
Entah mendapat kekuatan dan dorongan dari mana yang membuat Nandang akhirnya mengeluarkan kata kata yang selama ini hanya ia kungkung dalam bingkai hatinya.
Perasaan yang bahkan sejak ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama ia simpan dan tutupi rapat.
Dari ia tak tau maknanya cinta hingga kini telah mengerti dan siap mengaplikasi kalimat itu, tetap dengan orang yang sama Naila Humairah anak pa Bagus dan bu Tatik.
"Ga usah takut gendut. Pokoknya mau kamu kecilan atau gendut lagi. Kak Nan tetap cinta sama kamu Nai. Jadi pacar ku ya..." Kalimat itu sederhana, bahkan hanya sayup terdengar. Tapi itu mengandung kejujuran yang maha tinggi. Nandang sendiri hanpir tak dapat menguasai hatinya yang meletup letup, berharap cintanya tak bertepuk sebelah tangan.
"Hah...? Kak Nan bercanda? Segini siang bolong so' so' an katakan cinta." Naila berusaha tidak terlihat melambung jauh terbang tinggi akibat euforia telah di tembak lelaki yang akhir akhir ini membuatnya resah, gelisah juga rindu.
"Kak Nan tidak pernah bercanda dengan kalimat seperti itu Nai. Kamu tidak tau saja, suasana hatiku sekarang sedang rusuh mengalahkan demo di bundaran HI yang lagi viral." Ucap Nandang setelah agak tenang.
"Tuh kan kak Nan bercanda lagi." Lanjut Nayla.
"Sudah kubilang. Aku tidak pernah bercanda soal perasaan cintaku padamu, Nai. Tapi jika memang hal itu tidak bisa kamu terima, setidaknya aku sudah pernah jujur padamu." Sendu suara Nandang mendadak lesu. "Bukannya Nai tidak percaya, Kak. Hanya mengapa semua ini seolah seperti mimpi di siang hari ya ?" Naila meyakinkan yang ia dengar bukan khayalan belaka.
"Ya aku tahu alasanmu, Nai. Aku sudah tau dari Andini kalau sekarang kamu memang sedang didekati oleh seorang pengusaha muda yang sudah mapan. Ya... lagi-lagi aku kalah dalam soal kemapanan. Apalah aku, Nai. Hanya seorang anak janda sederhana, bahkan seorang mahasiswa yang garapan skripsi pun belum dimulai. Aku tahu itu Nai. Dan aku tidak bisa menjanjikan apa-apa padamu, aku hanya mengungkapkan perasaanku saja. Sebab perasaan ini seperti bisul. Dipendam makin bengkak, dipecahkan bikin perih." Nandang menyimpulkan sendiri.
"Kenapa perih?" tanya Naila singkat.
"Ya perihlah, kalau sudah lelah berkata jujur tapi dikira bercanda. Lebih parah lagi apabila ditolak. Karena kamu telah memiliki calon yang lebih mapan dariku." Nandang menguatkan hatinya.
__ADS_1
"Calon yang lebih mapan itu siapa lagi?" tanya Naila agak bingung.
"Bukannya kamu lagi dekat dengan seorang pengusaha?" tanya Nandang.
"Yang mana?" Naila makin bingung. "Banyak banget ya Nai, yang dekatin kamu?" tanya Nandang lagi.
"Ga... ga gitu Kak. Bukan yang mana... aduh gimana sih? ya maksudnya Nai, nggak pernah merasa dekat dengan seseorang akhir-akhir ini selain kakak. Tapi yang dibilang lagi deket dengan pengusaha itu bukan Nai, tapi Andini. Ngarang tuh Andini. Aku sih cuma nunggu aja. Kapan mereka bisa jadian, dan sepertinya lelaki itu serius dengannya, Kak."
"Serius kamu?"
"Ngapain juga bercanda urusan seperti itu, Kak."
"Ya sudahlah, terserah deh Andini mau bohongin Kakak atau gimana. Yang paling penting bagiku sekarang aku udah jujur. Lalu gimana dengan tawaran ku? Apakah kamu mau jadi kekasihku Nai?" ulang Nandang kembali bersemangat.
"Hah... jadi aku di terima ya Nai?" tanya Nandang tak percaya. "Sepertinya Kak Nan diterima tanpa seleksi deh, Kak. Langsung ... iya deh." Jawab Naila dengan senyum cantik menawan.
"Alhamdulillah." Dua tangan Nandang ia usap penuh syukur karena cintanya di terima Naila.
"Wah makasih ya Nai." Lanjutnya tak dapat menutupi rasa senangnya.
"Sama-sama Kak, Nai juga lumayan lama menyadari debaran debaran aneh di dalam hati Nai. Sungguh sangat berbeda dengan perasaan sebelumnya dengan Heru atau lelaki manapun. Dan itu Nai yakini bahwa itu mungkin cinta. Walau Nayla juga sempat ragu. Apakah Nai bisa mendapatkan Nandang." Jujur Naila pada Nandang yang terkejut dengan pengakuan Naila.
__ADS_1
Baginya Nandang adalah sosok lelaki yang sempurna untuk dijadikan kekasih bahkan mungkin calon imam nya kelak.
Di matanya Nandang adalah laki-laki yang bertanggung jawab, hangat dan sangat cinta pada keluarga. Naila ingin menjadi bagian yang dicintai oleh Nandang selain emak dan juga Andini, tapi buru-buru ia tepis keinginannya tersebut mengingat bahwa Nandang sebelumnya juga sudah tahu jika dia pernah memiliki kekasih, mungkin saja Nandang akan berpikir jika ia adalah lelaki kesekian yang ada di dalam hati Naila, untuk itu hanya memilih curhat dengan Andini saja tentang perasaannya pada Nandang kakak sahabatnya itu, sekaligus untuk memastikan bahwa Nandang benar-benar tidak memiliki kekasih.
Nandang meraih tangan Naila yang teronggok di atas meja sebelum pesanan makanan mereka datang.
"Aku ingin bilang sama kamu Nai, bahwa di manapun aku berada dan apapun yang terkadi, aku akan selalu memikirkanmu, dan waktu yang telah dan akan kita habiskan bersama adalah waktu yang paling membahagiakan, Nai." Tangan Naila di raih Nandang pelan pelan, dan setelah tangan keduanya saling bertaut. Mereka saling melempar senyum. Menyadari tangan mereka berdua sama sama dingin dan basah. Karena keringat dingin. Grogi bercampur bahagia memenuhi hati sanubari keduanya.
"Kak Nan, jangan lama lama liay Nai."
"Kenapa?"
"Malu." Jawabnya tersipu.
Keduanya reflek melepas pertautan tangan masing masing saat pesanan makanan mereka sudah di antar oleh pelayan cafe tersebut.
Matahari sudah tidak di posisi tengah, artinya wanktu pun telah bergerak ke tengah hari. Nandang dan Naila memutuskan untuk kembali ke rumah Naila. Dan sebelumnya mampir sebentar di di sebuah masjid yang tidak jauh dari tempat mereka berada sekarang.
Dengan perasaan yang sulit di ungkapkan dengan kata kata keduanya pun kembali berada di atas motor, tanpa jarak. Sebab tangan Naila tidak hanya melingkar. Karena tangan Nandang dengan posesifnya selalu terletak di atas tumpukan tangan Naila yang ada di atas perutnya.
"Nai... yang boleh di peluk kayak gini Kak Nan aja ya..." Pinta Nandang sambil menoleh ke samping kanan. Tempat kepala Naila menghadap.
__ADS_1
"Iya... kak Nan sayang." Kuda besi itu serasa kayak kuda terbang di rasakan Nandang, saking bahagia di sebut sayang oleh Naila gadis pujaan.
Bersambung...