PEJUANG NIP

PEJUANG NIP
BAB 84 : SEPULUH JUTA


__ADS_3

Lamaran berlangsung sukses penuh kejutan. Nandang sungguh telah berhasil mengemasnya dengan rapi hingga tak di ketahui oleh Naila. Pak Bagus semakin merasa yakin, Nandang adalah pilihan tepat untuk putri


tunggalnya.


Tak sia-sia Nandang menunda waktu kurang lebih setahun setengah, pasca di tolak oleh ayah Naila waktu itu. Ternyata momen itu ia gunakan untuk berjongkok sebentar. Demi mendapatkan lompatan yang lebih tinngi dari sebelumnya.


Perkuliahan Nandang tinggal menunggu revisi tesisnya, artinya gelar M.H sudah semakin dekat. Nandang tak lagi mengeluh akan usaha dan pekerjaannya yang hanya sebagai tukang cuci pakaian kotor alias laundry. Ia sungguh telah berdamai dengan hatinya, menerima jalan dan ketentuan Allah agar menerima saja bagian yang akan menjadi takdirnya.


Dua bulan setelah lamaran bukan waktu yang panjang bagi Naila dan Nandang untuk meresmikan hubungan itu di depan penghulu dan para saksi. Airmata bahagia terurai di pelupuk mata Emak, Mami Onel, juga Tatik ibu yang telah melahirkan Naila.


Suasana haru biru, Ijab Kabul yang khsusuk telah jadi dengan lancar. Nandang menikahi anak seorang kepala dinas. Resepsi tentu tak mungkin hanya di lakukan di halaman rumah mertuanya. Setelah selesai acara akad nikah. Acara di lanjutkan di sebuah aula gedung serba guna yang sangat besar. Jangan tanya berapa mahar yang Nandang berikan untuk dapat menikahi Naila. Sebab, bagi Pak Bagus. Menikahkan anak adalah masih tanggung jawabnya sebagai orang tua. Ia tak menjual anak gadis semata wayangnya, maka segala beban biaya yang keluar


untuk pernikahan tersebut di tanggung bersama olehnya dan Nandang.


“Yank … sini.” Panggil Naila pada Nandang yang semalam baru saja menggaulinya dengan lembut. Menerima haknya, membuatnya kini telah sempurna menjadi seorang laki-laki dan suami.


“Heem … ada apa?” Nandang masih merasa perlu meluruskan punggungnya di atas tempat tidur empuk milik Naila, di kamar istrinya. Di kamar pengantin mereka.


“Bantu buka ini Yank. Ibu ga mau repot dengan urusan ini.” Keluh Naila seolah tengah menghadapi sebuah pekerjaan yang besar.


“Buat apa sih …?” Mereka memang sudah sholat subuh. Dan Nandang bermaksud akan melanjutkan tidurnya walau mungkin hanya 30 menit. Rencananya.


“Ini … buka angpau. Banyak nih, bantu nulis kek, atau buka kan amplopnya.”


“Harus sekarang juga … bukannya lebih baik kita pelukan saja melanjutkan yang semalam.” Goda Nandang tapi juga memindahkan posisinya mendekati Naila yang berada di bawah tepian ranjang mereka dengan posisi


tengkurap.


“Yang semalam- semalam. Sakit Yang.” Gerutu Naila.


“Heem … maaf.” Hanya itu yang Nandang ucapkan pada Naila. Ia mengakui jika ia mungkin telah menyakiti Naila semalam, tapi ia pun sama. Masih agak perih punggungnya, kena cakaran Naila yang berpegang di bahu bagian


belakangnya itu.


Kemudian, keduanya pun sudah tenggelam dalam kesibukan membuka amplop menuliskan besaran nominal sesuai nama yang tertera.


“Issh … ini siapa sih? Tebel banget Yang.” Celetuk Naila yang tugasnya untuk membuka amplop dan Nandang yang mencatatnya.

__ADS_1


“Mana …?” Nandang segera menarik amplop di tangan istrinya. Naila segera memberikan pada Nandang.


“Sosongko. Selamat menempuh hidup baru, anakku Nandang dan istri.” Nandang membaca tulisan pada luar amplop itu.


“Ayang kenal …?”


“Ini ayah angkatku. Rasanya aku pernah cerita tentang dia kan sama kamu?”


“Oh … yang penambal ban?” Naila memastikan.


“Iya.”


“Tapi ini sepuluh juta, Yang. Banyak sekali dia berikan.” Imbuh Naila agak heran.


“Masa …? Aku malah sempat kecewa. Tiga kali datang ke bengkelnya untuk mengantar undangan kita. Tapi ta pernah buka lagi.”


“Tapi ini dia datang?” tanya Naila.


“Aku ga liat ada Pak Sosongko tadi.” Heran Nandang.


“Tapi … kenapa bahkan isi amplopnya banyak gini?” Naila ikut


“Ga tau.”


“Ayang bilang, dia tukang bengkel sederhana. Tapi kenapa sampai ngasih segini banyak Yang?” penasaran Naila.


“Nanti, kapan-kapan kita berdua main ke bengkelnya ya Nai. Mau ku kenalkan sama, istriku.” Lanjut Nandang menyimpulkan sendiri. Naila hanya mengangguk setuju dengan isi kepala yang masih penuh tanda tanya.


Nandang memang masih menjalin hubungan baik dengan Pak Sosongko. Dan pertemuan itu kerap ia lakukan di tangah malam. Sebab hanya di jam itulah ia bisa bertemu dan berbincang dengan pria yang tak muda lagi tersebut.


Bahkan segala rencana dan konsep pernikahan Nandang pun selalu ia konsultasikan pada Pak Sosongko. Ia juga tau, betapa Nandang lumayan kuat dalam hal menabung keuangannya. Untuk persiapan menikah juga perkuliahan yang sudah semakin dekat selesai.


“Pagi pengantin baru …” Sapa ayah Naila saat mereka sudah di meja makan, berempat.


“Pagi ayah.” Senyum Naila terkembang pada kedua orang tuanya.


“Sudah selesai rekapan angpaunya Nai …?” tanya ibunya tanpa basa-basi.

__ADS_1


“Iya … sudah baru saja. Nanti catatan dan uangnya Nai kasih ke ibu.” Jawab Naila sambil mengambilkan nasi untuk Nandang.


“Lho kok di kasih ke ibu? Itu uang kalian.” Tukas Pak Bagus langsung merespon perkataan anaknya.


“Iya Nai, Nan. Itu restu dari orang-orang dalam bentuk uang untuk kalian. Sokongan untuk modal hidup. Pergunakan dengan baik. Mengapa ibu minta di catat? Agar kalian tau, siapa saja orang-orang yang sudah sangat mendukung pernikahan kalian.” Urai bu Tatik.


“Stt … jangan bahagia liat banyaknya. Itu utang lho.” Ujar Pak Bagus dengan senyuman.


“Maksudnya …?”


“Ya … kalo memang ada rejeki. Besok mereka yang datang merestui kalian kan juga akan punya hajatan. Ya, sebaiknya kalian juga balas kan.” Lanjut Pak Bagus menjelaskan.


“Waduuh … kita baru nikah sudah banyak utang aja dong, Nai.” Celetuk Nandang mendengar penjelasan mertuanya.


“Ha … ha… ga gitu juga. Kalo mampu dan bisa di jangkau saja Nan.” Jawab Pak Bagus.


“Iya … kami usahakan bisa balaskan ayah. Tapi …” kalimat Naila menggantung. Ingin jujur tapi merasa tak pantas untuk mengeluh pada orang tuanya.


“Tapi apa?” tanya Pak Bagus penasaran.


“Itu …”


“Apa …?”


“Itu Pak, ada yang ngasih sepuluh juta.” Nandang paham dengan yang ingin Naila sampaikan pada ayahnya.


“Waw … siapa?” Bu Tatik takjub.


“Ayah angkatnya Kak Nan.” Naila masih betah dengan panggilan itu pada Nandang walau telah berstatus suaminya.


“Ayah angkat …? Siapa?” tanya Pak Bagus ingin tau.


“Pak Sosongko.” Jawab Nandang singkat.


“Sosongko … yang badannya tinggi, kulit agak hitam dan tidak gemuk itu?” tanya Pak Bagus menghentikan kunyahannyanya.


“Iya Pak, yang biasa buka bengkel tambal ban di tengah malam.” Jelas Nandang.

__ADS_1


“Ya ampun. Sosongko itu teman ayah. Dia kan Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan di Kota Bandung ini.” Ujar Pa Bagus pelan namun mampu membuat Nandang tersedak dengan isi informasi tersebut.


Bersambung …


__ADS_2