PEJUANG NIP

PEJUANG NIP
BAB 47 : RINDU


__ADS_3

Naila dan Nandang sudah kembali ke rumah, menyusuri pekatnya malam yang semakin dingin. Tangan Naila masih melingkar di perut Nandang, Karena Nandang yang kali ini menariknya agar tangan itu di sana. Sebab Naila sempat tak berani melakukannya. Mengira Nandang marah padanya yang tetap saja mempertahankan hubungannya dengan denga Heru.


Padahal ia hanya sedang menipu dirinya, sepanjang malam Naila duduk membuka diarynya. Di sana semua tertumpah jelas, berapa kali ia di kasari oleh Heru. Benar, tak sekali Heru mengajak mereka putus saja, sebab Heru tak suka dengan aturan yang ayah Naila terapkan. Yang baginya bagaikan pacaran dengan anak SMA yang sedang backstreet. Tetapi Naila selalu punya alasan yang membuat Heru mengurungkan keinginannya untuk mengakhiri hubungan mereka.


Sejak kejadian malam itu, Heru tak pernah menghubungi Naila tentang apapun. Dari kabarnya hingga basa basi seputar progress dietnya. Dan, anehnya kali ini Naila baik baik saja. Juga tidak kasak kusuk bingung memikirkan pria kasar itu. Waktunya lebih banyak ia habiskan untuk menemani Euis dan Andini di rumah. Ia belajar memasukan pakaian dalam plastic laundry, juga belajar mencuci pakaian.


Di rumah Naila punya ART, sehingga pekerjaan itu tak pernah ia lakukan. Hanya memasak yang ia sering geluti bersama ibu dan youtube. Tapi juga tidak dengan mencuci bekasnya. Nandang tak benar marah dengan Naila seputar hubungannya dengan Heru. Sehingga mereka kembali akrab dan makin dekat.


Hingga tiba masa, ayah dan ibu Naila kembali dari tanah suci, Naila pun kembali ke kehidupan normalnya kembali. Tinggal di rumah besarnya, bersama kedua orang tuanya. Jauh dari kehidupan keluarga Nandang yang hangat. Betapa ucapan terima kasih kedua orang tua Nandang hampir tak berhenti terucap untuk Nandang juga Andini, karena telah menjaga Naila dengan baik.


Jangan tanya oleh oleh yang kedua orang tua Naila bawakan untuk keluarga itu, tentu saja sangat banyak. Mulai dari makanan, pakaian hingga pajangan yang dapat mereka gantung di dinding rumah keluarga Nandang.


Satu purnama berlalu, tiba waktunya bagi Nandang akan pergi KKN di desa yang sudah di tentukan. Dua bulan lamanya ia tak akan bisa berada di rumah dengan intens. Semua pekerjaan antar jemput pakaian ia prcayakan pada Andini. Hanya satu yang tak bisa ia delegasdikannya. Yaitu rasa rindunya pada Naila, yang telah terbiasa ia sambangi beberapa minggu terakhir. Maka Malam itu ia nekat saja, akan main ke rumah Naila. Dan jika di ijinkan, mungkin ia akan mengajak Naila keluar seperti biasanya.


“Bismilahairahmanirahim.” Doa Nandang dalam hati.


“Nandang.” Kejut Bagus, saat ia akan keluar rumah mendapati Nandang sudah berdiri akan memencet bel di depan rumahnya.


“Assalamualikum pak.”


“Walaikumsallam, Nan. Apa kabar?”


“Kabar baik pak. Mau main sama Nai.” Dengan satu tarikan nafas dan kaki yang sedikit bergetar Nandang bersuara.


“Alhamdulilah. Kebetulan kalau begitu. Ini Bapak dan ibu ada undangan resepsi pernikahan. Nai ga ikut, syukurlah jika ada kamu menemani dia, timbang hanya sama bibi.” Jawaban itu bagai oasis bagi Nandang. Bukankah itu bagai gayung bersambut.


“Oh… begitu. Apa Naila boleh Nan ajak keluar? Ke café mungkin?” Nandang memberanikan diri meminta lebih.

__ADS_1


“Baoleh… boleh. Kalau anaknya mau.”


“Tapi pakai motor saja pak.”


“Mau jalan kaki juga terserah kalian lah.” Kekehnya lalu berangkat bersama istri tercinta.


“Jangan sampai larut malam ya Nan, hati hati.” Pesan ibu Naila dengan wajah senyum merekah.


“Ayah… tumben Nan main sama Nai kita.” Tanya bu Tatik pada suaminya.


“Hah… iya ya. Ayah lupa tanya juga tadi.”


“Apa mereka punya hubungan lebih dari teman?” tanya Tatik lagi.


“Masa hal itu ibu tanya sama ayah, ya tanya Nai lah.”


“Tapi, bukannya pacar Nai itu Heru. Tapi sejak kita pulang Umroh, kita belum jumpa Heru ya.” Tatik mengingat ingat.


“Huum… masih inget saja. Eh, jangan jangan malam ini kita ketemu Joko lho Yah. Siap siap cemburu aja.”


“Ngapain, dari jaman baru lulus sekolah saja, Bagus udah di pilih Tatik jadi suami. Apalagi sekarang, yang sudah punya anak satu, ngapain cemburu. Ayah tuh... udah menang kemana mana lho dari mas Joko mu itu.” Ledek Bagus yang suka bercanda pada istrinya.


“Iya… pak Kepala Dinas. Bener dah menang kemana mana dari si Joko.” Kekeh ibu Naila memandang wajah tampan suaminya.


Di depan rumah Naila speeclesh melihat ada Nandang sudah menungguinya, Naila tak tau ada Nandang, hanya setelah ART mereka memanggilnya, baru ia keluar dan kaget akan kehadiran lelaki yang diam diam selalu hadir di dalam hatinya. Tak tau mengapa, setiap kata kata Nandang selalu melekat dalam relung hatinya. Bahkan setiap penjelasannya tentang pacaran beberapa minggu lalu sangat ia cerna dan ia pikirkan dengan keras.


Sehingga Naila hanya menunggu waktu yang tepat saja untuk memutuskan Heru. Ia sudah sadar, sampai kapan ia bertahan dengan pria seperti Heru. Namun, ia belum punya alasan yang kuat untuk memutuskan hubungan mereka. Jika di hitung ini sudah minggu ketiga mereka tak saling berkomunikasi. Dan Naila baik baik saja, tidak ada rindu untuk Heru, tak ada resah menggerayangi pikirannya walau tak lagi tau kabar pria yang berstatus sebagai kekasihnya itu.

__ADS_1


Apa Heru sungguh tak ada atau memang tak pernah ada dalam relung hatinya. Toh, tak pernah ada yang bergetar saat ia bersama dengan Heru, tidak seperti bersama Nandang. Yang secara ia tak sadari bahkan dapat membuatnya tersenyum sendiri saat hanya mengingat masa masa bersama Nandang kurang lebih dua minggu yang lalu, selama empat belas hari bersama.


Semudah itukah Naila berpaling dari Heru?


Ah, apakah Naila telah berpaling hati?


“Kak Nan… sudah lama?”


“Sejak bapak dan ibu pergi ke kondangan Nai.”


“Oh, sempat ketemu ayah?”


“Iya, kak Nan juga sempat pamit mau ngajak Nai jalan tadi.”


“Masa… di ijinkan?”


“Ya iyalah… mau?”


“Pasti mau dong. Bentar ya kak. Cari jaket dulu, pake motorkan?”


“Ga … Nai. Pake Helikopter.” Canda Nandang.


“Hahahaa… bentar ya kak.” Pinta Naila pada Nandang agar menunggunya.


“Kita kemana?” tanya Nandang pada Naila yang selalu tanpa di minta sudah melingkarkan tangannya pada Perut Nandang.


“Ke Café A’Stronge saja.” Pinta Naila tiba tiba ingat nama café yang sering ia dan Heru datangi berdua.

__ADS_1


“Tunjuk jalan ya Nai.” Jawab Nandang yang sudah semakin di serang Naila dari belakang, dengan alasan menunjuk jalan agar mereka tidak tersesat.


Bersambung…


__ADS_2