
Naila menarik nafas berat. Merasa tak kenal dengan lelaki yang tengah menjadi lawan bicaranya.
"Kak Nan kalo sedang banyak pikiran. Sebaiknya pulang saja. Tadinya Nai hanya ingin berbagi, sekaligus berlindung dari segala kemungkinan hubungan kita. Tapi, sepertinya kak Nan sedang tidak baik baik saja." Hanya kata itu yang Naila ucapkan. Bahkan tidak mengharap pembelaan atau alasan dari lelaki itu. Ia memilih masuk dan mengunci pintu rumahnya.
Naila tidak masuk kamar, namun hanya berdiri di balik pintu. Menyembunyikan airmata yang sejak tadi ingin keluar dari sudut matanya.
Naila kecewa, kehilangan sosok Nandang yang selalu bijaksana. Baginya Nandang adalah calon pendamping hidup idaman, delapan puluh persen sifat lelaki baik ada padanya. Tapi entah, tidak untuk malam ini.
Nandang melangkah gontai, menuju motor yang terparkir di halaman rumah Naila. Ingin pulang ke rumah, ia pun sedang enggan bertemu Andini yang menurutnya tidak mengerti jalan pikirannya.
Memilih pulang ke kontrakan mami Onel baginya solusi tertepat, malam itu.
"Ndaaaang... Tumben kamu ke sini. Kangen mami ya?" Sapa mami Onel saat melihat Nandang di depan pintu.
"Mami apa kabar?"
"Untung mami ga mati, karena lama tak kamu kunjungi Ndang." celeruknya konyol.
"Maaf mii, sibuk."
"Hah... setelah jadi pengangguran perasaan makin sibuk deh Nan?" ujar mami Onel.
"Ya kan nganggur, sibuk donk cari kerjaan, mi."
"Tuh di club banyak kerjaan, banyak dapat duit juga."
"Iya banyak duit, tapi jauh jodoh." Sahut Nandang.
"Jauh jodoh gimana, perempuan di sana tinggal kamu tunjuk aja. Mau yang mana, mami jamin banyak kok yang mau sama kamu. Ga usah di bayar juga pasti sukarela nyerahin diri untuk kamu." Onel tanpa beban menyampaikan hal itu pada Nandang.
"Itu sih bukan jodoh Mi... Tapi bo doh." Jawab Nandang masih dalam keadaab waras.
"Hahaaa.... Kamu itu sudah bukan anak remaja yang mami temukan dengan polos dan wajah penuh kecemasan lagi Ndang. Kamu sudah menjadi lelaki dewasa. Sisi kelelakianmu tentu sudah memberikan signal. Kalau kebutuhan biologismu pasti sudah waktunya di salurkan dengan teratur."
"Hmmm... Tapi ga harus sama mereka di dalam sana juga." Tunjuk Nandang dengan mulutnya ke arah club, tepat di depan rumah mami Onel.
__ADS_1
"Ya sudah nikah saja. Udah ada calon kan?"
"Itu dia mi... Masalahnya."
"Kalian putus?" tanya Onel dengan nada agak terkejut.
"Putus sih nggak Mi. Hanya sedikit ragu saja dengan hubungan kami."
"Kenapa?"
"Nan malu mi."
"Gimana?"
"Kemarin Nai sudah wisuda mi."
"Ya bagus... Artinya kuliahnya sudah selesai. Nikah deh kalian."
"Tidak sesederhana itu mi. Aku belum punya pekerjaan tetap. Bagaimana Nan bisa bertanggung jawab untuk menghidupi anak gadis orang?"
"Anak gadis orang itu bisa hidup sendiri Ndang. Naah... Justru barang kamu itu yang harus di hidupkan oleh anak gadis orang itu. Ha... Ha.. Ha.." Mami Onel somplak, dengan tanpa saringan saja dia mengatakan yang tak berfaedah.
"Kamu itu lucu. Punya 3 cabang usaha Loundry masih merasa tak punya pekerjaan tetap. Kamu itu merendah atau sulit bersyukur?" ujar Onel penuh penekanan.
"Hah...?"
"Sepertinya kamu kurang survey deh. Percayalah masih ada orang yang hidupnya lebih mengenaskan dari pada kamu. Tapi tetap berani membangun rumah tangga." Onel mulai serius.
"Nan takut, ga bisa membahagiakan Nai, mi."
"Kebahagiaan seorang wanita berkekasih adalah saat di lamar pria yang sudah pernah memintanya jadi kekasih. Di beri kepastian hubungan itu akan di lanjutkan ke hal yang lebih serius. Kecuali, kamu memang sudah tak memiliki rasa cinta terhadapnya?"
"Tidak mi, justru karena Nan cinta. Maka Nan ga berani menyakiti hatinya."
"Sana ... Sana. Sana. Pulang aja. Kamu terlalu berbelit belit. Cinta ya cinta, nikah sana. Urusan sakit menyakiti itu ga akan timbul jika saling cinta."
__ADS_1
"Bukan sesimpel itu mi."
"Udah diam...! Pulang atau mami cekoki red label biar kamu tau dunia itu ga cuma soal cinta. Tapi puyeng juga." Usir Onel yang terang terangan tak suka mendengarkan curhatan Nandang.
"Dengerin Nan dulu mi."
"Pulaaaang...!!!" Perintah Onel membuka pintu rumahnya.
Onel ya begitu, tak pernah bisa bicara dengan tutur kata yang baik dan sopan. Dia selalu menyampaikan dengan kata kata dengan gamblang, sesuai jalan pikirannya saja. Mana ia peduli jika orang akan tersinggung atau tidak sependapat dengan yang ia katakan.
Bahkan ia tak sekali mengusir orang orang yang di rasakannya sudah tak sepaham dengan yang ia maksudkan.
Sebut saja Onel egois. Tapi itu lah Onel. Ger mo yang terkenal tegas, tapi tak pernah pula ada yang berani melengserkan posisinya dari tempat itu. Ia tetap, sosok yang di segani. Karena nego dengannya hanya orang-orang yang konsekuan dengan sebuah komitmen.
Nandang masih tak tenang, lagi.
Bukan solusi yang ia dapat. Hari itu iya bahkan sudah 2 kali di usir oleh dua wanita yang sama sama pernah berjasa dalam hidupnya.
Rumah Nandang memang tak jauh jaraknya dengan kontrakan Onel. Tetapi, hati Nandang belum tentram sehingga masih merasa tak mau pulang ke rumah.
Kembali ke arah pusat kota, Nandang melajukan motornya. Sekedar ingin menghabiskan sisa malam yang mungkin akan masuk ke hari yang baru. Ya. Saat itu sudah hampir setengah satu malam.
Nandang merasa ada yang aneh dengan laju kendaraan roda duanya.
Setirnya agak oleng, tempat duduknya terasa lebih bergelombang terguncang guncang.
Nandang berhenti di tepi jalan, untuk memeriksa ada apa gerangan yang membuat jalan motornya sedemikian rupa.
Nandang segera tau, mengapa jalan motornya tidak stabil. Rupanya ban motornya tak berangin. Entah bocor atau sekedar kempes. Yang Nandang rasakan sekarang adalah bingung. Bagaimana ia meneruskan perjalanannya untuk pulang di jam itu dengan keadaan motor yang bannya hampir robek terbelah dua.
Nandang mengambil waktu untuk duduk, sekedar memandang kuda besinya yang rusak. Memberikan waktu untuknya merenungi semua pilihan jalan yang ia ambil malam itu.
Seandainya setelah pulang dari tempat Onel tadi, ia langsung pulang. Mungkin ban motor itu tidak sobek.
Percuma mengeluh, toh tidak bisa banyak membantunya. Meraih setang morot, menyebrangi jalan raya yang mulai sepi. Itulah yang Nandang lakukan sekarang.
__ADS_1
Kendaraan berseliweran silih berganti, tak ada yang terdengar menghampirinya untuk sekedar menanyakan masalahnya. Tak ada yang peduli. Demikianlah hidup, semua misteri dan teka teki. Maut, jodoh semua telah di atur, bahkan tak bisa di tebak kapan tiba. Pun ban bocorpun tak bisa di terka kapan terjadi. Tak dapat di pilih kapan boleh terjadi. Sebab hidup dan kehidupan adalah skenario sang penciptanya.
Bersambung...