Pelukan Terakhir Ayah

Pelukan Terakhir Ayah
Bab 12


__ADS_3

Sore hari Claudya baru sampai di rumah. Dia masuk kedalam rumah dengan hati- hati agar tidak kelihatan oleh mamanya,karna dia terlambat hari ini.


Tap...πŸ‘


Tap...πŸ‘


Tap...πŸ‘


Mama Siska bertepuk tangan melihat Claudya mengendap endapan masuk ke rumah


" Wah...enak banget ya keluyuran sampai sore. Dari mana saja kamu" ucap mama Siska meninggihkan suaranya.


" Maaf Mah...tadi Claudya..." Ucapnya gugup untuk memberitahu kan yang terjadi pada nya.


" Dasar anak tidak tahu diri. Apa kamu udah bosan tinggal dirumah ini sampai sampai leha leha diluar sana Hah..." bentak Mamanya.


Claudya hanya terdiam mendengar ucapan mamanya, sakit ya sakit sekali tapi bagaimana pun dia adalah mamanya. Semakin dia melawan semakin banyak hinaan dari mamanya.


" Cepat kamu pergi ke belakang" ucap mama nya meninggalkan Claudya diruang tamu.


Claudya langsung pergi kekamar untuk menggantikan pakaiannya walaupun seragamnya sudah kering di badan.


Setelah selesai berganti pakaian claudya langsung pergi ke belakang untuk membantu Bi Asi.


****


Dea turun dari kamar nya menemui mama nya di kamar dengan keadaan sedih tidak tahu entah kenapa.


" Mama " panggil Dea membuka pintu kamar mamanya sambil berlari.


" Ada apa sayang kok sedih begini" ucap mama nya memeluk nya.

__ADS_1


" Claudya Mah...dia menggoda pacar Dea" ucap Dea pura pura sedih.


" Dasar anak itu ngak kapok kapoknya" kesal mamanya.


" Kamu tenang aja sayang,biar mama yang urus anak itu " ucap mama nya .


" Terimakasih Mah" balas nya.


Dea hanya tersenyum penuh kemenangan. akhirnya mamanya turun tangan.


*****


Claudya membantu Bi Asi di belakang untuk menyiapkan makanan malam untuk majikannya. Mereka tertawa kecil dengan cerita Bi Asi pada masa SMA. Hanya cerita sesimpel itu membuat Claudya menghilangkan rasa sedihnya sejenak. Begitu lah mereka berdua kalau sedang mengerjakan pekerjaan rumah ada canda tawa,ada keseriusan dan lain sebagainya nya. Bagi Bi Asi , Claudya sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Bi Asi tidak ingin melihat Claudya merasakan kesedihan, kepahitan, kesakitan dengan sendiri,Bi Asi tetap bersama nya dalam apa pun itu.


" Bibi...kalau nanti Claudya lulus lulus sekolah bibi mau ngak jadi orang tua pendamping Claudya? tanya Claudya.


" Non Intan apa apa sih...kan non Intan masih punya orang tua yang lengkap,jadi mengapa harus bibi?" Bi Asi heran dengan perkataan Intan sedikit menusuk hatinya. Bagaimana mungkin Intan meminta nya untuk pendamping nya lulusan nanti.


" Usaha dulu non, bibi doakan biar tuan dan nyonya mau menjadi pendamping Claudya nanti" ucap Bi Asi sambil membersihkan sayur-sayuran.


" Yaudah Bi nanti Claudya tanya dulu. Tapi Claudya ragu Bi " ucap Claudya.


" Percaya sama Bibi, Allah akan memberikan jalan yang terbaik buat non Intan" senyum Bi asi.


" Amin ya Bi" doa Claudya.


Tiba-tiba....


" Hey...anak tidak tahu diri" panggil mamanya kepada Claudya. Siapa lagi anak yang tidak tahu diri selain Claudya dirumah ini menurut keluarganya.


" Iya Mah" ucap Claudya sambil berjalan ke arah mama nya di dekat meja makan.

__ADS_1


" Jangan panggil saya Mama,karna saya bukan mama mu. Panggil saya dengan NYONYA, Mengerti..." Ucap Mamanya meninggihkan suaranya.


" Iya Ma...eh iya Nyonya" Ucap Claudya gugup sambil menunduk.


Ada rasa sakit yang mendalam mendengar kata kata mamanya, bagaimana mungkin mamanya sendiri tidak mengakui Claudya sebagai anaknya. Sakit ya tentu sakit tapi bisakah Aku membenci nya ? bisakah aku dendam pada nya? bisakah dan bisakah. Banyak pertanyaan yang ingin Claudya tanyakan tapi tidak tahu kepada siapa.


Claudya hanya menahan rasa sakit didalam hati nya. Bagaimana mungkin dengan keadaan seperti ini dia harus menjadi wanita yang kuat, mandiri dan dewasa untuk menerima semua kenyataan.


" Mama...bisakah mama menganggap ku dirumah saja ? batin Claudya sedih .


" Saya peringatkan sama kamu ya. JANGAN DEKAT DEKAT DENGAN RAKA PACAR DEA,KALAU SEMPAT KAMU BERANI MENDEKATI NYA SAYA NGAK AKAN MENGAMPUNI MU" ucap mamanya dengan emosi dan meninggihkan suaranya.


" Iya nyonya" Claudya menunduk.


" Bagus...awas kamu melanggar nya" ucap mamanya pergi meninggalkan nya.


" Non tidak apa apa" ucap Bi Asi mendekati Claudya.


Claudya tersenyum" Aku tidak apa apa Bi".


"Jangan bohongi bibi,bibi tahu kalau disini sedang menangis" ucap Bi Asi sambil menunjuk ke arah hati Claudya.


" Ngak Bi, semuanya baik- baik saja" ucapnya kembali tersenyum.


" Yaudah kita lanjut masak saja " sambung Claudya.


Mereka berdua pun melanjutkan untuk memasak. Tak terasa hari sudah malam,waktunya keluarga nya makan malam. Tapi Pak Surya juga belum pulang kantor.


**


Happy reading πŸ€—

__ADS_1


Apakah Claudya akan bahagia ??


__ADS_2