiko dan reaksi apapundari orang-orang yang akan melihat aksinya. Iapun menyodorkan air putihnya untu Naila.
“Sudah lima suapan masuk, tapi kamu belum minum Nai.” Ujarnya pelan. Namun sangat dapat di lihat dan di dengar jelas oleh Dicky yang
memilih duduk di sebelah Nandang.
“Makasih ayang.” Jawab Naila tanpa malu dan ragu. Bahkan di hadapan ayah dan ibunya sendiri.
Dicky tak sengaja melepas sendoknya dengan tidak pelan.
Mungkin sedikit kaget mendengar panggilan mesra itu pada lelaki di sebelahnya.
Nandang hanya tersenyum, setelah aksi kebaikkannya tadi ia lakukan. Dan sambutan Naila justru di luar dugaannya.
sendiri hubungan Nandang dan Naila.
“Oh… anak pak Bagus sudah punya calon. Kirain jomblo.” Ujar Dicky tanpa basa-basi. Rupanya Dicky sudah menjadikan Naila sebagai targetnya.
Bukankah sesuatu yang kebetulan, dia tiba-tiba bisa ujuk-ujuk datang minta bergabung, seraya membawakan buket bunga sebagai tanda selamat pada Naila, yang
bahkan baru di kenalnya hari ini.
“Tenang masih bisa nego, yak kan Nan.” Kekeh pak Bagus ke arah
Nandang yang sesungguhnya sangat tegang.
Sehingga senyum tersungging saja tanpa suara yang Nandang bisa persembahkan untuk menanggapi perkataan pak Bagus.
“Selama janur kuning belum melengkung, Dic. Itu artinya
masih belum resmi di miliki siapa-siapa? Kali ini efek nya lebih keras dan jelas. Entah pak Bagus sengaja menyindir. Atau memang memberi kode keras agar Nandang bisa segera menghalalkan anak gadisnya.
“Ayah… “ Desis Naila pelan kearah sang ayah yang masih terkekeh saja. Tak biasa Naila melihat kelakar ayahnya.
“Dicky paham kokj, jika ayah suka bercanda. Nandang juga. Bukan baru kemarin sore paham pada ayah.” Ujar Pak Bagus memperbaiki arah obrolannya.
__ADS_1
Suasana makan bersama pasca wisuda terbilang tak nyaman, entah karena bisikan pak Bagus saat acara Wisuda berlangsung tadi. Atau
kehadiran Dicky. Namun bagi Nandang keduanya, sungguh menyudutkannya.
Belum habis rasa rendah dirinya yang masih belum memiliki pekerjaan sesuai ijazahnya, dan mulai ditanya tentang kelanjutan hubungannya
pada Naila. Kini, mungkin ia harus bersaing kembali dengan Dicky yang
kepercayaan dirinya seratus persen lebih banyak darinya.
“Jangan bilang kalo kak Nan cemburu pada Dicky…?” Celetuk
Andini sok tau ketika mereka sudah berada di rumah.
“Cemburu bagaimana?” tanya Nandang pura-pura tak mengerti.
“kak… Ndin, sudah dewasa. Cukup mengerti dengan mimk wajah ga enaknya kakak saat ada Dicky tadi.” Terang Andini agar lebih jelas.
“Oh tidak Ndin. Bukan itu yang membuat kak Nan agak bête.” Nandang lebih suka jujur pada Andini.
“Terus kenapa?”
“Tadi saat kalian sedang melaksanakan momen Wisuda. Pak
Bagus, ayahnya Nai. Tanya. Kapan kakak akan melanjutka hubungan kami ke arah yang lebih serius.” Ungkap Nandang.
“Wah ide bagus tuh, ya sudah. Segerakan saja kak. Kan sudah
sama-sama selesai kuliah. Nikah deh.” Ujar Andini senang.
“Nikah deh…? Semudah itu?” Ujar Nandang membalik pertanyaan.
“Ya… kuliah sudah, kekasih ada? Nikah lah.” Ujarnya pasti.
“Anak orang mau di kasih makan apa Ndin?”
“Ya nasi lah kak.” Jawab Andini cepat.
“Beli nasinya pakai apa Ndin?”
“Ya duitlah, masa daun nangka.” Kekeh Andini tanpa beban.
“Kamu tau kakak pengangguran.” Nci Jawab Nandang sendu.
“Kak, bisa ga sih ga sepicik itu pikiran kaka. Ndin benci dengan jalan pikiran kakak yang lebay.” Tegasnya sedikit meninggi.
Bersambung…
__ADS_1