
Tak sia sia pertengkaran antara kakak beradik semalam. Bukannya berakhir saling dendam melainkan justru menghasilkan ide cemerlang untuk kedepannya. Dalam hal mengelola uang penghasilan dari usaha mereka.
Sedikit banyak sebuah penghasilan yang paling penting adalah bersyukur. Dan cara bersyukur tidak sebatas ucapan 'Alhamdulilah' saja. Melainkan perbuatan.
Selama masih sehat kedua anak ini sudah sangat kenyang dengan wejangan. Maka wajar saja jika salah satu dari mereka bisa saling mengingatkan.
Puspa memang sakit, ingatannya belum pulih. Namun instingnya sebagai seorang ibu mungkin sudah berangsur kembali. Terbukti saat Nandang tidak benar benar sibuk membersihkan rumah di komplek Noni, emak Puspa gelisah tak karuan. Ia menangis rak jelas, hingga Andinindi buat frustasi di buatnya.
Jika tak kurang sabar, ingin rasanya Andini melempar ponsel yang tak kunjung dapat tersambung dengan Nandang. Kalau mengikuti perasaannya, ia sudah mengayuh sepeda pacalnya untuk melabrak Nandang, sedang apa sesungguhnya di sana. Tetapi, air mata Puspa menahannya untuk tetap tinggal dan menemani wanita yang telah melahirkannya tersebut.
Andini dan Nandang tidak menganggap emak mereka sakit. Mereka tetap melakukan interaksi layaknya orang sehat. Rencana untuk memgadakan nasi bungkus di tiap jumat pagi pun sudah Andini sampaikan pada Entin. Antusias aekali wanita itu menyambut pekerjaan tambahan tersebut. Walau ia tak bisa menurunkan harga per bungkusnya, setidaknya ia bisa menambah porsi agar ikut andil dalam hal membetikan sumbangan bagi orang lain.
"Pagi mak. Nan pergi ke kampus dulu ya. Hari ini lebih pagi, sebab Entin sudah datang membawa nasi bungkus ini. Naah... ini. Ini akan Nan serahkan untuk orang yang tak seberuntung kita ya mak. Semoga doa dan niat kita sampai, ingin emak cepat sembuh." Pamit Nandang pada Puspa yang hanya menatap kosong pada Nandang yang masih seperti orang asing baginya.
"Permisi... maaf bapak bapak, ibu ibu. Semoga tidak tersinggung. Ini kami ada sedikit kelebihan rejeki, yang bisa kami bagikan. Insyaallah tiap pagi jumat akan selalu bisa kami dan keluarga adakan untuk bapak ibu sekalian." Ijin Nandang pada beberapa orang yang terlihat masih berkumpul dengan peralatan kebersihan di tangannya.
"Alhamdulilah." Jawab seorang bapak berusia kira kira setengah abad.
"Waah... terima kasih ya." Jawab seseorang yang lain lagi.
Nandang terus saja menbagi bagikan nasi bungkus tersebut.
__ADS_1
"Iya... sering sering saja, jangan hanya tiap jumat. Kalo bisa tiap hari dong." Celetuk yang lain lagi.
Nandang hanya tersenyum.
"Tumben ada yang ngasih makanan. Mau jadi Caleg ya dek. Hahaha... modus ini." Semprot yang lain lagi.
"Astagafirullah" Batin Nandang, berbuat baik begini amat ya ternyata.
"Huuuss... bicara yang sopan. Jadi orang kok curigaan melulu." Ujar yang lain lagi menanggapi celetukan tadi.
"Halaaaaah... paling panas panas taaai ayam. Hari ini di kasih minggu depan paling ngilang... biasa aja kali kita orang susah di PHP orang kaya, seperti kalian." Yang lain kembali berasumsi. Menurut pikirannya sendiri.
"Iya nih... kalo ga mau di pilih jadi Caleg, pasti kita di suruh berdoa untuk niat atau hajat hidup mereka agar lebih baik. Lalu kalau sudah tercapai kita di lupakan. Ha... ha... ha." Derai tawa beberapa orang di sana tak terelakkan. Mungkin di beberapa dari mereka ini lah yang termasuk dalam kategori pemegang prinsip 'biar susah asalkan sombong' Bahkan saat menghadap nasi, bi beri rejeki pun su'udzon dengan niat mulia Nandang.
Nandang tak menunggu menjadi orang kaya untuk bersedekah. Melainkan sedekah lah baginya yang membuat ia akan kaya. Tetapi inilah kehidupan. Sebab tak selamanya niat baikmu akan di tanggapi baik oleh orang orang yang menerima kebaikan itu.
Sebab dunia terlalu kejam bagi segelintir orang, sehingga memiliki cara pandang berbeda. Tipe manusia itu beragam, cara pikirnya memiliki keunikan masing masing. Tetapi emak Puspa sudah sering mengingatkan, sebagai sesama manusia harus saling menghargai. Dan sesama manusia tak perlu saling menghakimi. Biarkan saja orang menilai bagaimana, yang penting kita jalan pada jalur yang kita anggap benar secara manusia, juga ajaran Allah.
"Maaf nak... boleh tau namamu?" Tanya seorang bapak yang sejak awal sudaj merespon baik, akan kehadiran Nandang.
"Nandang pa. Nandang Batuah. Saya mahasiswa semester satu. Baru saja lulus SMA. Jadi ga punya dasar dan tidak memenuhi syarat untuk menjadi Caleg." senyum Nandang terkembang.
__ADS_1
"Jangan di ambil hati. Teruslah berbuat baik, jika memang sudah di niatkan. Kami sungguh sangat berterima kasih atas pemberian ini nak Nandang," Ujarnya kembali.
"Iya... maaf jika saya yang memang lancang tanpa permisi langsung mengantar ini." Lanjut Nandang lagi.
"Tidak lancang. Hanya respon beberapa orang saja yang justru menampakkan mereka kurang bersyukur." Papar bapak itu kembali.
"Alhamdulilah. Jadi, minggu depan da seterusnya saya masih boleh mengantar ini lagi kan pak?" tanya Nandang memastikan yang di antarkannya tidak akan menjadi mubazir.
"Tentu... tentu saja. Nanti bapak yang akan bantu bagikan. Hanya pada yang menerimanya dengan ikhlas saja. Agar kamu juga mendapat berkah." Ujar bapak itu sambil menepuk bahu Nandang pertanda sangat senang dengan yang Nandang lakukan pada mereka.
"Siap siao. Terima kasih banyaj ya pak. Permisi mau berangkat kuliah dulu. Assalamualaikum." Pamit Nandang pada bapak tersebut
"Walaikumsalam nak Nandang. Hati hati di jalan ya." Jawabnya menanggapi pamitan Nandang tadi.
Iapun tersenyum menanggapi doa yang bapak itu sampaikan untuknya.
Walau tak semua orang menerima kebaikan iti dengan senyum dan ke ikhlasan. Namun tak menyurutkan semangat Nandang untuk tetap berniat baik.
Nandang juga Andini percaya, di balik rejeki yang Allah berikan pada mereka walaupun tidak seberapa. Juga terdapat hak orang lain di dalamnya. Mereka tak punya ide lain untuk menyampaikan hak orang tersebut selain berbagi makanan, walau tak banyak.
Namun setidaknya Nandang samoat melihat senyum senang yang tersampir di wajah beberapa orang yang tadi sangat antusias menerima pemberiannya.
__ADS_1
Dengan beragam respon tadi Nandang sadar, bahwa tak semua kebaikan di tanggapi dengan baik. Apalagj kejahatan, tentu akan menuai kejahatam yang lebih buruk lagi. Tugas mereka hanya mengaplikasikan rasa syukur dengan tindakan kecil saja.
Bersambung...