
Bapak yang telah menyelesaikan pekerjaannya menggantikan ban sepeda motor Nandang pun, memilih duduk di
sebelah Nandang.
“Apa kamu sedang dalam masalah?” tanyanya penuh dengan rasa ingin tau terhadap Nandang yang terlihat masih enggan untuk pulang, walau telah nyata sepeda motornya sudah dapat di gunakan lagi.
“Heem. “ Nandang menarik nafasnya dalam, lalu membuangnya.
“Ban motor mu sudah selesai bapak ganti. Jadi sudah bisa di gunakan untuk segera pulang. Tidakkah kamu sadsari, bahwa mungkin ibu atau adikmu sedang mencemaskanmu di rumah. Atau mereka sudah terbiasa dengan kepulanganmu di tengah malam?” tanya bapak itu lagi.
“Tidak pak, ini yang pertama kalinya saya tidak pulang tepat waktu setelah jadi pengangguran. Dulu saya sering pulang pagi saat masih bekerja di sebuah club.” Jawab Nandang.
“Apa pekerjaanmu di club?”
“Bukan di clubnya. Tapi di rumah kontrakan para pekerja di club itu. Taroh kata sebagai tukang bersih-bersih. Itu lah yang membuat saya sekarang bisa memiliki usaha laundry seperti sekarang.”
“Huum… cukup berat pekerjaan untuk mendapatkan uang. Tapi tak masalah dengan pekerjaan itu. Selama itu halal. Kamu hanya menjual jasamu untuk membersihkan mereka. Tapi tidak menjual dirimu, bukan?” tebak bapak itu tanpa basa basi.
“Oh… maaf. JIka itu pernah kamu lakukan pun sebenarnya bukan urusan saya. Hanya… sebaiknya sekuat apa kita memerlukan uang, janganlah sampai menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Dosa.” Ungkap bapak tersebut dengan tegas.
“Iya pak, Alhamdulilah. Walau dari kelas 1 SMA hingga lulus kuliah saya bekerja di tempat itu. Saya hanya bekerja sebagai tukang bersih-bersih dan mengangkut pakaian kotor mereka saja. Saya juga takut dosa.”
“Alhamdulilah.” Syukur bapak tersebut ikut senang.
“Kamu tidak pulang?” lagi, bapak itu mempertanyakan Nandang yang masih tampak ingin bersantai di tempatnya.
“Maaf pak. JIka saya boleh sebentar lagi duduk di sini, boleh?” ijin Nandang pelan.
“Oh, silahkan. Bapak malah senang ada teman bicara.” Ujar bapak itu antusias.
“Rokok?” tawarnya pada Nandang. Sembari mengambil sebilah untuk kemudian membakar ujungnya untuk kemudian ia hisap, sedikit mengotori paru-parunya dengan nikotin.
“Maaf pak, saya tidak merokok.” Jawab Nandang.
“Bagus…” Puji bapak itu dengan mengangguk-anggukan kepalanya.
__ADS_1
“Kamu sudah punya calon istri? Atau malah sudah berkeluarga?” tanyanya lagi.
“Kekasih punya pak..”
“Kekasih saja, bukan calon istri?” tanyanya lagi.
“Entahlah pak. Saya kok jadi minder dengan kata kata itu. Bagaimana mau menjadikan kekasih saya itu jadi calon istri, kalau pekerjaan saja saya tidak punya.” Nandang tertunduk, mengayun-ayunkan kedua kakinya bergantian.
“Tidak punya pekerjaan bagaimana? Kamu tadi bilang punya usaha laundry. Apa itu tidak menghasilkan uang?” tanya bapak itu agak heran.
“Ya jadi uang lah pak. Cuma rasanya kalo belum punya NIP itu sepertinya ga bisa jamin kebahagiaan anak orang pak.”
“Apa kamu sering datang ke acara nikahan orang?” tanya bapak itu dengan suara meninggi.
“Kadang.”
“Apa kamu pernah dengar kalimat ijab dan qabul?” tanyanya lagi.
“Pernah.”
“Tidak.” Jawab Nandang cepat.
“Tidak pernahkan. Saya nikahkan dan kawinkan ananda Fatimah binti Sudrajat dengan nseperangkat alat shoilat dan uang sebesar bla bala di bayar tunai. Artinya nikah itu ga harus pakai NIP. Yang penting ada uang. Urusan kamu mendapatkan uang itu karena memiliki NIP atau tidak itu hanya caramendapatkan uang. Kalau semua orang memiliki pikiran seperti kamu, tunggu punya NIP dulu baru nikah, sudah banyak perawan tua. Kamu tau…?” Kekeh bapak itu masih merasa lucu dengan pemikiran Nandang.
“Iya pak.. NIP bukanlah segalanya. Tapi setidaknya dengan ada NIP para wanita akan merasa yakin dan aman untuk di lamar dan terjamin kebahagiaannya menikah dengan lelaki yang memiliki pekerjaan tetap.” Nandnag membela diri.
“Sebentar. Kamu bilang kamu bekerja sebagai pembantu di clup sejak kelas 1 SMA, benar?”
“Iya.”
“Berapa tahun?”
“Kurang lebih 6 tahun.”
“Apakah sejak itu kamu selalu mengerjakannya?”
__ADS_1
“Iya.”
“Apakah itu bukan pekerjaan tetapmu?”
“Ya… ya.. tetap.” Jawab Nandang agak tergagap.
“Artinya kamu punya pekerjaan tetap kan?” Simpul bapak itu segera.
Nandang terdiam.
“Boleh bapak kasih penilaian sesuai pemikiran bapak terhadap kamu?” tanyanya pada Nandang.
“Silahkan pak.” Jawab Nandang.
“Kamu adalah orang yang bergengsi tinggi.” Ujarnya lantang. Nandang mendongakkan kepalanya kea rah bapak itu.
“Kamu bukan minder. Justru terlalu egois dan tinggi hati.” Tegas bapak itu kembali. Wajah Nandang memerah mendapat simpulan yang menohok hatinya.
“Apa alasan bapak menilai seperti itu?”
“Kamu terlalu lama bekerja dengan keras, bahkan kamu telah mampu menjadi sarjana dengan hasil keringat dan jerih payahmu sebagai pembantu juga tukang laundry. Jujur saja, kamu malu dengan pekerjaan itu. Sehingga kamu ingin lepas dari semua pekerjaan yang mungkin bagimu hina dan tidak sesuai dengan keinginanmu. Kamu terlalu besar kepala ingin berusaha mendapat NIP, yang masih belum tentu menajdi takdirmu, sehingga kamu lupa terus bersyukur dan menjalani usaha yang sudah kamu jalani sejak lama. Tekuni usaha kecil, maka Allah akan memberikan usaha yang lebih besar lagi untukmu. Tetap bersahaja, berusaha maka Allah akan memberikan yang kamu butuhkan atas ijinnya. Allah tidak memberimu NIP, sebab Dia tau. Tanpa NIP pun kamu bisa maju. Maka, saran bapak. Jika kamu sudah memiliki kekasih. Dan kamu mencintainya. Lamar dia. Menikahinya adalah ibadah. Saat doamu tidak di ijabah Allah, maka ada doa istri yang akan ikut mendukung kesuksesanmu. Semakin banyak orang memohonkan pokok doa yang sama, maka Allah semakin mendengar dan mengabulkannya.” Panjang kalimat itu ia sampaikan pada Nandang.
“Tapi pak. Kekasih saya adalah anak seorang kepala dinas di sebuah instansi di kota ini. Saya malu pak.” Jujur Nandang mengakui perasaannya.
“Walau dia nak presiden. Jika ia hanya cinta sama kamu. Walau kamu hanya seorang pemulung. Insya Allah, ia akan tetap menerima kamu sebagai imamnya.” Jawab bapak itu kembali.
“Saya tidak yakin dengan penghasila laundry saja saya bisa membahagiakannya.” Suara itu terdengar putus asa.
“Apa kalian memang suidah saling berbicara akan hal ini berdua saja?” saling bertukar kesah, membayangkan masa depan dan hari depan bersama?” tanya bapak itu kembali.
Nandang menggeleng.
“Sedikit saya ceritakan padamu. Istri saya adalah anak wali kota di tempat asalnya. Yaitu daerah Minang. Kami saling jatuh cinta saat kuliah. Saya hanya mengambil diploma 2 dan dia sarjana. Saya anak petani. Kamu tau perbedaan penghasilan antara petani dan wali kota?” tanyanya pada Nandang.
“Cinta kami kuat, sehingga saya memberanikan diri untuk menikahinya. Yang saat itu masih belum mempunyai NIP. Saya murni hanya membuka bengkel fulltime saat itu. Dan, saya tetap yakin walau saya belum memiliki NIP, tapi saya berjanji membahagiakan wanita pilihan saya untuk menjadikannya teman hidup selamanya. Kami berjuang dari nol.”
__ADS_1
Bersambung…