PEJUANG NIP

PEJUANG NIP
BAB 46 : NANDANG GEREGETAN


__ADS_3

“Bercanda Nai. Gitu aja mosi mosih nih anak gadis.” Nandang menarik tangan itu dan memaksa Naila untuk duduk dempet dengan tubuhnya. Nandang memberanikan merangkul bahu Naila kedalam pelukannya.


“Mau putus atau jadian saat pacaran. Pastikan suasana hati sedang tenang juga tidak dalam keadaan marah. Jadian pacaran itu harus di pikirkan matang-matang. Apakah benar benar telah jatuh cinta padanya, dan tak akan menyesal memilihnya menjadi pasangan yang lama. Apakah dia orang yang membuatmu tak bisa tidur karena memikirkannya dan selalu merindukannya. Sama halnya dengan putus. Harus di pikirkan baik-baik, jangan sampai menimbulkan kekecewaan di kemudian hari darfi kedua pihak. Agar setelah putus, kita tidak menambah dertan musuh, melainkan teman. Karena sudah banyak waktu yang kita lewati dalam kurun waktu yang lama.” Nandang sudah mengeluarkan ilmu ceramahnya. Padahal sendirinya tak pernah punya pacar. Hanya pengalaman dari orang orang terdekatnya yang membuat ia bisa memikirkan dengan matang akan perasaan tersebut.


“Sepertinya… sejak awal hubungan kami memang rancu kalau begitu kak.”


“Maksudnya…?”


“Nai menerima Heru tidak berdasar.”


“Gimana?”


“Jadi pas waktu itu tuh, Nai sebenarnya ga kenal sama Heru. Dia ujuk ujuk aja sering datangin kelas Nai. Terus getol ke rumah Nai, suka bantu bikinkan tugas gitu. Ga lama, paling 2 minggu. Terus dia nembak deh. Katanya mau jadi pacarnya atau ga…?”


“Terus…?”


“Ya, Nai ga punya alasan nilak kan. Dia baik, perhatian juga baik. Ya Nai terima deh.”


“Terus..?”


“Ya… jalan sampai sekarang.”


“Nai cinta sama dia?”


“Nah itu dia kak. Yang pasti Nai terbiasa dengan perhatiannya, terus tuh. Dia baik.”


“Baik gimana?”


“Ya … baik. Karena bisa negrtiin Nai.”


“Ngerti gimana?”


“Itu dengan aturan yang ayah terapkan. Yang kami ga boleh jalan sampe selarut ini. Ga boleh lama di luar rumah berdua duaan. Jadi pacarannya ya di rumah saja. Dan dia ga protes akan semua aturan ayah. Dia baikkan?”


“Oh… terus kalau dia ngatur tentang berat badanmu?”


“Oh … itu. Itu sih baru setahun belakangan ini saja. Sejak Nai sering minta di ajak jalan berduaan pake motor, dan itu hingga sekarang tidak pernah ia penuhi.”


“Alasannya?”

__ADS_1


“Malu.”


“Dia bilang lansung?”


“Iya.”


“Kamu ga tersinggung.”


“Udah biasa kak. Awalnya aja aku baper, selanjutnya. Ya omongannya selalu gitu. Nyakitin sih, tapi kalo ga gitu, Nai emang suka lupa rem makan.”


“Kak Nan bingung nih. Dia pacar atau tutor kurus sih Nai?”


Naila hanya terdiam.


“Jawab jujur deh, kamu pacaran sama dia demi apa?”


“Demi apa ya..?”


“Kok bingung?”


“Kamu merasa nyaman dengannya?”


“Kamu sering kesal padanya?”


“Iya, apalagi kalo sudah marah soal Nai gendut.”


“Kamu tau tujuan pacaran?”


“Ya biar di anggap laku lah.”


“Ya sudah. Kalau pola pikirmu tentang konsep berpacaran saja begitu, berarti siapapun yang datang 3 tahun lalu nembak kamu. Kamu terima daripada kamu di bilang jomblo.” Sengit Nandang tiba tiba meradang.


“Ya ga gitu juga. Ih gimana sih. Jadi bingung ngejelasinnya.”


“Mungkin definisi kita beda konsep Nai. Jadi memang sulit untuk di cerna.”


“Kalau versi kak Nan gimana?”


“Pacaran bagiku adalah sebuah hubungan antara laki laki dan perempuan yang saling memiliki ketertarikan secara fisik dan mental, yang membuat keduanya ingin saling selalu bertemu dan berbagi kisah sedih dan duka. Berkomitmen saling mengenal pribadi satu dan lainnya dalam kurun waktu yang tidak sebentar." Nandang berhenti sebentar untuk bernafas.

__ADS_1


"Jika dalam proses tersebut mengalami kendala, ketidak cocokan atau merasa bosan, jengah dan tawar rasa, maka bisa di sepakati untuk mengakhiri hubungan tersebut, dengan kesepakatan kedua belah pihak secara sadar. Tetapi jika, rasa keduanya saling mengebu, bahkan saling rindu apalagi berujung kedekatan fisik yang semakin di luar batas kewajaran, maka perlu di sepakati ulang, hubungan itu sebaiknya di resmikan saja ke tahapn berikutnya, yaitu pertunangan atau perkawinan. Agar hubungan tak bablas berujung dosa.” Lanjutnya hampir tak berjeda.


Plokh… plokh


Naila bertepuk tangan ala ala pa Tarto, kagum dengan definisi yang Nandang paparkan seolah sedang presntasi pada dosen pembimbing saja.


“Hm… fix kak. Hubungan kami tidak sehat dari awal kalau begitu. Nai selama ini hanya merasa senang, walau berat badan Nai berlebihan, tapi ada cowok yang naksir Nai itu bagi Nai adalah sebuah prestasi dan kesempatan yang tidak boleh di lewatkan. Lalu saat menjalankan hubungan itu, jujur Nai tidak bahagia, tapi Nai terlalu naif. Ingin mematahkan kepercayaan orang banyak. Bahwa mempertahankan itu lebih sulit daripada mendapatkan. Nai tidak mau dikira pacaran hanya seumur jagung. Heru sering kak, ngajak putus. Tapi Nai yang selalu pertahankan. Nai tidak yakin akan dapat kekasih lagi.”


“Nai… pacaran itu supaya bahagia. Tapi kenapa kamu menyerahkan dirimu dalam kesakitan sendiri?”


“Ya… Nai salah. Bisa di katakana Nai tidak sanggup menyandang predikat jomblo, Nai ingin walau gendut tetap ada punya pacar cakep.” polosnya Naila.


“Demi apa? Demi kata kata orang lain? Demi pandangan orang lain?” tanya Nandang lagi. Naila mengangguk pelan.


“Nai… orang hanya bicara, kamu yang menjalankannya. Sekarang kak Nan tanya… kamu bahagia dengan pilihanmu bertahan dengan Heru?”


“Tentu saja tidak kak.”


“Lalu untuk apa kamu bertahan?”


“Demi status tadi?”


“Oh Naila… Naila. Kenapa kamu menyakiti dirimu sendiri. Lalu mau sampai kapan kamu mau bertahan dengan status memiliki pacar itu?”


“Sampai dia memutuskan aku menjadi istrinya.” Jawabnya gamblang.


“Oh Tuhan… terbuat dari apa hatimu Nailaaaa. Melek mata mu, pliiis. Saat jadi kekasihpun dia nyakitin kamu Nai. Apalagi jadi suami.” Nandang mendengus kesal, tak mengira gadisnya memiliki pikiran sependek ini.


“Selama dia masih setia, Nai akan tetap bertahan kak. Soal sikapnya yang menyakitkan. Itu hal biasa, aku juga bisa memaklumi, dia marah padaku soal berat badan. Itu karena dia sangat perhatian padaku saja.”


“Maaf Nai… lama lama bicara, ternyata kak Nan yang tidak bisa mengontrol emosi. Sulit bagi kakak menyamakan jalan pikiran kita tentang Heru, atau tentang konsep cinta itu sendiri dalam pemikiranmu.”


“Nai… mungkin gegabah menerima Heru. Terlalu cepat dan tanpa pikir panjang. Anggaplah itu satu kesalahan. Tapi, Nai selalu berusaha dalam menjalankannya dengan baik, dan mematahkan isu miring, jika kami bukanlah pasangan yang hanya seumur jagung.”


“Sudah lah Nai, Jika waktu lama berpacaran bagimu adalah sebuah prestasi. Lagi lagi kita beda pola pikir. Sebab versiku, yang penting kualitas bukan kuantitas.”


“Jadi menurut kakak… sebaiknya Nai putus saja?”


“Maaf… kakak tidak punya hak untuk itu. Sebaiknya kalian berdua bicarakan saja berdua baik-baik. Sebaik kalian sepakat saat jadian dulu.” Jawab Nandang datar. Sungguh kepalanya pusing sekarang. Bukan Heru yang ingin di cekiknya sekarang, tapi kepala Naila juga ingin di pitesnya, karena geregetan.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2