PEJUANG NIP

PEJUANG NIP
BAB 27 : NALURI LELAKI


__ADS_3

Nandang anak laki laki beranjak dewasa, yang selalu di cekoki akan hal hal kebaikan oleh emaknya. Tak boleh berpikiran negatif dan selalu wajib menolong orang yang mengalami kesusahan.


Nilai nilai kebaikan sudah mendarah daging di kepalanya. Maka saat Noni terlihat terkapar lemas di atas trmoat tidur, Nandang tak punya alasan untuk menolak untuk membantu Noni.


"Maaf, permisi tante. Bagian mana yang Nan bisa usap?" polosnya Nandang yang masuk perangkap tipu muslihat sang pemain senior itu.


Noni hanya menggunakan underware bentuk segitiga. Sedangkan bagian atas tubuhnya sudah tidak menggunakan apa apa. Tetapi tidak serta merta ia tunjukkannya pada Nandang. Saat ia dalam selimut, ia langsung membalik tubuhnya. Agar bongkahan kembar kebanggaannya itu tidak Nandang lihat


Setelah dalam posisi tengkurap, barulah pelan pelan Noni menurunkan selimut demi menunjuukan punggung putih mulusnya pada Nandang. Agar segera di eksekusi oleh bocah remaja akhir itu.


"Maaf merepotkan ya Ndang. Beneran badan tante linu semua. Jam segini mana ada tukang pijat yang mau datang ke sini." ujar Noni menyerahkan se botol minyak gosok agar Nandang segera aksen.


"Maaf ya tante. Ijin ya.... ini tangan Nandang nemplok di punggung tante. Bismillahirohmanirohim." Doa tulus Nandang memulai kegiatannya.


"Iya silahkan Nan. Aduh... tante sebenarnya ga enak lho ini, ngerepotin kamu." Noni pintar berakting dong, serasa dia benar korban penyakit pegal linu akut.


"Ga papa, kerjaan Nan sudah selesai kok tadi. Terakhir memang ya di rumah tantr ini. Tapi ternyata, bukan rumahnya yang kotor, tapi tante yang di penuhi angin begini." Noni tersenyum senang, bangga angin yang bersarang di dalam tubuhnya. Angin membawa nikmat.


"Pijatan kamu enak juga Ndang." Pujinya pada Nandang. Padahal Nandang cuma mengusap dan sedikit menekan beberapa bagian di punggungnya.


"Masa...?"


"Ndang biasa mijet ya?" tanya Noni yang merasa nyamanvada teman ngobrol.


"Ya... sejak emak sakit. Selain jadi tukang cuci dan bebersih. Nan juga harus bisa jadi ahli urut urat tante. Di ajarin terapis, katanya biar aliran darah lancar." Ujar Nandang jujur.


"Pantesan usapanmu beneran enak, karena sudah punya pengalaman pijat di titik titik aliran darah ya Ndang. Bahkan lebih enak dari bibi yang biasa pijat aku lho, Ndang." Puji Noni, entah benar atau tidak. Yang pasti agar Nandang tidak merasa risih bersamanya di dalam kamar tersebut hanya berduaan.


"Emangnya biasa tante di pijat bibi? Kenapa tidak di panggil tadi?" tanya Nandang masih dengan sungguh sunggub menijat punggung mulus di depannya.

__ADS_1


"Sakitnya datang baru malam. Sedangkan si bibi dan orang awam lainnya mana sudi mampir ke komplek ini di malam hari. Kamu taukan di sini tuh sarang maksiat. Tidak semua orang mau keluar masuk sesukanya di sini tanpa pikiran buruk." Ujar Noni tentu bertujuan mengambil hati Nandang dengan jurus berbeda dari biasanya. Ia tau, tipe Nandang polos dan pasti mudah jera. Maka Noni berusaha bertingkah manis dan pelan untuk memperdaya Nandang sampai berhasil di milikinya.


"Kenapa kamu diam Ndang?" tanya Noni karena Nandang tidak menanggapi ucapannya tadi.


"Ah... tidak apa apa." Jawabnya singkat.


"Kamu ga takut kerja di sini Ndang?" tanya Noni lagi.


"Takut apa tante?" Nandang balik bertanya.


"Ya takut di kira orang kamu kerja apa gitu di sini." Tukas Noni.


"Ngapain takut dengan omongan orang tante, Nan yang tau ngapain aja di sini. Takut itu sama Allah. Lagi pula kalau Nan ga kerja di sini, mana bisa punya uang untuk obati ibu dan bayar keperluan kuliah juga mencukupi kebutuhan sehari hari." jawab Nandang klise.


"Selama kerja di sini kamu nyaman, Ndang?" pancingnya pada Nandang.


"Allhamdulilah, sudah lebih setahun bekerja di sini. Kami semua senang saja." Jawabnya yang memang selalu bersyukur pendapatan yang mereka peroleh dari sana.


"Tante ini lucu, unfaedah banget tante godain Nan. Wong Ndang dapat duit dari tante, kok di goda goda." Kekeh Nandang tak mengerti.


"Maksud tante di sini tuh tempat orang jual diri, usil juga, kejam ada. Ga terpengaruh gitu? Kali mau coba pekerjaan yang bisa hasilin uang lebih banyak lagi dan tidak secapek bebersih lho, Ndang." Noni tentu menggiring obrolan itu dengan halus.


"Tante... ga ada hasil yang mengkhianati usaha. Kalo kerjanya rajin pasti hasilnya banyak. Ga mungkin lah, cuma goyang goyang kaki bersantai ria, tetiba di kasih uang. Itu namanya sulap." Papar Nandang dengan pikiran bersihnya.


"Huuummm iya juga sih. Oke deh Ndang. Tante udah merasa baikan, tapi agak bahaya efek pijitanmu ini." Ujar Noni memutar tubuhnya jadi mode telentang.


Gerak slow mation dong dan seolah lupa menarik selimut yang melorot tadi, agar mata suci Nandang ternodai.


Gleeekh.

__ADS_1


Nandang menelan salivanya, saat bongkahan kembar milik Noni yang memang berukuran tidak kecil, bahkan montook. Tentu berbeda dengan milik Puspa yang biasa ia bersihkan, tiap mandi biasanya.


"Oh... maaf Ndang." Noni seolah terkejut dan segera menyambar selimut yang tadi melorot hingga perut langsingnya.


"Astagafirullahalazim." Dzikir Nandang segera buang muka.


"Maaf Ndang. Bisa tolong ambilkan pakaian tante di lemari itu ya. Tanta malu bila berdiri. Nanti selimutnya melorot lagi." Pintanya lembut.


Nandang segera meloncat dan berdiri lalu berjalan menuju lemari yang Noni maksudkan. Membuka lemari itu, kemudian memandang bingung pada deretan pakaian di dalam sana.


"Yang mana tante?" tanya Nandang bingung.


"Terserah ambil yang paling atas sebelah kiri ya." perintahnya.


Kemudian Nandang mengambil sebuah dress panjang, tali satu dengan leher dada yang sangat rendah itu. Lalu menyerahkan pada Noni dengan sopan.


"Makasih ya Ndang." Ujarnya kemudian memasang pakaian tadi untuk membalut tubuh se ksinya.


Haiiisssh. Kain baju itu tipis, walau bermotif bunga bunga. Tetapi rendahnya bagian leher itu, ternyata tidak membantu untuk menutupi bongkahan kembar yang tidak berkain renda sebagai lapisan di dalamnya.


Garis belahan itu sangat jelas terpampang, bahkan pucuknya nyembul menantang tak dapat tersembunyi dari balik kain dress tadi. Dzikir memang sempat terucap tadi, tapi mata Nandang tenyata berkhianat, ia terpancing untuk mencuri curi lihat bagian yang semoat ia lihat tanpa lapisan apapun tadi.


Jakun... jakun Nandang naik turun padahal tidak ada bukit dan lembah di tenggorokannya. Huum... bukankah Nandang sudah 18 plus, dia punya organ tubuh yang sehat serta normal. Seketika naluri kelelakiannya aktif dengan alami. Tetapi berusaha untuk tetap tenang.


Noni berjalan mengambil dompetnya. Lalu memgambil tiga lembar uang seratus ribuan dan menyerahkan pada Nandang.


"Wah... Nan belum bersih rumah tante." Tolak Nandang.


"Sudah... pulang sana. Besok lagi ke sini bersih bersihnya. Bawa aja kunci rumah tante. Mami Onel lagi ga ada tuh." Ujar Noni membalik tubuh Nandang lalu mendorongnya keluar pintu.

__ADS_1


Nandang bungkam, tak punya pilihan selain patuh untuk melangkah menuju pintu keluar rumah Noni. Peluhnya besar sebiji jagung, sebab bongkahan kembar tadi di buat Noni melesak lesak di punggung belakang Nandang.


Bersambung...


__ADS_2