
Nandang memandang heran bercampur cemas melihat keadaan Naila yang pucat, lemas dan terlihat sangat letih. Mungkin karena baru saja banyak mengeluarkan cairan kekuningan dari lambungnya membuat Naila terlihat mengenaskan. Tetapi, mengapa Naila dengan santainya justru berkata ia baik-baik saja.
“Hah … keracunan kamu bilang ga papa?” suara nandang tidak pelan. Agak geram sebab Naila seolah menyepelekan kondisi tubuhnya.
“Iya, Sayang. Aku cuma keracunan.” Naila mengulang informasi dengan suara pelan.
“Keracunan kamu bilang ga papa …? Kita kedokter sekarang!” Tegas Nandang dengan nada meninggi. Selama kenal dekat bahkan sudah berstatus suami istri, Nandang tidak pernah melihat Naila sakit dan sepucat ini.
“Ga usah. Aku cuma keracunan burung kamu, Yank.” Ucap Naila berusaha tersenyum kea rah suaminya.
“Keracunan burung aku… apanya?” Nandang tidak bisa di ajak bercanda. Kedua alisnya hampir ketemu di muara hidungnya, mirip angry bird.
“Iya … ketelan air dari burung, Ayank. Jadi lemes.” Semampunya Naila tersenyum masih dengan mata yang hampir merem.
“Gimana …?” Ish … ish … ish. Nandang polos ape be go ya.
“Gimana lagi sih bilangnya?” Naila merasa gagal untuk memyampaikan berita bahagia dengan suaminya tersebut dengan istilah yang menurutnya mudah di cerna.
“Bentar, ku ambil dompet. Se enggaknya kite ke Puskesmas terdekat dulu. Mumpung masih pagi, ga ada yang antri.”
“Ini jam 6, yank. Bukan hanya ga ada yang antri. Tapi petugasnya pun belum ada yang datang.” Jawab Naila santai.
“Kamu bisa sabar kan sampai agak siang nanti, Sayang?” Nandang memundurkan langkahnya setelah tadi sempat akan ke kamar mereka.
“Ada apa sih … pagi-pagi sudah rame?” Emak rupanya terusik dengan perdebatan yang terjadi di dapur sepagi itu.
“Nai sakit Mak. Muntah-muntah sejak tadi. Di bawa ke dokter ga mau. Katanya ga papa.” Jelas Nandang menyiapkan kursi untuk emaknya duuduk di hadapan Naila.
“Kamu telat Nai …?” tanya Emak yang kesehatannya memang jauh lebih baik.
__ADS_1
“Iya Mak. Udah Nai periksa juga kemarin sore.”
“Hasilnya …?” tanya Emak pada Naila. Dan isi dialog itu masih belum Nandang pahami dengan jelas.
“Garis dua, Mak.” Jawab Naila Singkat.
“Sayang … hamil?” terka Nandang memegang tangan Naila di depannya.
“Udah di bilang ketelan airmu. Masih ga ngerti juga.” Cemberut Naila pada Nandang.
“Ya Allah. Bilang hamil aja muter-muter. Alhamdulillah … kita bakalan jadi orang tua nih, Yang …?” Nandang baru ngeh, tak paham dengan bahasa kiasan yang Naila gunakan sejak tadi. Emak dan Naila sama-sama terkekeh menyadari betapa lelaki kesayangan mereka itu sungguh pasih lugu.
“Bantu jaga Nan. Biar kehamilannya sukses, jangan kasih beban pikiran dan pekerjaan berat. Kasih yang bikin istrimu bahagia saja. Jadi anak kalian nanti sehat.” Pesan Emak dengan mata berkaca-kaca. Terharu jika kini Naila sang menantu akan memebrikan ia cucu. Andini kini pun sudah hamil 7 bulan. Namun, jarak jauh membuatnya tak bisa ikut menikmati momen kehamilan putrinya tersebut.
“Insya Allah.” Jawab Nandang.
“Jadi kita ga usah buru-buru ke Puskesmas kan, Yang?” tanya Naila pada Nandang.
“Siap suamiku, Sayang.” Jawab Naila yang sudah merasa baikan.
Demikianlah hari-hari Nandang kini mulai sedikit berubah, dengan tingkah Naila yang kadang berubah mood tak menentu. Kebetulan Kuliah Nandang sudah selesai, sehingga ia punya banyak waktu untuk memeperhatikan sang istri yang ngidam dan mabuk berat.
Kesibukannya bekerja sebagai pegawai magang di kantor pengacarapun tak banyak menyita waktunya, sehingga Nandang benar bisa menikmati masa kehamilan Naila yang sangat mereka inginkan dengan antusias.
Berita kehamilan Naila tentu segera di ketahui oleh kedua orang tuanya. Maka tepat di usia kehamilan itu memasuki empat bulan. Mereka pun mengadakan acara Tasyakuran. Yaitu acara pengajian di mana sebagian besar umat Muslim mempercayai bahwa pada bulan ke 4 inilah. Allah SWT mengutus malaikat untuk meniupkan ruh kedalam janin yang terdapat dalam Rahim ibu.
Acara di gelar di kediaman orang tua Naila, bukan karena malu untuk melaksanakan di rumag Nandang. Melainkan Pak Bagus dan Bu Tatik yang meminta. Sebab Naila adalah putri satu-satunya, sehingga mereka tak mau sekecil apapun melewatkan momen bahagia buah hati mereka yang tak lama lagi pun akan memiliki buah hati.
Wajah Nandang sumringah saat semua persiapan acara sudah ia siapkan dengan matang. Namum, ada hal lain yang membuat matanya lebih berbinar-binar bahagia.
__ADS_1
“Yang … yang. Tolong baca. Apa aku salah mengartikannya …?” Nandang masuk kamar Naila bahkan tak peduli jika istrinya akan mengganti pakaian, sebab tamu sebentar lagi akan datang.
“Apaan sih bikin kaget iih.” Sewot Naila agak kesal pada Nandang.
“Maaf. Ini tolong baca sebentar.” Nandang menyodorkan ponselnya, setelah baru saja mendapat kiriman email.
“Berdasarkan Pengumuman Panitia Pelaksanaan Seleksi No.01/Pansel-CPNS/MA/IX/2022. Tentang Peserta Lulus Seleksi Mahkamah Agung RI Tahun 2022. Nandang Batuah. Memenuhi syarat. Untuk lebih jelas, berikut pengumumannya : bla –bla …” Naila tak habis membaca isi email itu. Matanya sudah berembun, tangannya segera memeluk tubuh Nandang suaminya. Tak menyangka, akan jalan Allah yang manis untuk rumah tangga mereka.
“Kak Nan …” hanya seruan itu yang mampu Naila ucapkan dalam tangis bahagianya. Rangkaian kata apa yang dapat Naila sampaikan untuk kesuksesan suaminya. Bukankah ini mimpi Nandang selama ini. Menjadi CPNS, Mendapatkan NIP yang begitu ia idam-idamkan selama ini.
Nandang memang berhenti mengeluh, bahkan tak lagi meminta dengan paksa pada Tuhan. Namun, bukan berarti ia tak berhenti berusaha menjejal ijazah SH, MHnya. Dan ternyata, ia justru mendapatkan pekerjaan yang tak pernah ia khayalkan sama sekali. Menjadi Pegawai di Mahkamah Agung RI.
“Selamat ya Kak, Selamat bertugas di pekerjaan yang selama ini jadi impian kak Nan.” Ungkap Naila yang sudah mengurai pelukannya.
“Terima kasih doa dan dukunganmu, Sayang. Saat aku meminta sendiri ternyata Tuhan belum kabulkan. Dan setelah dalam sujudmu, selalu kamu sematkan namaku. Allah mengijabah pintamu. Kamu adalah malaikat bagiku. Lihatlah betapa baiknya Allah mengatur hidupku. Ia berikan aku bidadari, pun kini buah hati yang sudah hidup dalam rahimmu. Bahkan NIP pun kini Allah percayakan untukku. Dan semua itu bukan karena aku. Tetapi karena kalian, wanita tercinta dan buah hati yang harus aku nafkahi dengan baik.” Nandang berurai air mata mengucapkan rasa syukurnya. Tak dapat ia selami karya Allah pada hidupnya. Saat hati berserah pasrah, bahkan ikhlas menerima ketentuan Allah. Di situlah Tuhan melakukan bagiannya. Untuk menyempurnakan semuanya.
Tamat.
Haii readers
Bahagia, bangga dan lega bisa menuliskan kata TAMAT pada karya ini.
Mohon maaf tak bisa merangkai kalimat yang lebih indah, setidaknya Author sudah konsisten dengan pilihan judul yang di angkat. Dan bertanggung jawab hingga ini berakhir.
Terima kasih untuk jempol, mawar, kopi dan vote yang pernah melayang pada karya ini.
Mohon tetap bertahan di kolom Fav. Sebab minggu dapan akan ada notif karya terbaru yang sedang Author siapkan untuk readers tersayang.
Semoga karya Author selalu di nanti dan bisa di kenang dihati para readers sekalian.
__ADS_1
Wasallam.